![]() |
| Ilustrasi gantung diri (iStock) |
D'On, Parepare – Suasana akhir pekan di Kota Parepare mendadak berubah mencekam. Seorang mahasiswa berinisial MRA (21) ditemukan meninggal dunia di Cafe Alya, Jalan Mattirotasi, Kecamatan Bacukiki Barat, Minggu sore (8/2/2026). Korban diketahui merupakan karyawan kafe sekaligus mahasiswa Fakultas Ekonomi STIE Amsir Parepare.
Peristiwa ini menyita perhatian publik setelah terungkap bahwa Cafe Alya merupakan milik Wakil Ketua DPRD Parepare, Suyuti, dan korban disebut-sebut adalah keponakan langsung politikus Partai NasDem tersebut.
Informasi itu dibenarkan oleh sumber internal yang mengetahui hubungan keluarga korban dengan pemilik kafe.
“Benar, kafe itu milik Pak Suyuti dan korban adalah keponakannya,” ungkap sumber media.
Ditemukan Rekan Kerja, Polisi Turun Tangan
Kapolres Parepare AKBP Indra Waspada Yuda membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia menjelaskan, korban pertama kali ditemukan oleh rekan kerjanya setelah korban tidak terlihat dalam beberapa waktu dan dilakukan pencarian ke seluruh area kafe hingga lantai paling atas.
“Korban ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa di balkon lantai empat. Yang bersangkutan merupakan karyawan kafe sekaligus mahasiswa,” kata Indra, Senin (9/2/2026).
Rekan korban sempat mengira MRA masih bisa diselamatkan dan mencoba mendekat, namun korban telah meninggal dunia.
Dugaan Sementara: Tidak Ada Tanda Kekerasan
Pihak kepolisian segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengevakuasi jenazah ke RSUD Andi Makkasau Parepare menggunakan ambulans PSC 119.
Berdasarkan pemeriksaan medis awal, aparat menyatakan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik akibat tindakan orang lain. Dugaan sementara, korban meninggal akibat kekurangan oksigen.
“Pemeriksaan luar tidak menunjukkan adanya luka akibat penganiayaan. Dugaan sementara mengarah pada asfiksia,” jelas Kapolres.
Sempat Curhat ke Ketua RT
Fakta lain yang terungkap, beberapa jam sebelum ditemukan meninggal dunia, korban sempat mendatangi Ketua RT setempat sekitar pukul 14.00 Wita. Saat itu, korban mengaku tengah menghadapi masalah di kampus dan menyebut sempat terlibat percekcokan atau perkelahian.
Korban bahkan meminta obat pereda nyeri, namun dari keterangan saksi, tidak ditemukan luka yang mengarah pada bekas perkelahian.
“Keterangan saksi menyebut korban terlihat tertekan, namun tidak ada tanda-tanda luka fisik akibat perkelahian,” ungkap Indra.
Barang Bukti Diamankan, Autopsi Ditolak Keluarga
Dalam penyelidikan awal, polisi mengamankan sejumlah barang dari lokasi kejadian sebagai bagian dari prosedur standar penyelidikan. Sementara itu, pihak keluarga korban menyatakan menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi, yang dituangkan dalam surat pernyataan resmi.
“Pihak keluarga menyatakan ikhlas dan tidak keberatan, sehingga autopsi tidak dilakukan,” tutup Kapolres.
Perhatian Publik dan Dimensi Sosial
Tragedi ini tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga memunculkan perhatian luas masyarakat Parepare. Status korban sebagai mahasiswa, karyawan, sekaligus kerabat pejabat publik membuat kasus ini menjadi sorotan.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa meskipun keluarga menolak autopsi, penyelidikan tetap dilakukan secara profesional untuk memastikan tidak ada unsur pidana lain di balik peristiwa tersebut.
