-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Samaun Bakri, Orang Kepercayaan Bung Karno yang Hilang Bersama Emas Republik

23 February 2026 | February 23, 2026 WIB Last Updated 2026-02-23T12:43:54Z

Potret Samaun Bakri
(Sumber: Abdul Salam, 2018, dalam Samaun Bakri: Nationalist Portrait in 1925-1948



Dirgantaraonline - Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditopang oleh nama-nama besar yang tercatat tebal di buku pelajaran. Di balik pidato dan diplomasi para pemimpin, ada sosok-sosok sunyi yang bekerja dalam bayang-bayang. Salah satunya adalah Samaun Bakri jurnalis, sahabat, sekaligus orang kepercayaan Soekarno yang namanya lama hilang bersama sebuah pesawat dan emas Republik.


Akar Perlawanan dari Tanah Kurai Taji


Samaun Bakri lahir pada 28 April 1908 di Kurai Taji, Padang Pariaman, Sumatera Barat. Ia tumbuh dalam lingkungan yang mewariskan tradisi perlawanan. Disebut-sebut sebagai cucu seorang dubalang dari lingkar perjuangan Tuanku Imam Bonjol, watak keras terhadap penjajahan mengalir dalam darahnya.


Namun, Samaun tidak memilih senjata sebagai jalan pertama. Ia memilih pena.


Di usia muda, ia sempat bekerja di kantor Residen Padang. Tapi batinnya memberontak melihat praktik kolonial yang menindas rakyat. Ia pun meninggalkan pekerjaan aman itu dan terjun ke dunia jurnalistik, bergabung dengan surat kabar Persamaan. Di sana, tulisan-tulisannya tajam dan tanpa kompromi. Ia mengkritik kebijakan kolonial Belanda, membela rakyat kecil, dan menyuarakan semangat kebangsaan yang mulai tumbuh di berbagai daerah.


Tekanan terhadapnya datang bertubi-tubi. Pemerintah kolonial mengawasinya ketat. Bahkan demi keselamatannya, Wali Nagari Kurai Taji yang masih kerabatnya terpaksa “mengusir” Samaun dari kampung halaman. Dengan bekal tujuh ringgit, ia dilepas ke rantau. Kalimat perpisahan itu sederhana, tetapi visioner: kampung ini terlalu kecil untuk bakatmu.

Perantauan itu justru menjadi pintu sejarah.


Bengkulu 1938: Awal Persahabatan dengan Soekarno


Tahun 1938 menjadi titik balik. Saat itu, Soekarno sedang menjalani masa pengasingan di Bengkulu. Kedatangan tokoh nasional itu membangkitkan semangat kaum pergerakan di daerah. Samaun Bakri tampil sebagai salah satu penggerak utama penyambutan.


Di sanalah keduanya bertemu.


Hubungan mereka berkembang bukan sekadar relasi aktivis dan simpatisan, melainkan kepercayaan personal. Samaun dikenal cerdas, cekatan, dan setia. Bung Karno melihat kualitas itu.


Bahkan dalam urusan pribadi, Soekarno mempercayainya. Samaun menjadi perantara komunikasi Bung Karno dengan Fatmawati, gadis Bengkulu yang kelak menjadi Ibu Negara. Ia mengantar surat-surat, mengurus administrasi pernikahan di Jakarta, hingga mengawal perjalanan Fatmawati menuju ibu kota. Samaun adalah saksi sunyi lahirnya kisah cinta yang kelak menjadi bagian dari sejarah nasional.

Namun perannya tidak berhenti di sana.


1948: Republik di Ujung Tanduk


Tahun 1948 adalah masa paling genting bagi Republik Indonesia yang baru berusia tiga tahun. Agresi militer Belanda, keterbatasan persenjataan, dan tekanan diplomatik membuat posisi negara sangat rapuh.


Dalam situasi itulah, Bung Karno memberi tugas yang sangat rahasia kepada Samaun Bakri: membawa emas negara seberat 20 kilogram dari Cikotok untuk dikirim ke India. Emas itu akan digunakan untuk membeli pesawat guna memperkuat pertahanan udara Republik.


Misi ini bukan sekadar logistik. Ini soal kelangsungan negara.


Emas tersebut diangkut menggunakan pesawat Douglas C-47 Skytrain dengan kode penerbangan RI-002. Pesawat diterbangkan oleh pilot asal Amerika Serikat, Bobby Earl Freeberg, yang bersimpati pada perjuangan Indonesia.


Mereka lepas landas dengan harapan besar.


Namun pesawat itu tak pernah sampai tujuan.


Hilang di Langit Lampung


RI-002 hilang kontak di wilayah hutan lebat Lampung. Tidak ada sinyal darurat. Tidak ada kabar. Republik yang sedang berjuang tak punya sumber daya untuk melakukan pencarian besar-besaran. Di tengah kekacauan politik dan militer, hilangnya pesawat itu menjadi satu lagi luka sunyi.


Nama Samaun Bakri perlahan tenggelam. Emas Republik pun ikut hilang bersama kabut hutan Sumatra bagian selatan.


Selama hampir tiga dekade, bangkai pesawat itu tak ditemukan.


Baru pada 14 April 1978, seorang pencari rotan menemukan serpihan logam mencurigakan di Bukit Punggur, Lampung Tengah. Setelah ditelusuri, itulah sisa-sisa RI-002 yang hilang 30 tahun sebelumnya.


Kerangka Samaun Bakri ditemukan bersama awak pesawat lainnya.


Namun satu misteri tetap menggantung: jasad pilot Bobby Freeberg tidak pernah ditemukan. Apakah ia terpental keluar? Apakah ada faktor lain? Hingga kini, pertanyaan itu tak pernah terjawab tuntas.


Penghormatan yang Datang Terlambat


Pada 29 Juli 1978, jenazah Samaun Bakri dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Tanjung Karang, Lampung. Upacara itu bukan sekadar penghormatan formal, tetapi pengakuan atas pengorbanan yang lama tersembunyi.


Penghargaan negara menyusul kemudian. Pada 2002, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan Bintang Mahaputra Utama atas jasa-jasanya kepada bangsa dan negara.


Namun penghargaan itu tidak sepenuhnya menghapus ironi sejarah: selama puluhan tahun, ia nyaris terlupakan.


Lebih dari Sekadar Kurir Emas


Melihat kisahnya secara utuh, Samaun Bakri bukan hanya wartawan, bukan sekadar kurir emas. Ia adalah figur yang berdiri di simpang penting sejarah Indonesia:

  • Jurnalis yang melawan kolonialisme lewat tulisan.
  • Sahabat dan orang kepercayaan Soekarno.
  • Perantara kisah cinta proklamator.
  • Pengemban misi rahasia negara di masa paling genting.


Ia mewakili generasi pejuang yang bekerja tanpa sorotan, tanpa panggung, tanpa jaminan nama akan dikenang.


Kisahnya adalah pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun bukan hanya oleh tokoh-tokoh besar yang berdiri di podium, tetapi juga oleh mereka yang terbang dalam sunyi dan tak pernah kembali.


Di antara rimbun hutan Lampung dan serpihan logam pesawat yang berkarat, sejarah pernah nyaris mengubur namanya. Namun pengabdian tidak pernah benar-benar hilang.


Nama Samaun Bakri kini berdiri sebagai bagian penting dari mozaik perjuangan Indonesia sebuah kisah tentang keberanian, kesetiaan, dan misteri yang tak sepenuhnya terpecahkan.


(*)


#Sejarah #Tokoh

×
Berita Terbaru Update