
Proyek Tanggap Darurat di Pasia Laweh Disorot, Pekerjaan PT Nidya Karya Dinilai Sarat Kejanggalan
D'On, Padang Pariaman — Proyek tanggap darurat penanganan bencana alam di Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, menuai sorotan tajam. Pekerjaan yang dilaksanakan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Nidya Karya (Persero) itu diduga dikerjakan secara tidak profesional dan jauh dari standar proyek pemerintah.
Pantauan langsung tim media di lokasi menemukan sejumlah kejanggalan serius. Yang paling mencolok, tidak ditemukan papan informasi proyek (plang proyek) sebagaimana diwajibkan dalam setiap pekerjaan yang menggunakan anggaran negara. Akibatnya, masyarakat setempat mengaku bingung dan mempertanyakan siapa pelaksana proyek, sumber anggaran, nilai kontrak, serta masa pelaksanaan pekerjaan tersebut.
“Tidak ada informasi apa pun. Kami hanya lihat alat berat bekerja, tapi tidak tahu proyek apa dan siapa yang mengerjakannya,” ujar salah seorang warga sekitar lokasi.
Mutu Pekerjaan Dipertanyakan
Selain minimnya transparansi, kualitas pekerjaan juga menjadi sorotan. Pada pekerjaan pasangan batu beronjong, tim media menemukan indikasi bahwa pengerjaan dilakukan asal jadi. Batu beronjong diketahui diisi menggunakan excavator, bukan secara manual oleh tenaga kerja sebagaimana praktik yang dianjurkan untuk menjamin kepadatan dan kualitas pasangan.
Akibat metode tersebut, banyak batu kecil dan kerikil ikut masuk ke dalam kawat beronjong, yang berpotensi menurunkan kekuatan struktur dan daya tahan bangunan pengaman sungai tersebut.
K3 Diabaikan, Pengawasan Nihil
Lebih memprihatinkan lagi, aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) nyaris diabaikan. Dari hasil pengamatan di lapangan, tidak satu pun pekerja terlihat menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) seperti helm proyek, rompi keselamatan, sepatu safety, maupun sarung tangan.
Tak hanya itu, tidak ditemukan keberadaan Konsultan Pengawas, Tim Teknis, maupun Tenaga Ahli yang seharusnya selalu berada di lokasi proyek strategis, terlebih proyek tanggap darurat yang memiliki risiko tinggi.
Kondisi ini dinilai sangat ironis mengingat PT Nidya Karya merupakan kontraktor pelat merah dengan pengalaman nasional.
Penjelasan Pihak Pelaksana
Saat dikonfirmasi di lokasi pekerjaan pada Rabu (11/2/2026), Deseven, selaku Pelaksana Lapangan PT Nidya Karya, mengakui bahwa proyek tersebut merupakan pekerjaan tanggap darurat milik BWSS V.
Ia menyebutkan bahwa volume batu yang akan dipasang mencapai sekitar 3.000 meter kubik, dan penggunaan material batu diambil langsung dari sekitar lokasi pekerjaan.
“Memang material batu menggunakan material setempat,” ujarnya singkat.
Terkait penggunaan BBM untuk lima unit alat berat excavator yang beroperasi, Deseven membantah adanya penyalahgunaan solar subsidi. Ia menegaskan bahwa seluruh alat berat menggunakan solar industri yang dikirim langsung dari Kota Padang.
“Solar industri dikirim pakai mobil tangki dan langsung diisi ke alat berat. Biasanya dua hari sekali tangki datang, jadi tidak ada penampungan BBM di lokasi,” jelasnya.
Namun, saat ditanya soal minimnya penggunaan APD, Deseven hanya mengangguk dan berjanji akan segera menginstruksikan pekerja agar menggunakan perlengkapan keselamatan sesuai ketentuan.
Tuntutan Transparansi dan Evaluasi
Sejumlah pihak menilai, proyek tanggap darurat yang sejatinya bertujuan melindungi masyarakat justru berpotensi menimbulkan masalah baru apabila dikerjakan tanpa transparansi, pengawasan ketat, dan standar teknis yang jelas.
Publik mendesak BWSS V, instansi terkait, serta aparat pengawas untuk segera turun ke lapangan guna melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan proyek tersebut.
Media ini akan melanjutkan konfirmasi dan pendalaman kepada pihak-pihak berwenang guna memastikan proyek yang menggunakan uang negara benar-benar dikerjakan sesuai aturan, spesifikasi teknis, dan mengutamakan keselamatan serta kepentingan masyarakat.
(Tim)
#Infrastruktur #BWSSVPadang