-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Konflik Beruang Madu di Pasaman Barat Memanas, BKSDA Sumbar Pasang Kandang Jebak di Jalur Satwa

16 February 2026 | February 16, 2026 WIB Last Updated 2026-02-16T11:27:51Z

Ilustrasi Beruang Madu 



D'On, Pasaman Barat – Upaya penanganan konflik interaksi negatif antara satwa liar dan manusia kembali menjadi sorotan setelah seekor beruang madu dilaporkan menyerang warga di wilayah perladangan Nagari Sinuruik, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat. Memasuki hari ketiga penanganan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat (BKSDA Sumbar) meningkatkan langkah pengamanan dengan memasang kandang jebak di jalur yang diduga menjadi lintasan keluar-masuk satwa tersebut.


Pemasangan kandang jebak dilakukan pada Senin (16/2/2026) sebagai bentuk eskalasi penanganan, menyusul belum berhasilnya tim mengamankan beruang meski telah melakukan patroli intensif sejak laporan pertama diterima.


Laporan Serangan Warga Jadi Titik Awal Penanganan


Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sumbar, Antonius Vevri, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima laporan awal pada Sabtu (14/2/2026) dari Wali Nagari setempat. Laporan tersebut menyebutkan adanya seorang warga yang diserang beruang madu saat beraktivitas di area perladangan.


“Begitu laporan kami terima, tim langsung bergerak ke lokasi. Sejak hari pertama hingga hari ini, penanganan terus kami lakukan secara intensif,” ujar Antonius.


Ia menjelaskan, lokasi kejadian berada di kawasan yang berbatasan langsung dengan habitat alami satwa liar, sehingga potensi konflik dinilai cukup tinggi, terutama ketika beruang keluar hutan untuk mencari sumber pakan.


Patroli, Penghalauan, hingga Sosialisasi ke Warga


Sejak hari pertama penanganan, tim BKSDA Sumbar tidak bekerja sendiri. Mereka berkolaborasi dengan Centre for Orangutan Protection (COP) dalam melakukan berbagai langkah mitigasi di lapangan.


Upaya tersebut meliputi patroli rutin di sekitar titik kejadian, penghalauan satwa agar kembali ke habitatnya, serta sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi aktivitas berisiko di area rawan konflik.


“Kami juga mengimbau warga untuk tidak beraktivitas sendirian di kebun, terutama pada pagi dan sore hari, serta segera melapor jika melihat tanda-tanda keberadaan beruang,” kata Antonius.


Kandang Jebak Dipasang untuk Cegah Konflik Berulang


Namun, karena beruang madu tersebut belum berhasil diamankan dan masih terpantau berada di sekitar kebun warga, BKSDA Sumbar memutuskan untuk menambah metode penanganan dengan pemasangan kandang jebak.


“Kandang jebak sudah kami pasang tadi malam di perbatasan kebun yang diduga menjadi jalur keluar masuk beruang. Lokasinya kami pilih secara strategis berdasarkan hasil pemantauan jejak dan pergerakan satwa,” jelas Antonius.


Langkah ini, lanjutnya, diambil sebagai upaya terakhir yang lebih efektif untuk meminimalisir potensi interaksi berulang antara satwa liar dan masyarakat, sekaligus mencegah risiko jatuhnya korban lanjutan.


“Penanganan akan terus kami tingkatkan sampai kondisi benar-benar aman, baik bagi masyarakat maupun bagi satwa itu sendiri,” tegasnya.


Warga Diminta Tetap Waspada


Sementara itu, BKSDA Sumbar juga meminta masyarakat Nagari Sinuruik untuk tetap tenang namun waspada, serta tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri maupun satwa dilindungi tersebut.


Beruang madu merupakan satwa yang dilindungi undang-undang, sehingga penanganan konflik dilakukan dengan prinsip keselamatan manusia dan kelestarian satwa secara berimbang.


Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih bersiaga di lokasi dan terus memantau perkembangan situasi, sembari berharap kandang jebak yang dipasang dapat segera membuahkan hasil.


(Mond)


#Peristiwa #BeruangMadu #Daerah #PasamanBarat

×
Berita Terbaru Update