
Evakuasi Remaja Terjebak Air Bah di Sungai Bangek (Ist)
D'On, Padang - Delapan remaja dilaporkan terjebak di kawasan Sungai Bangek, Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat, Senin (16/2) sore. Informasi awal yang sempat menyebut lima korban ternyata bertambah setelah pendataan ulang dilakukan oleh tim SAR di lapangan.
Laporan kondisi membahayakan manusia itu diterima Kantor SAR Padang sekitar pukul 16.55 WIB. Informasi pertama disampaikan oleh salah seorang korban, Putra Ramadhan (16), melalui sambungan telepon seluler. Dalam laporannya, ia menyebut bersama tujuh rekannya tidak dapat kembali ke titik awal akibat debit sungai yang tiba-tiba melonjak setelah hujan deras mengguyur kawasan hulu.
Bermula dari Aktivitas Mandi-Mandi
Peristiwa bermula sekitar pukul 12.00 WIB. Delapan remaja tersebut berangkat ke area air terjun di aliran Sungai Bangek untuk mandi dan beraktivitas seperti biasa. Namun situasi berubah drastis ketika hujan deras mengguyur wilayah sekitar.
Air sungai yang semula relatif tenang mendadak membesar. Arus berubah deras dan berwarna keruh, tanda kiriman air dari hulu mulai turun. Dalam waktu singkat, jalur yang mereka lewati saat masuk ke lokasi tak lagi bisa dilintasi.
Kondisi semakin genting ketika rombongan terpisah akibat derasnya arus. Lima orang tertahan di satu sisi sungai, sementara tiga lainnya berada di seberang. Upaya untuk kembali menyeberang tidak memungkinkan karena debit air terus meningkat dan arus semakin kuat.
Tiga Remaja Naik ke Bukit
Dalam kondisi terdesak, tiga remaja memutuskan mencari jalur penyelamatan dengan naik ke area perbukitan di sekitar lokasi. Mereka berhasil mencapai sebuah ladang milik warga, namun jaraknya masih cukup jauh dari akses jalan utama. Medan terjal dan licin akibat hujan membuat mereka tidak berani turun sendiri tanpa bantuan.
Sementara itu, lima remaja lainnya tetap bertahan di sisi sungai yang relatif lebih aman, menunggu bantuan datang.
Tim SAR Bergerak 15 Menit Setelah Laporan
Kepala Kantor SAR Padang, Abdul Malik, menyatakan pihaknya langsung merespons laporan tersebut. Sekitar pukul 17.10 WIB, satu tim rescue yang terdiri dari lima personel diberangkatkan menuju lokasi kejadian perkara (LKP).
Tim bergerak menggunakan rescue car dengan estimasi waktu tempuh sekitar 17 menit. Secara garis lurus, jarak dari Kantor SAR Padang ke lokasi sekitar 5,10 kilometer. Namun melalui jalur darat, jaraknya mencapai kurang lebih 9,1 kilometer ke arah timur laut.
Seluruh personel dilengkapi peralatan mountaineering untuk medan terjal, perlengkapan evakuasi, perangkat medis, serta alat komunikasi guna memastikan koordinasi tetap berjalan di tengah cuaca yang kurang bersahabat.
Cuaca dan Medan Jadi Tantangan
Operasi penyelamatan berlangsung dalam kondisi hujan dengan kecepatan angin sekitar 5 knot. Tanah yang licin serta kontur perbukitan yang curam menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyelamat.
Selain risiko terpeleset, potensi longsor kecil dan kenaikan debit air susulan juga menjadi faktor yang diantisipasi. Tim harus memastikan keselamatan korban sekaligus keamanan personel selama proses evakuasi berlangsung.
“Hujan masih turun dan medan cukup licin, sehingga seluruh personel kami instruksikan bekerja dengan ekstra hati-hati,” ujar Abdul Malik.
Identitas Korban
Adapun delapan remaja yang dilaporkan terjebak yakni:
- Putra Ramadhan (16), warga Lubuk Minturun
- Afdhal Zikri (17), warga Lubuk Minturun
- Ibnu Habib (18), warga Lubuk Minturun
- Zikri (data usia dan alamat belum lengkap)
- Sandi (data belum lengkap)
- Zhafrah (data belum lengkap)
- Putra (16)
- Haykal (16), warga Pariaman
Imbauan untuk Warga
Kantor SAR Padang mengingatkan masyarakat agar lebih waspada saat beraktivitas di kawasan sungai dan air terjun, terutama di musim hujan. Kenaikan debit air dapat terjadi secara tiba-tiba akibat kiriman dari hulu meskipun di lokasi tidak turun hujan deras.
Masyarakat juga diimbau segera menghubungi Basarnas melalui nomor darurat 115 apabila menghadapi situasi membahayakan manusia.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keindahan alam menyimpan potensi risiko, terutama saat cuaca tidak menentu. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk mencegah tragedi di kawasan wisata alam terbuka.
(Mond)
#Peristiwa #Daerah #Padang