
Ilustrasi penganiayaan. FOTO/iStockphoto
D'On, Makassar - Tragedi memilukan mengguncang internal Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan setelah seorang anggota muda, Brigadir Polisi Dua (Bripda) Dirja Pratama (19), meninggal dunia diduga akibat penganiayaan di lingkungan asrama dinas. Ironisnya, pelaku yang telah ditetapkan sebagai tersangka juga merupakan anggota polisi dengan pangkat sama, berinisial Bripda P.
Kapolda Sulsel, Djuhandani, memastikan bahwa proses hukum telah berjalan dan penetapan tersangka dilakukan setelah pemeriksaan intensif oleh tim gabungan. Penyelidikan melibatkan Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) serta Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditkrimum).
“Dari hasil pemeriksaan medis Biddokkes, korban meninggal akibat tindak penganiayaan. Ditemukan sejumlah luka lebam di tubuh korban. Awalnya dilaporkan terjadi pembenturan kepala. Setelah didalami, tersangka mengakui perbuatannya,” ungkap Djuhandani dalam keterangannya di Mapolres Pinrang, Senin (23/2/2026).
Dugaan Kekerasan di Lingkungan Asrama
Peristiwa itu terjadi di Asrama Samapta Polda Sulsel, kompleks Markas Polda Sulsel di Jalan Perintis Kemerdekaan KM 16, Makassar. Korban yang baru setahun berdinas di Direktorat Samapta sempat dilarikan ke RSUD Daya yang lokasinya tak jauh dari tempat tugasnya pada Minggu (22/2/2026). Namun nyawanya tak tertolong.
Hasil autopsi yang dilakukan tim dokter forensik Biddokkes Polda Sulsel selama kurang lebih tujuh jam mulai pukul 13.40 WITA hingga 21.50 WITA menguatkan dugaan adanya kekerasan fisik sebelum korban meninggal dunia.
Kapolda menegaskan, selain tersangka utama, lima anggota lain yang juga menghuni asrama turut diperiksa untuk mendalami kemungkinan keterlibatan atau pembiaran dalam insiden tersebut. “Kami masih mendalami peran masing-masing. Tidak menutup kemungkinan ada pengembangan,” tegasnya.
Duka Mendalam di Kampung Halaman
Jenazah Bripda Dirja kemudian dipulangkan ke kampung halamannya di Desa Pincara, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang. Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman di Taman Pemakaman Islam setempat.
Kapolda Djuhandani bersama jajaran perwira menengah, termasuk Kabid Humas Kombes Didik Supranoto dan Kabid Propam Kombes Zulham Effendi, datang langsung melayat ke rumah duka. Kehadiran pimpinan Polda menjadi simbol komitmen institusi dalam menuntaskan perkara ini.
Di hadapan keluarga, termasuk ayah korban yang juga anggota Polri, Aipda Jabir, Kapolda menyampaikan belasungkawa mendalam sekaligus janji bahwa kasus ini akan diusut secara profesional dan transparan.
“Kami pastikan prosesnya berjalan tegas sesuai arahan Kapolri Jenderal Listyo Sigit. Tidak ada yang ditutup-tutupi,” ujarnya.
Sorotan Publik dan Ujian Integritas
Kasus ini menjadi sorotan publik karena terjadi di lingkungan internal kepolisian, tempat yang seharusnya menjunjung tinggi disiplin dan solidaritas. Kematian anggota muda yang baru memulai kariernya itu memunculkan pertanyaan serius tentang pola pembinaan, budaya senioritas, dan pengawasan di lingkungan asrama.
Publik kini menanti langkah tegas Polda Sulsel: apakah kasus ini akan berhenti pada satu tersangka atau berkembang mengungkap fakta yang lebih luas.
Yang pasti, di balik seragam dan pangkat, ada keluarga yang kehilangan anaknya. Dan ada institusi yang sedang diuji integritasnya di hadapan masyarakat.
(T)
#Polri #Penganiayaan #Viral