-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Warga Suliki Diserang Beruang Madu Saat Panen Manggis, Ayah Luka Parah Lindungi Anak

19 January 2026 | January 19, 2026 WIB Last Updated 2026-01-19T06:23:10Z
Seorang Ayah Luka Berat Lindungi Anaknya Dari Serangan Beruang Madu


D'On, Suliki, Lima Puluh Kota — Aktivitas rutin memanen buah manggis berubah menjadi mimpi buruk bagi seorang warga Kecamatan Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota. Seorang petani berinisial Wi menjadi korban serangan beruang madu saat berada di kebunnya yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan perbukitan, Jumat (16/1/2026) sekitar pukul 14.30 WIB.

Peristiwa mencekam itu terjadi ketika Wi pergi ke kebun bersama anaknya. Setelah selesai memanen manggis, keduanya berjalan pulang melewati jalan setapak yang biasa dilalui warga. Namun tanpa disangka, di tengah perjalanan mereka tiba-tiba dihadang seekor beruang madu—satwa liar yang oleh warga setempat dikenal dengan sebutan bribe atau briba.

Menurut keterangan warga, beruang tersebut muncul secara tiba-tiba dari arah semak belukar. Tanpa sempat menghindar, hewan buas itu langsung mengamuk dan sempat menyerang anak Wi. Melihat anaknya dalam bahaya, Wi refleks melindungi sang anak dan berdiri di posisi paling depan.

Upaya heroik itu justru membuat Wi menjadi sasaran utama amukan beruang. Korban mengalami luka serius akibat cakar, terutama di bagian mulut dan gusi, serta luka lecet di sejumlah bagian tubuh. Serangan berlangsung singkat namun brutal, sebelum akhirnya beruang tersebut melarikan diri kembali ke arah hutan.

Dalam kondisi berlumuran darah dan menahan rasa sakit, Wi bersama anaknya berusaha keluar dari kebun menuju permukiman warga terdekat. Warga yang melihat kondisi korban segera memberikan pertolongan dan membawa Wi ke fasilitas kesehatan terdekat.

Karena luka yang cukup parah, korban kemudian dirujuk ke rumah sakit di Kota Padang untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan. Hingga berita ini diturunkan, Wi masih menjalani perawatan intensif, sementara anaknya dilaporkan selamat secara fisik, namun mengalami trauma psikologis akibat kejadian tersebut.

Warga setempat mengaku kemunculan beruang madu di kebun-kebun masyarakat semakin sering terjadi, terutama saat musim buah seperti manggis dan durian. Hal ini diduga kuat berkaitan dengan menyusutnya habitat alami satwa liar serta ketersediaan makanan di hutan yang semakin terbatas.

Pemerintah nagari bersama tokoh masyarakat setempat telah mengimbau warga agar lebih waspada saat beraktivitas di kebun, tidak pergi sendirian, serta menghindari jam-jam rawan. Warga juga diminta segera melapor jika menemukan jejak, kotoran, atau tanda-tanda keberadaan satwa liar di sekitar kebun dan permukiman.

Peristiwa ini kembali menjadi alarm keras meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar di wilayah perbukitan Sumatera Barat. Selain mengancam keselamatan warga, konflik ini juga menunjukkan pentingnya upaya perlindungan habitat hutan dan mitigasi konflik agar kejadian serupa tidak terus berulang.

(Mond)

#Peristiwa #Daerah #KabupatenLimapuluhKota

×
Berita Terbaru Update