Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tanpa Basa-Basi, Trump Klaim AS Akan Ambil Alih Minyak Venezuela

Presiden Donald Trump saat berbicara kepada para wartawan di Ruang James Brady Press Briefing di Gedung Putih, Washington, DC pada Senin (11/8/2025). (Dok. AP/Alex Brandon)

D'On, Amerika Serikat
- Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengguncang panggung geopolitik dunia. Tanpa diplomasi panjang, Trump secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih cadangan minyak Venezuela, negara dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia.

Pernyataan kontroversial itu disampaikan Trump pada Sabtu waktu setempat dalam konferensi pers di resor pribadinya, Mar-a-Lago, Florida. Dalam pidatonya, Trump bahkan melangkah lebih jauh: menyebut AS akan mengelola pemerintahan Venezuela untuk sementara waktu, menyusul operasi militer besar-besaran yang diklaim telah menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

“Kami akan membawa perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar — yang terbesar di mana pun di dunia — masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur minyak yang hancur, dan mulai menghasilkan uang bagi negara itu,” ujar Trump, seperti dikutip CNN, Minggu (4/1/2025).

Jika klaim ini benar, dunia sedang menyaksikan salah satu manuver energi dan politik paling radikal dalam sejarah modern Amerika Serikat.

Harta Karun Energi yang Terbengkalai

Menurut data US Energy Information Administration (EIA), Venezuela memiliki sekitar 303 miliar barel cadangan minyak mentah, setara hampir seperlima dari total cadangan minyak dunia. Angka ini menempatkan Venezuela di atas Arab Saudi, Iran, maupun Kanada.

Namun ironisnya, kekayaan raksasa tersebut justru lama terpendam.

Produksi minyak Venezuela saat ini hanya berkisar 1 juta barel per hari, atau sekitar 0,8 persen dari total produksi minyak global. Angka itu merosot tajam dibandingkan era sebelum Nicolas Maduro berkuasa pada 2013, bahkan hanya sepertiga dari produksi puncak 3,5 juta barel per hari sebelum rezim sosialis mengambil alih kendali industri migas nasional.

Penurunan drastis ini dipicu oleh kombinasi mematikan:

  • Sanksi ekonomi internasional
  • Krisis ekonomi berkepanjangan
  • Korupsi dan salah kelola
  • Minimnya investasi dan perawatan infrastruktur

Perusahaan minyak nasional Venezuela, PDVSA, secara terbuka mengakui bahwa sebagian jaringan pipa minyak mereka tidak diperbarui selama hampir 50 tahun. Untuk mengembalikan produksi ke level puncak, dibutuhkan investasi sedikitnya USD 58 miliar.

“Industri Ini Dijarah dari Dalam”

Phil Flynn, analis pasar senior dari Price Futures Group, menilai langkah Trump berpotensi mengubah peta energi global.

“Untuk minyak, ini berpotensi menjadi peristiwa bersejarah,” kata Flynn.
“Rezim Maduro dan Hugo Chavez pada dasarnya menjarah industri minyak Venezuela. Infrastruktur hancur, SDM hengkang, dan modal asing diusir.”

Flynn menilai keterlibatan perusahaan-perusahaan energi AS bisa menghidupkan kembali sektor minyak Venezuela  sesuatu yang gagal dilakukan selama lebih dari satu dekade.

Mengapa Minyak Venezuela Sangat Strategis?

Minyak Venezuela dikenal sebagai heavy sour crude, yakni minyak berat dengan kandungan sulfur tinggi. Jenis minyak ini:

  • Lebih sulit diproses
  • Membutuhkan teknologi kilang khusus
  • Sangat penting untuk memproduksi diesel, aspal, dan bahan bakar industri berat

Sementara itu, Amerika Serikat  meski produsen minyak terbesar dunia  lebih banyak menghasilkan light sweet crude, yang ideal untuk bensin, tetapi kurang optimal untuk kebutuhan industri berat.

Fakta penting lainnya:
Sebagian besar kilang minyak di Amerika Serikat justru dirancang khusus untuk mengolah minyak berat Venezuela.

“Kilangan AS bekerja jauh lebih efisien menggunakan minyak Venezuela dibandingkan minyak domestik,” ujar Flynn.

Dalam konteks ini, kontrol terhadap minyak Venezuela bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan keunggulan strategis energi.

Dampak Global: Tidak Instan, Tapi Berbahaya

Meski retorika Trump sangat agresif, para analis menilai dampak jangka pendek terhadap harga minyak global akan relatif terbatas.

Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group, mengatakan pengaruhnya kemungkinan hanya “moderat”.

“Kecuali terjadi kekacauan sosial besar-besaran. Jika transisi terlihat stabil, pasar akan lebih tenang,” kata McNally.

Namun ia mengingatkan satu hal krusial:
persepsi pasar sering kali melaju lebih cepat daripada realitas di lapangan.

“Orang-orang akan menganggap Venezuela bisa meningkatkan produksi dengan cepat, padahal kenyataannya butuh waktu bertahun-tahun. Ini bukan cerita 1–2 tahun, tapi 5 hingga 10 tahun,” ujarnya.

AS Kembali ke Mode Nation-Building?

Helima Croft, Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets, menilai langkah Trump menandai perubahan besar dalam kebijakan luar negeri AS.

“Presiden Trump memberi sinyal bahwa AS kembali ke mode nation-building,” kata Croft.
“Perusahaan AS akan diminta melakukan investasi besar untuk menghidupkan kembali sektor minyak Venezuela. Tapi sejarah menunjukkan, upaya perubahan rezim yang dipimpin AS tidak selalu berjalan sesuai rencana.”

Menurut Croft, dunia masih membutuhkan detail yang jauh lebih konkret sebelum menyimpulkan keberhasilan.

“Saat ini terlalu dini untuk mengatakan ‘Mission Accomplished’.”

Taruhan Besar Trump

Bagi Trump, Venezuela adalah simbol kegagalan sosialisme dan peluang emas kapitalisme.
Bagi dunia, ini adalah taruhan besar yang bisa:

  • Mengubah keseimbangan energi global
  • Memicu ketegangan geopolitik baru
  • Menjadi preseden berbahaya dalam penguasaan sumber daya negara lain

Satu hal pasti:
minyak Venezuela kembali menjadi pusat perebutan kekuasaan dunia.

Dan kali ini, Amerika Serikat datang tanpa basa-basi.

(AP)

#Internasional #DonaldTrump #AmerikaSerikat