
Logo Piala Dunia 2026. (FIFA/FIFA)
D'On, Swiss - Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap seruan boikot Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sikap tersebut didorong oleh kekhawatiran serius terkait keamanan, penegakan hukum, serta kondisi sosial-politik di Amerika Serikat, yang dinilai berpotensi membahayakan suporter internasional.
Blatter mendukung pernyataan Mark Pieth, pengacara antikorupsi asal Swiss sekaligus mantan penasihat independen FIFA, yang sebelumnya menyerukan agar para penggemar sepak bola tidak melakukan perjalanan ke Amerika Serikat untuk menyaksikan langsung pertandingan Piala Dunia 2026.
“Saya pikir Mark Pieth benar untuk mempertanyakan Piala Dunia ini,” ujar Blatter kepada The Guardian, Selasa (27/1/2026).
Insiden Kekerasan Jadi Pemicu Utama
Seruan boikot ini menguat setelah terjadinya sejumlah insiden kekerasan yang melibatkan aparat keamanan Amerika Serikat. Pieth secara khusus menyinggung pembunuhan demonstran Renee Good oleh agen imigrasi AS di Minneapolis pada awal Januari 2026. Tak lama berselang, kematian warga negara AS lainnya, Alex Pretti, pada akhir pekan lalu semakin memperdalam kekhawatiran publik internasional.
Menurut Pieth, peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan iklim ketidakamanan dan ketegangan domestik yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara tuan rumah utama Piala Dunia 2026.
“Apa yang kita lihat di dalam negeri AS adalah marginalisasi lawan politik, penyalahgunaan wewenang oleh layanan imigrasi, dan banyak pelanggaran lainnya,” kata Pieth dalam wawancaranya dengan harian Swiss Tages-Anzeiger.
Peringatan Keras untuk Suporter Dunia
Pieth bahkan memberikan peringatan tegas kepada para penggemar sepak bola dari seluruh dunia agar menghindari perjalanan ke Amerika Serikat selama turnamen berlangsung.
“Untuk para penggemar, hanya satu nasihat: hindari Amerika Serikat! Anda akan mendapatkan tontonan yang lebih baik di televisi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa suporter asing berisiko menghadapi perlakuan keras dari otoritas setempat, termasuk deportasi instan jika dianggap melanggar aturan, bahkan untuk pelanggaran kecil.
“Setelah tiba, para penggemar harus siap jika mereka tidak berperilaku baik terhadap pihak berwenang, mereka akan segera dipulangkan. Jika mereka beruntung,” lanjut Pieth.
Piala Dunia Terbesar Sepanjang Sejarah
Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli, dan akan menjadi turnamen terbesar sepanjang sejarah FIFA, dengan 48 tim peserta serta ratusan pertandingan yang tersebar di tiga negara. Amerika Serikat menjadi tuan rumah utama dengan porsi pertandingan terbanyak.
Namun, kritik dari tokoh-tokoh berpengaruh seperti Blatter dan Pieth berpotensi mengganggu citra turnamen, terutama di mata suporter Eropa dan Amerika Selatan yang menjadi tulang punggung atmosfer Piala Dunia.
Bayang-Bayang Politik dan Hubungan FIFA–Trump
Pernyataan Blatter juga menyinggung konteks politik global. Ia mengingatkan bahwa Presiden FIFA saat ini, Gianni Infantino, memiliki hubungan dekat dengan mantan Presiden AS Donald Trump, yang kebijakannya selama menjabat kerap menuai kritik internasional, khususnya dalam isu imigrasi dan hak asasi manusia.
Blatter sendiri mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden FIFA pada 2015 setelah diterpa berbagai skandal. Meski demikian, ia dan mantan Presiden UEFA Michel Platini tahun lalu dibebaskan secara definitif dari tuduhan hukum terkait pembayaran 2 juta franc Swiss oleh FIFA pada 2011 untuk jasa konsultasi.
Masa Depan Piala Dunia 2026 Dipertanyakan
Seruan boikot ini memang belum direspons secara resmi oleh FIFA maupun panitia penyelenggara Piala Dunia 2026. Namun, dukungan dari figur sebesar Sepp Blatter membuat isu ini tak bisa dianggap remeh.
Bagi dunia sepak bola, Piala Dunia bukan sekadar turnamen, melainkan simbol persatuan global. Ketika keamanan dan kebebasan suporter dipertanyakan, legitimasi pesta sepak bola terbesar di dunia pun ikut dipertaruhkan.
Apakah Piala Dunia 2026 akan tetap menjadi perayaan universal sepak bola, atau justru dibayangi kontroversi politik dan keamanan? Waktu yang akan menjawab.
(*)
#Sepakbola #Olahraga #PialaDunia