Ngeri! Lubang Raksasa Misterius Bermunculan di Sumatera Barat, Air Telaga Biru Meluap dan Sawah Amblas

Lubang Raksasa (AntaraNews)
D'On, Sumatera Barat - Fenomena alam mengerikan menggegerkan masyarakat Sumatera Barat. Sebuah lubang raksasa misterius tiba-tiba muncul di tengah kawasan pertanian warga di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota. Lubang tersebut terus membesar, semakin dalam, dan dipenuhi air berwarna biru seperti telaga, memicu kecemasan warga dan memancing ribuan orang datang ke lokasi.
Peristiwa yang disebut sebagai sinkhole atau amblesan tanah ini terjadi pada Minggu, 4 Januari 2026 sekitar pukul 11.00 WIB. Awalnya, hanya berupa rekahan pada lahan sawah yang sebelumnya mengalami kekeringan akibat kemarau. Namun, dalam hitungan jam, tanah itu runtuh mendadak, menciptakan lubang menganga dengan diameter sekitar 20 meter dan kedalaman ±15 meter.
Yang membuat peristiwa ini semakin mencekam, dari dalam lubang terdengar suara gemuruh dan dentuman air, seolah ada aliran kuat di bawah tanah yang terus menggerus lapisan bumi.
Air Naik, Sawah Tenggelam, Warga Cemas
Dalam waktu kurang dari 24 jam, debit air di dalam lubang justru terus meningkat. Air meluap hingga menggenangi seluruh areal sawah di sekitarnya.
“Iya, air di dalam lubang sekarang makin naik ke atas sawah. Airnya seperti telaga biru. Saya cemas, air yang naik membuat lubang tambah besar,” ujar Adrolmios alias Si Ad (61), pemilik sawah, Senin (5/1).
Ia menuturkan, pamannya yang pertama kali melihat lubang tersebut muncul disertai suara gemuruh hingga kini masih trauma dan khawatir kejadian serupa akan terjadi di lokasi lain.
Kawasan yang terdampak merupakan lahan pertanian Pombatan, sumber penghidupan utama masyarakat setempat. Kini, aktivitas bertani lumpuh total. Sawah tergenang air, dan ribuan warga berdatangan silih berganti untuk melihat langsung fenomena yang disebut-sebut sebagai “lubang misterius”.
Polisi Pasang Garis Pengaman, Warga Diminta Menjauh
Untuk mencegah jatuhnya korban, Polsek Situjuah Limo Nagari langsung bertindak cepat dengan memasang police line di sekitar lokasi. Sejumlah personel disiagakan untuk mengatur kerumunan warga dan menjaga keamanan.
Plt Wali Nagari Situjuah Batua, Emil Nofri Ihsan Dt Rajo Simarajo, bersama Kepala Jorong Tepi, Salmi, membenarkan bahwa air dalam lubang terus bertambah dan telah menggenangi sawah di sekitarnya.
“Kondisinya masih berkembang. Kami minta warga tidak mendekat demi keselamatan,” ujar Emil.
Penjelasan Resmi Badan Geologi: Bukan Sinkhole Biasa
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akhirnya angkat bicara. Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menegaskan bahwa fenomena ini bukan sinkhole pada umumnya yang biasanya terjadi di kawasan batugamping (karst).
“Fenomena amblesan di Kawasan Pertanian Pombatan ini terjadi bukan pada batugamping, melainkan pada endapan lapukan batuan vulkanik,” ujar Lana dalam keterangannya di Bandung, Selasa (6/1/2026).
Hasil analisis Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) menunjukkan amblesan terjadi akibat proses erosi buluh—yakni pengikisan tanah oleh aliran air bawah permukaan yang membentuk saluran menyerupai pipa.
Erosi Buluh: Proses Senyap yang Mematikan
Menurut Lana, proses ini berlangsung perlahan dan terus-menerus, tidak terjadi secara tiba-tiba. Rekahan di permukaan tanah berfungsi sebagai jalur masuk air hujan ke dalam tanah. Air tersebut kemudian mengalir di bawah permukaan dan mengikis lapisan tanah halus, membentuk rongga-rongga besar.
Di kawasan Pombatan, lapisan atas tanah merupakan lapukan batuan tuff dan batu apung (Formasi Tuff Batu Apung/Qpt) yang bertekstur sangat halus dan kaya mineral lempung. Di bawahnya terdapat batu gamping malihan Formasi Kuantan (PCkl) yang bersifat kedap air (impermeable).
“Kondisi ini menyebabkan air terperangkap dan mengalir secara lateral, mempercepat erosi buluh hingga akhirnya tanah permukaan runtuh,” jelas Lana.
Curah Hujan Tinggi dan Tata Guna Lahan Jadi Pemicu
Berdasarkan data BMKG, wilayah tersebut memiliki curah hujan tinggi dengan rata-rata 2.000–2.500 mm per tahun. Kombinasi curah hujan tinggi, tekstur tanah halus, rekahan tanah, serta tata guna lahan pertanian intensif dan sistem irigasi yang kurang baik memperbesar risiko terjadinya erosi buluh.
“Peristiwa seperti ini berpotensi terjadi di lokasi lain pada lahan pertanian sekitarnya,” tegas Lana.
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, segera melapor jika muncul retakan baru, dan tidak panik bila terdengar suara gemuruh dari dalam tanah.
DPRD Desak PVMBG Turun Tangan
Anggota Komisi II DPRD Limapuluh Kota, M. Fajar Rillah Vesky, yang meninjau langsung lokasi, mendesak agar BPBD Limapuluh Kota segera menyurati Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM.
“Koordinasi lisan saja tidak cukup. Harus ada kajian ilmiah langsung dari ahli PVMBG agar pemda bisa mengambil langkah antisipatif dan mencegah spekulasi liar di tengah masyarakat,” tegas Fajar.
Ia juga menekankan pentingnya tindakan tanggap darurat, termasuk bantuan bagi para petani yang kehilangan sumber penghasilan akibat sawahnya tak lagi bisa digarap.
Ancaman Nyata di Balik Keindahan Telaga Biru
Meski tampak indah seperti telaga alami, air biru di dalam sinkhole justru menyimpan ancaman serius. Rongga bawah tanah yang masih aktif berpotensi terus membesar dan memicu amblesan susulan.
Fenomena ini menjadi peringatan keras bahwa bencana geologi tidak selalu datang dalam bentuk gempa atau letusan gunung api. Di balik tanah pertanian yang tampak tenang, bahaya bisa mengintai secara senyap.
Kini, warga Limapuluh Kota hanya bisa berharap kajian cepat dari para ahli mampu mengungkap misteri di balik lubang raksasa ini sekaligus mencegah jatuhnya korban dan meluasnya bencana.
(Mond)
#Peristiwa #Sinkhole #SumateraBarat