-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Hidup di Bawah Tekanan Bantuan Menyusut, Ratusan Pengungsi Rohingya Turun ke Jalan di Pekanbaru

22 January 2026 | January 22, 2026 WIB Last Updated 2026-01-22T04:10:27Z
Pengungsi Rohingya menggelar aksi unjuk rasa di Pekanbaru menuntut kenaikan bantuan biaya hidup dan pemenuhan kebutuhan dasar. (Foto: IG)


D'On, Pekanbaru – Ratusan pengungsi etnis Rohingya kembali menyuarakan jeritan hidup mereka. Senin (19/1/2026), mereka turun ke jalan dan menggelar aksi unjuk rasa di Jalan M Jamil, kawasan Bandar Serai, Kota Pekanbaru, Riau. Aksi itu bukan sekadar protes, melainkan luapan keputusasaan atas bantuan biaya hidup yang terus menyusut dan dinilai tak lagi mampu menopang kebutuhan paling dasar.


Bergerak secara tertib menuju sekitar kantor International Organization for Migration (IOM), para pengungsi membentangkan spanduk berisi tuntutan pemenuhan hak-hak dasar manusia. Di bawah terik matahari, suara mereka menggema: meminta keadilan, bukan kemewahan.


Bantuan hidup yang sebelumnya menjadi penopang utama kini dianggap kian mencekik. Para pengungsi menyebut, saat ini mereka hanya menerima bantuan bulanan sebesar Rp1,05 juta untuk individu, Rp1,7 juta untuk satu keluarga, dan Rp2,3 juta untuk keluarga dengan satu anak. Angka tersebut, menurut mereka, jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan, tempat tinggal, transportasi, hingga kesehatan.


“Dengan uang segitu kami tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Harga sewa tempat tinggal mahal, makanan mahal, semua mahal,” ujar salah satu pengungsi dengan nada lirih namun tegas.


Tak hanya soal ekonomi, aksi ini juga menyoroti terbatasnya akses layanan kesehatan dan tertutupnya peluang pendidikan bagi anak-anak Rohingya. Beberapa anak terlihat ikut dalam barisan massa, sebagian digendong orang tua mereka, sebagian lain berjalan tanpa alas kaki sebuah potret getir dari masa depan yang terkatung-katung.


Para pengungsi menuntut adanya:

  • peningkatan bantuan tunai,
  • layanan kesehatan yang layak dan mudah diakses,
  • akses pendidikan bagi anak-anak,
  • tempat tinggal yang manusiawi,
  • serta kemudahan transportasi menuju fasilitas publik.


Keluhan para pengungsi ini turut disorot di media sosial. Akun Instagram @fakta.indo, dikutip Kamis (22/1/2026), menuliskan bahwa aksi tersebut dipicu oleh bantuan biaya hidup yang terus berkurang dan tak sebanding dengan meningkatnya biaya hidup di perkotaan.


Sebagai kelompok tanpa kewarganegaraan (stateless), pengungsi Rohingya berada dalam posisi serba terbatas. Mereka tidak diizinkan bekerja secara legal, sementara bantuan yang diterima semakin minim. Kondisi ini membuat mereka terjebak dalam lingkaran ketergantungan dan kemiskinan struktural.


Aksi unjuk rasa berlangsung dengan pengawalan ketat aparat keamanan dan berjalan damai hingga selesai. Tidak ada laporan gangguan ketertiban umum. Namun, di balik ketenangan aksi, tersimpan pesan keras: krisis kemanusiaan yang belum menemukan jalan keluar.


Para pengungsi berharap, suara yang mereka sampaikan kali ini tidak lagi diabaikan. Mereka tidak menuntut lebih, selain hak untuk hidup layak sebagai manusia.


(IN)


#PengungsiRohingya #UnjukRasa #Peristiwa #Demonstrasi

×
Berita Terbaru Update