D'On, Pariaman – Jagat media sosial kembali dihebohkan oleh beredarnya sebuah video yang menampilkan aksi perkelahian antarsiswi SMP di Kota Pariaman, Sumatera Barat. Video tersebut menuai kecaman luas dari masyarakat karena memperlihatkan kekerasan fisik yang terjadi di ruang publik dan disaksikan oleh banyak pelajar lainnya tanpa adanya upaya melerai.
Menanggapi viralnya video tersebut, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Pariaman langsung mengambil langkah tegas dengan memanggil puluhan siswa beserta orang tua mereka untuk menjalani proses pembinaan dan mediasi.
Melibatkan 34 Siswa dengan Beragam Peran
Kepala Disdikpora Kota Pariaman, Hertati Taher, mengonfirmasi bahwa peristiwa tersebut melibatkan siswi dari SMP Negeri 7 Pariaman. Berdasarkan hasil penelusuran dan identifikasi pihak sekolah bersama Disdikpora, tercatat sebanyak 34 siswa terlibat dalam insiden tersebut, baik sebagai pelaku utama, pendukung, perekam video, hingga pihak yang melakukan provokasi.
“Ini bukan hanya soal dua anak yang berkelahi. Banyak siswa lain yang terlibat dengan peran berbeda-beda, sehingga semuanya tetap kami bina,” ujar Hertati kepada infosumbar, Minggu (18/1).
Terjadi Usai Jam Sekolah di Lapangan Bola
Perkelahian tersebut diketahui terjadi di lapangan bola kawasan Naras, tepat di belakang lingkungan sekolah, sesaat setelah jam pulang sekolah. Lokasi yang relatif terbuka membuat kejadian itu dengan cepat menarik perhatian pelajar lain yang berada di sekitar lokasi.
Ironisnya, tidak terlihat adanya upaya untuk melerai. Sebaliknya, dalam video yang beredar, sejumlah pelajar justru terdengar memberikan sorakan dan diduga memprovokasi perkelahian hingga berujung pada aksi saling pukul.
Bermula dari Candaan di Facebook
Hertati mengungkapkan bahwa konflik ini dipicu oleh masalah sepele di media sosial, yakni candaan menjodoh-jodohkan teman melalui Facebook.
“Awalnya hanya masalah saling menjodoh-jodohkan teman di Facebook. Salah satu pihak merasa kesal dan tidak terima, emosi memuncak, lalu berujung pada perkelahian fisik,” jelasnya.
Meski tampak serius, Hertati menegaskan bahwa setelah kejadian tersebut, para siswi sebenarnya sempat berdamai secara mandiri. Namun, video perkelahian yang belakangan diunggah ke media sosial kembali memantik perhatian publik dan memperbesar dampak kasus ini.
Mediasi Melibatkan Aparat dan Orang Tua
Sebagai tindak lanjut, pada Minggu (18/1), telah dilakukan audiensi dan pembinaan terpadu yang dihadiri oleh Disdikpora, Kepala Sekolah, Komite Sekolah, Polres Pariaman, Bhabinkamtibmas, serta seluruh orang tua siswa yang terlibat.
Dalam pertemuan tersebut, seluruh siswa diberikan pembinaan mental dan edukasi terkait dampak hukum, sosial, serta psikologis dari tindakan kekerasan dan penyalahgunaan media sosial.
“Mereka mengakui kesalahan, menyadari perbuatannya, dan seluruh siswa telah menandatangani surat perjanjian bermaterai yang juga diketahui oleh orang tua masing-masing,” kata Hertati.
Akan Buat Video Permintaan Maaf Terbuka
Sebagai bentuk pertanggungjawaban publik dan pembelajaran sosial, pihak sekolah berencana kembali memanggil orang tua dan siswa pada Senin (19/1) untuk penyelesaian akhir. Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah pembuatan video permohonan maaf terbuka oleh para siswa yang terlibat.
“Video ini akan diunggah ke media sosial sebagai bentuk laporan tindakan, kontrol sosial, dan pembelajaran agar kejadian serupa tidak terulang,” tambahnya.
Kecaman dan Keprihatinan Warganet
Sebelumnya, video perkelahian tersebut viral di Facebook setelah diunggah oleh akun Baim Koto dan telah ditonton ratusan kali serta dibanjiri komentar warganet. Banyak netizen menyayangkan minimnya pengawasan serta menyoroti pentingnya pendidikan adab dan nilai agama sejak dini.
“Kehancuran urang tuo nyo didikan anak mode iko, karano ndak diajari jo agamo, adab. Anak padusi pulo lai, kajadi apo kalu lah gadang,” tulis seorang netizen dengan nada prihatin.
Netizen lain mendesak agar pihak sekolah dan instansi terkait meningkatkan pengawasan terhadap siswa di luar jam sekolah serta memberikan sanksi edukatif yang tegas.
Jadi Alarm Bahaya bagi Dunia Pendidikan
Kasus ini menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan tentang dampak media sosial terhadap emosi dan perilaku remaja. Disdikpora Kota Pariaman menegaskan komitmennya untuk memperkuat pendidikan karakter, literasi digital, serta pengawasan kolaboratif antara sekolah dan orang tua.
Hingga berita ini diturunkan, pihak media masih berupaya menghubungi sejumlah pihak terkait untuk mendapatkan keterangan tambahan guna melengkapi pemberitaan.
(Mond)
#Viral #Peristiwa #Pariaman #Daerah
