Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Abu Obaida: Juru Bicara yang Menjadi Ide, Abadi Meski Raganya Mati

Abu Ubaida, juru bicara Izz el-Deen al-Qassam Brigades,

D'On, Palestina
- Di sebuah kafe kecil di Amman, denting gelas kopi Arab mendadak berhenti. Televisi yang semula memutar acara hiburan tiba-tiba berganti siaran darurat. Kamera menyorot sosok bertopeng, berkeffiyeh merah, berseragam militer rapi. Tidak ada wajah, hanya sepasang mata yang tajam dan tenang terlalu tenang untuk seorang lelaki yang hidupnya selalu dikejar kematian.

Beberapa detik hening. Lalu suara itu muncul, berat dan terukur. Di ruang tamu Gaza, Kairo, hingga Beirut, orang-orang berhenti bernapas sejenak. Anak kecil mendekat ke layar, mengecupnya. Seorang buruh bangunan di Tepi Barat disapa balita dengan teriakan riang, “Obaida! Obaida!” hanya karena wajahnya tertutup kain.

Ia bukan selebritas. Ia simbol.

Selama hampir dua dekade, Abu Obaida adalah suara paling dikenali dan paling ditakuti dalam perang asimetris antara Hamas dan Israel. Ketika ia bicara, perang bergerak. Ketika ia diam, dunia menebak-nebak. Dan ketika tubuhnya akhirnya runtuh oleh rudal, namanya justru hidup lebih keras.

Dari Desa yang Terhapus, Lahir Seorang Juru Bicara

Nama aslinya Hudhayfah Samir Abdallah Al-Kahlout. Ia lahir bukan dari rumah, tetapi dari kehilangan. Keluarganya berasal dari Desa Naliya, salah satu ratusan desa Palestina yang dihapus dari peta pada 1948. Seperti banyak keluarga pengungsi, memori tentang “kampung halaman” diwariskan bukan lewat peta, melainkan cerita—dan luka.

Hudhayfah lahir pada 11 Februari 1985 di Kamp Pengungsi Jabalia, Gaza Utara. Tempat yang lebih mirip laboratorium trauma kolektif ketimbang permukiman manusia. Lorong sempit, rumah bertumpuk, listrik terputus, dan suara drone yang tak pernah benar-benar pergi.

Ia tumbuh di era Intifada Pertama, menyaksikan batu dilemparkan ke tank, dan tentara masuk ke gang-gang sempit kamp. Bagi anak-anak Jabalia, konflik bukan berita ia adalah udara.

Namun Hudhayfah memilih jalan yang jarang. Di tengah blokade dan kemiskinan, ia menekuni jalur akademik. Ia masuk Universitas Islam Gaza, pusat diskursus intelektual sekaligus politik. Di sana, ia tidak hanya membaca kitab, tetapi juga sejarah konflik, teologi, dan narasi identitas.

Pada 2013, ia meraih gelar Magister Studi Islam (Usul al-Din). Tesisnya berjudul:

“The Holy Land, Between Judaism, Christianity, and Islam.”

Judul itu penting. Ia menunjukkan bahwa Hudhayfah memahami konflik Palestina bukan sekadar perang senjata, tetapi perang narasi teologis dan sejarah. Ia membaca kitab suci, menimbang klaim, dan menyusun argumen. Beberapa laporan menyebut ia bersiap melanjutkan studi doktoral—sebelum realitas perang menutup pintu akademik itu.

Pena akhirnya ia letakkan. Mikrofon dan senapan ia ambil.

Menjadi Abu Obaida: Identitas yang Dihapuskan

Hudhayfah terlibat dalam Brigade Izzudin al-Qassam sejak 2002, masa Intifada Kedua. Ia bukan figur instan. Ia melewati seleksi ketat: disiplin ibadah, kerahasiaan mutlak, dan loyalitas total. Di Gaza, kesalahan kecil berarti kematian—bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi seluruh jaringan.

Pengalaman tempurnya membuatnya dihormati. Ia bukan juru bicara dari balik meja. Ia komandan lapangan yang tahu bau mesiu dan ketakutan di parit.

Setelah Israel menarik diri dari Gaza pada 2005, Hamas membutuhkan wajah—atau tepatnya anti-wajah. Sosok yang bisa bicara ke dunia tanpa bisa dibunuh dengan mudah.

Pada 25 Juni 2006, Hudhayfah muncul untuk pertama kali sebagai juru bicara Brigade Al-Qassam, mengumumkan penangkapan tentara Israel Gilad Shalit. Sejak hari itu, Hudhayfah “mati” secara sosial. Yang hidup adalah Abu Obaida.

Nama itu bukan kebetulan. Ia merujuk pada Abu Ubaidah bin al-Jarrah, sahabat Nabi yang dikenal sebagai panglima penakluk Syam figur yang melambangkan disiplin, kesetiaan, dan kepemimpinan tanpa pamrih.

Wajahnya ditutup. Identitasnya dihapus. Ia menjadi wadah kosong yang bisa diisi harapan jutaan orang Palestina.

Keffiyeh Merah dan Senjata Psikologi

Penampilan Abu Obaida tidak pernah berubah: seragam kamuflase rapi, keffiyeh merah, latar grafis modern, ayat suci di sampingnya. Itu bukan estetika itu arsitektur psikologis.

Dalam kajian psikolinguistik (Samarra University, 2024), pidato Abu Obaida dikategorikan sebagai speech-act of commitment. Ketika ia berkata serangan akan terjadi, serangan itu benar-benar datang. Konsistensi ini membangun kredibilitas mutlak.

Ia berbicara dengan ritme lambat, nada rendah, dan diksi teologis. Ancaman dibalut ayat. Janji dibungkus kepastian ilahi.

Bagi rakyat Gaza, suaranya menjadi terapi kolektif di tengah kehancuran. Bagi Israel, ia adalah teror psikologis karena kata-katanya sering lebih dulu menghantam sebelum roket datang.

Agustus 2025: Tubuh Itu Runtuh

Pada 30 Agustus 2025, intelijen Israel akhirnya menemukan target bernilai tinggi. Sebuah apartemen di Al-Rimal, distrik elite Gaza yang telah berubah menjadi puing.

Lima rudal menghantam gedung enam lantai itu dari dua arah. Ledakan merobek malam. Uang kertas beterbangan—dana operasional yang tersimpan ikut hancur bersama beton dan tubuh.

Israel mengonfirmasi: Hudhayfah Al-Kahlout tewas.

Media Israel menyebutnya kemenangan strategis. Mesin propaganda Hamas diyakini lumpuh.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Diam yang Lebih Bising dari Pidato

Hamas memilih diam. September hingga Desember 2025, tidak ada suara Abu Obaida. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada konfirmasi.

Diam itu disengaja. Dalam perang narasi, kekosongan adalah senjata.

Spekulasi membanjiri dunia Arab: ia mati? disembunyikan? digantikan?

Jawabannya datang pada 29 Desember 2025.

Ketika Abu Obaida Menjadi Jabatan

Video itu muncul. Sosok yang sama. Keffiyeh merah yang sama. Namun suaranya berbeda lebih muda, lebih datar.

“Kami mewarisi gelar Abu Obaida dari komandan Hudhayfah Al-Kahlout, dan kami berjanji melanjutkan perjalanan ini.”

Dengan satu kalimat, Hamas mengubah kematian menjadi institusi.

Hudhayfah gugur sebagai manusia.
Abu Obaida lahir sebagai jabatan.

Israel membunuh tubuh. Hamas melestarikan ide.

Simbol yang Tak Bisa Dibom

Di dunia yang dijejali senjata presisi, drone, dan satelit, perang sering dimenangkan bukan oleh siapa yang punya bom paling canggih—tetapi siapa yang mampu menciptakan simbol yang hidup lebih lama dari manusianya.

Abu Obaida kini bukan lagi satu orang. Ia adalah narasi yang diwariskan, suara yang bisa berganti tanpa kehilangan makna.

Di layar televisi, jari telunjuk itu masih teracung. Wajah tetap tertutup. Mata tetap menatap tajam.

Dan dunia kembali hening.

Karena dalam perang ini, yang paling ditakuti bukan mereka yang berteriak 
melainkan mereka yang berbicara pelan, lalu menepati janji.

(*)

#Internasional #Hamas #Tokoh