Breaking News

Serangan Mematikan di Kamp Pengungsi Rafah: Tragedi Kemanusiaan Terburuk di Gaza

Seorang warga Palestina yang terluka akibat pemboman Israel di Jalur Gaza dibawa ke Rumah Sakit Al Aqsa di Deir al Balah, Gaza tengah, pada Minggu, 26 Mei 2024. (AP Photo)

D'On, Palestina,-
Serangan udara oleh pesawat tempur Israel pada Minggu (26/5/2024) mengguncang Kamp Pengungsi Tal al-Sultan di Kota Rafah, Gaza selatan, menewaskan sedikitnya 30 orang dan melukai puluhan lainnya. Serangan ini menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terburuk dalam sejarah Gaza yang penuh konflik.

Detik-Detik Mengerikan di Tal al-Sultan

Serangan terjadi di dekat pusat logistik Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Bom seberat sekitar 907 kilogram diluncurkan dari pesawat tempur Israel, menghantam beberapa tenda yang dihuni oleh para pengungsi. Suara ledakan keras dan kepulan asap tebal menggambarkan kehancuran yang terjadi di wilayah padat penduduk tersebut.

Upaya Penyelamatan yang Heroik

Pasukan pertahanan sipil Gaza dengan cepat merespons serangan ini. Mereka melaporkan telah mengevakuasi sekitar 50 orang, termasuk korban tewas dan terluka. Seorang petugas paramedis Palestina yang berbicara kepada Anadolu menuturkan kengerian yang mereka hadapi saat menyelamatkan anak-anak yang menjadi korban. "Kami menyelamatkan sejumlah besar anak-anak, termasuk seorang anak yang kehilangan kepala dan anak-anak yang tubuhnya hancur," katanya dengan suara bergetar.

Bulan Sabit Merah Palestina juga berperan penting dalam evakuasi dan perawatan medis. Kru ambulans mereka bergegas membawa para korban ke pusat-pusat medis terdekat, sementara kebakaran yang ditimbulkan oleh serangan masih berkobar di sekitar lokasi kejadian.

Kecaman dari Komunitas Internasional

Serangan ini memicu kecaman keras dari berbagai pihak. Kantor media Palestina menyatakan, "Pembantaian di Rafah merupakan pesan jelas dari Israel kepada Mahkamah Internasional (ICJ) dan komunitas internasional bahwa serangan terhadap warga sipil di Gaza masih berlanjut." Pernyataan ini menggarisbawahi frustrasi dan kemarahan yang dirasakan oleh banyak pihak terkait ketidakmampuan komunitas internasional untuk menghentikan kekerasan tersebut.

Latar Belakang Konflik yang Memanas

Sejak serangan lintas batas oleh kelompok Palestina Hamas pada 7 Oktober tahun lalu yang menewaskan sekitar 1.200 orang, Israel telah melancarkan serangan militer besar-besaran di Gaza. Hampir 36.000 warga Palestina dilaporkan tewas, dengan sebagian besar wilayah yang berpenduduk 2,3 juta orang tersebut berubah menjadi reruntuhan. Penduduk Gaza kini menghadapi ancaman kelaparan dan kehilangan tempat tinggal yang masif.

Tentara Israel sebelumnya telah mengidentifikasi kamp yang dibom di Rafah sebagai zona aman, mendorong pengungsi untuk pergi ke sana. Namun, serangan ini menunjukkan sebaliknya, menimbulkan pertanyaan serius tentang keamanan dan perlindungan bagi warga sipil di wilayah konflik.

Seruan untuk Perdamaian

Serangan mematikan ini terjadi meskipun Mahkamah Internasional (ICJ) telah mengeluarkan putusan yang memerintahkan Israel untuk menghentikan serangannya di Rafah. Wilayah tersebut, yang menjadi tempat berlindung bagi lebih dari satu juta warga Palestina, juga telah mengalami serangan pada 6 Mei lalu oleh pasukan Israel, menambah panjang daftar penderitaan yang dialami oleh penduduk Gaza.

Tragedi di Tal al-Sultan ini tidak hanya menambah angka kematian, tetapi juga mengingatkan dunia akan urgensi perdamaian dan solusi jangka panjang untuk konflik yang telah berlangsung puluhan tahun ini. Kemanusiaan dan perlindungan terhadap warga sipil harus menjadi prioritas utama bagi semua pihak yang terlibat dalam upaya penyelesaian konflik di Gaza.

(*)

#AgresiIsrael #Internasional #Palestina