Breaking News

Skandal Pelecehan Seksual di Universitas Pancasila: Korban Kedua Buka Suara

Ilustrasi Pelecehan Seksual 

D'On, Jakarta,-
Skandal pelecehan seksual yang melibatkan Rektor Universitas Pancasila, ETH, semakin menggemparkan setelah muncul pengakuan dari korban kedua. Seorang mantan karyawan berinisial D, melalui kuasa hukumnya, Amanda Manthovani, mengungkapkan kisah tragis yang dialaminya pada Desember 2022.

Menurut keterangan dari Amanda Manthovani pada Sabtu (24/2/2024), korban kedua, D, merupakan seorang karyawan honorer yang menjadi korban dugaan pelecehan seksual di ruang kerja. "Korban juga posisinya di ruangan itu. Dia mendadak dicium sama si pelaku (rektor) sampai rasa ketakutan. Hampir sama kejadiannya (dengan korban pertama), korban memang dicium tetapi posisinya itu mukanya D dipegangin terus diciumin," ujar Amanda.

Kejadian yang dialami oleh korban kedua ini menambah bukti atas perilaku tidak senonoh yang diduga dilakukan oleh Rektor ETH. Sebelumnya, ETH sudah dilaporkan oleh karyawannya, RZ, pada 12 Januari 2024, dengan nomor LP/B/193/I/2024/SPKT/POLDA METRO JAYA, berdasarkan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS).

Pengungkapan korban kedua ini juga menjadi bukti bahwa kasus ini tidak terbatas pada satu korban saja. "Ya jadi sebenarnya ini ada dua korban yang melaporkan, membuat laporan ada dua bukan satu orang dan kebetulan dua orang ini kuasa hukumnya saya juga," tambah Amanda.

Korban D sendiri, setelah mengalami insiden yang traumatis, memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Keberanian korban-korban ini untuk membuka suara dan melaporkan kejadian yang mereka alami adalah langkah penting dalam memerangi pelecehan seksual di lingkungan akademik.

Kami akan terus memperbarui perkembangan kasus ini seiring dengan proses hukum yang berlangsung. Stay tuned untuk informasi lebih lanjut.

(*)

#PelecehanSeksual #UniversitasPancasila #Kriminal