
Asriyon Roza Pimpin DPP IKC, Perantau Cupak Didorong Bersatu dan Berkontribusi Nyata untuk Kampung Halaman
D'On, Jakarta - Pelantikan Asriyon Roza, SE, A.Akt, CA, M.Si, bergelar Rangkayo Mulie, sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Cupak (DPP IKC) menjadi momentum penting untuk memperkuat persaudaraan masyarakat Cupak di perantauan sekaligus mendorong kontribusi nyata bagi pembangunan kampung halaman.
Asriyon Roza resmi dilantik sebagai Ketua Umum DPP IKC pada Minggu (11/10/2026), dalam sebuah acara yang berlangsung di Aula STIKES Pelita Ilmu, Depok. Kepemimpinan baru ini diharapkan mampu membawa IKC menjadi organisasi kekeluargaan yang semakin solid, kompak, dan berdaya guna, tidak hanya bagi para anggotanya, tetapi juga bagi masyarakat Nagari Cupak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Dalam pesan yang disampaikannya, Asriyon menekankan bahwa kekuatan sebuah organisasi perantau tidak semata-mata diukur dari seberapa sering anggotanya berkumpul atau menyelenggarakan kegiatan silaturahmi. Lebih dari itu, kekuatan sesungguhnya terletak pada kemampuan menjaga persaudaraan, menyatukan potensi, serta menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat di kampung halaman.
Baginya, ikatan emosional dengan tanah kelahiran merupakan modal sosial yang sangat berharga. Meskipun kehidupan telah membawa masyarakat Cupak ke berbagai daerah dengan pekerjaan, pengalaman, dan tantangan yang berbeda-beda, hubungan dengan kampung halaman harus tetap terpelihara.
“Jauh di rantau, tetap satu hati. Berbeda tempat mencari rezeki, tetapi tetap terikat oleh kampung halaman yang sama,” demikian pesan Asriyon yang menegaskan pentingnya menjaga persatuan keluarga besar Cupak di mana pun berada.
Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa IKC memiliki peran strategis dalam merawat identitas, mempererat hubungan antargenerasi, serta membangun kepedulian kolektif terhadap masa depan Nagari Cupak.
Persaudaraan Harus Menjadi Kekuatan untuk Membangun Nagari
Bagi masyarakat Minangkabau, merantau bukan berarti memutus hubungan dengan kampung halaman. Sebaliknya, rantau dan ranah merupakan dua ruang kehidupan yang saling terhubung melalui ikatan keluarga, adat, sejarah, dan tanggung jawab sosial.
Dalam konteks itulah, keberadaan IKC diharapkan mampu menjadi penghubung antara masyarakat Cupak yang berada di perantauan dengan masyarakat yang tetap tinggal dan menjalani kehidupan di kampung halaman.
Persaudaraan yang terpelihara dengan baik dapat menjadi fondasi untuk membangun kerja sama yang lebih luas. Potensi perantau yang tersebar di berbagai daerah dapat dihimpun melalui komunikasi yang terarah, sehingga pengalaman profesional, gagasan, jejaring, kepedulian sosial, dan kemampuan masing-masing anggota dapat memberikan nilai tambah bagi pembangunan nagari.
Asriyon berharap IKC terus tumbuh sebagai wadah pemersatu yang mampu menjaga keharmonisan keluarga besar Cupak sekaligus membuka ruang partisipasi bagi seluruh anggota.
Menurut semangat yang ingin dibangun tersebut, organisasi perantau tidak seharusnya hanya menjadi tempat untuk mengenang kampung halaman, tetapi juga menjadi ruang untuk merancang langkah-langkah yang dapat membantu menjawab kebutuhan masyarakat.
Persatuan, dengan demikian, bukan sekadar slogan organisasi. Persatuan harus menjadi kekuatan yang mampu melahirkan kepedulian, kerja sama, dan kegiatan yang membawa manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
IKC Diharapkan Tidak Berhenti pada Silaturahmi
Menjaga silaturahmi tetap menjadi salah satu fondasi utama IKC. Namun, tantangan organisasi ke depan adalah bagaimana menjadikan hubungan kekeluargaan tersebut sebagai energi untuk melahirkan program-program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Asriyon berharap kegiatan dan program IKC dapat diarahkan pada sejumlah bidang penting, terutama peningkatan kesejahteraan masyarakat, pengembangan pendidikan generasi muda, pemberdayaan ekonomi, serta pembangunan Nagari Cupak.
Harapan ini menunjukkan bahwa organisasi perantau memiliki peluang untuk mengambil bagian dalam pembangunan melalui berbagai bentuk kontribusi yang sesuai dengan kapasitas dan kemampuan anggotanya.
Dalam bidang pendidikan, misalnya, perhatian terhadap generasi muda dapat menjadi salah satu bentuk investasi sosial yang berdampak panjang. Generasi muda membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.
Keluarga besar IKC yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan jaringan profesional dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus membuka peluang dukungan bagi kemajuan pendidikan generasi penerus.
Sementara itu, dalam bidang ekonomi, kebersamaan para perantau berpotensi membuka ruang pertukaran informasi, memperluas jaringan usaha, serta mendorong lahirnya gagasan pemberdayaan masyarakat.
Adapun dalam pembangunan nagari, komunikasi yang baik antara perantau dan masyarakat kampung halaman dapat membantu mempertemukan kebutuhan di lapangan dengan potensi dukungan yang tersedia di perantauan.
Tentu saja, berbagai peluang tersebut membutuhkan perencanaan yang matang, koordinasi yang baik, serta keterlibatan anggota secara berkelanjutan.
Karena itu, tantangan bagi kepengurusan IKC ke depan bukan hanya menjaga organisasi tetap aktif, melainkan juga memastikan bahwa kebersamaan yang telah terbangun dapat diterjemahkan menjadi kegiatan yang memiliki tujuan jelas dan manfaat yang terukur.
Menghimpun Potensi Perantau, Membuka Peluang bagi Kampung Halaman
Masyarakat Cupak di perantauan memiliki latar belakang kehidupan dan profesi yang beragam. Perbedaan pengalaman tersebut dapat menjadi kekuatan apabila dikelola dalam semangat kebersamaan.
Ada anggota yang memiliki pengalaman dalam dunia usaha, pendidikan, pemerintahan, profesi, maupun berbagai bidang pekerjaan lainnya. Seluruh pengalaman dan pengetahuan tersebut berpotensi menjadi modal sosial yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kemajuan bersama.
Dalam hal ini, IKC diharapkan mampu menjadi ruang yang mempertemukan berbagai potensi tersebut.
Organisasi dapat berperan sebagai penghubung komunikasi antarkeluarga, tempat bertukar gagasan, sekaligus wadah untuk membangun kesadaran bahwa keberhasilan seseorang di perantauan juga dapat membuka peluang kebaikan bagi lingkungan asalnya.
Namun, kontribusi kepada kampung halaman tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk bantuan materi. Pemikiran, pengalaman, pendampingan, pengembangan jaringan, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat juga merupakan bentuk kontribusi yang memiliki arti penting.
Dengan pendekatan tersebut, keterlibatan perantau dapat berkembang lebih luas. Mereka yang memiliki kemampuan finansial dapat berkontribusi sesuai kemampuannya, sedangkan anggota yang memiliki keahlian dan pengalaman dapat mengambil bagian melalui pengetahuan serta gagasan yang dimiliki.
Semangat yang ingin diperkuat adalah bahwa setiap anggota memiliki ruang untuk berkontribusi tanpa harus dibatasi oleh perbedaan pekerjaan, kedudukan, maupun tempat tinggal.
Apabila potensi tersebut dapat dihimpun secara terorganisasi, IKC berpeluang menjadi jembatan yang mempertemukan kekuatan masyarakat Cupak di rantau dengan kebutuhan pembangunan di ranah.
Kekompakan Menjadi Modal Utama Kepengurusan Baru
Kepemimpinan organisasi kekeluargaan tentu tidak dapat berjalan sendiri. Dibutuhkan dukungan, komunikasi, dan keterlibatan seluruh anggota agar program yang direncanakan dapat dilaksanakan secara berkesinambungan.
Karena itu, pesan Asriyon tentang pentingnya soliditas dan kekompakan menjadi bagian penting dalam arah kepemimpinan DPP IKC.
Kekompakan bukan berarti seluruh anggota harus memiliki pandangan yang selalu sama. Sebaliknya, perbedaan pendapat dan pengalaman perlu dikelola melalui komunikasi yang sehat, sikap saling menghormati, serta kesediaan untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Dalam organisasi yang menghimpun keluarga besar dengan latar belakang beragam, keterbukaan dan rasa saling percaya menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan organisasi.
Kepengurusan yang mampu merangkul berbagai kalangan akan memiliki peluang lebih besar untuk membangun partisipasi anggota. Dengan demikian, IKC dapat berkembang sebagai organisasi yang tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga hidup melalui kegiatan dan kepedulian para anggotanya.
Lebih jauh, keberhasilan organisasi juga akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menjaga kesinambungan program, membangun komunikasi dengan masyarakat kampung halaman, serta mengevaluasi setiap kegiatan agar manfaatnya semakin nyata.
Dengan semangat kebersamaan tersebut, kepemimpinan baru DPP IKC diharapkan dapat memperkuat fondasi organisasi sekaligus membuka ruang bagi kontribusi yang lebih luas.
Menjaga Identitas Cupak di Tengah Kehidupan Perantauan
Merantau membawa seseorang memasuki lingkungan baru, membangun hubungan sosial yang berbeda, dan menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan kehidupan. Di tengah proses tersebut, hubungan dengan tanah kelahiran tetap memiliki arti tersendiri.
Nagari Cupak bukan sekadar tempat seseorang dilahirkan atau tempat keluarga berasal. Kampung halaman juga menyimpan sejarah keluarga, nilai adat, kenangan masa kecil, serta ikatan sosial yang membentuk identitas seseorang.
Karena itu, menjaga hubungan dengan kampung halaman merupakan bagian penting dalam mempertahankan kesinambungan nilai dan identitas masyarakat.
IKC diharapkan dapat mengambil peran dalam menjaga hubungan tersebut, terutama dengan mempererat komunikasi antargenerasi. Generasi yang lebih tua memiliki pengalaman dan pengetahuan mengenai sejarah serta nilai-nilai kampung halaman, sementara generasi muda membawa gagasan, kreativitas, dan cara pandang yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Pertemuan kedua generasi ini menjadi peluang untuk memastikan bahwa ikatan dengan Nagari Cupak tetap terpelihara, sekaligus memberikan ruang bagi lahirnya gagasan baru.
Dengan demikian, organisasi kekeluargaan tidak hanya berfungsi menjaga hubungan antarkeluarga pada masa sekarang, tetapi juga membantu mewariskan semangat persaudaraan kepada generasi berikutnya.
Dari Rantau untuk Kemajuan Nagari
Pelantikan Asriyon Roza sebagai Ketua Umum DPP IKC membawa harapan baru bagi penguatan persaudaraan masyarakat Cupak di perantauan.
Harapan tersebut tidak hanya bertumpu pada kepemimpinan seorang ketua umum, tetapi juga pada kesediaan seluruh anggota untuk menjaga kebersamaan dan mengambil bagian dalam upaya membangun organisasi.
Ke depan, tantangan yang perlu dijawab adalah bagaimana menjadikan semangat persaudaraan sebagai gerakan bersama yang berkelanjutan. Silaturahmi perlu terus dirawat, komunikasi harus diperkuat, dan potensi anggota perlu dihimpun agar dapat diarahkan pada kegiatan yang bermanfaat.
Pendidikan, pemberdayaan ekonomi, peningkatan kesejahteraan, dan pembangunan nagari menjadi bidang-bidang yang dapat membuka ruang kontribusi bagi keluarga besar IKC.
Tidak semua persoalan kampung halaman dapat diselesaikan oleh organisasi perantau. Namun, melalui komunikasi dan kerja sama yang baik, IKC dapat mengambil bagian sesuai kapasitasnya serta membangun hubungan yang produktif dengan masyarakat di ranah.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah organisasi kekeluargaan tidak hanya ditentukan oleh besarnya nama atau banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga persaudaraan dan menghadirkan manfaat yang dirasakan oleh anggotanya maupun masyarakat.
Asriyon mengajak keluarga besar IKC untuk terus memperkuat persatuan, menjaga kekompakan, dan memelihara kepedulian terhadap kampung halaman.
Sebab, sejauh apa pun langkah seseorang membawa dirinya merantau, selalu ada akar yang menghubungkannya dengan tanah kelahiran. Akar itu adalah keluarga, adat, sejarah, dan rasa memiliki terhadap kampung halaman.
Rantau boleh berjauhan, kehidupan boleh membawa ke berbagai arah, tetapi persaudaraan harus tetap menjadi pengikat. Dari perantau, tumbuh kepedulian; dari persatuan, lahir kekuatan; dan dari kekuatan itulah diharapkan terbuka jalan menuju Nagari Cupak yang semakin maju dan sejahtera.
(**)
#SumateraBarat