Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tekan Penularan TBC, Wamenkes Dorong Pemeriksaan Kontak Erat hingga Tingkat Rumah Tangga di Padang

19 September 2026 | September 19, 2026 WIB Last Updated 2026-09-19T04:59:43Z

Tekan Penularan TBC, Wamenkes Dorong Pemeriksaan Kontak Erat hingga Tingkat Rumah Tangga di Padang



D'On, Padang -   Upaya mempercepat penemuan dan pengobatan Tuberkulosis (TBC) di Kota Padang terus diperkuat melalui kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, hingga masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan pengabdian masyarakat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bertajuk “Untuk Indonesia Sehat” yang menghadirkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) sekaligus skrining TBC.


Kegiatan tersebut digelar di Aula Kantor Camat Lubuk Begalung, Jumat (18/9/2026), dan dihadiri langsung Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Benjamin Paulus Octavianus.


Turut hadir Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Srikurnia Yati, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Pemko Padang Feri Mulyani Hami, Ketua PDPI Cabang Sumatera Barat Masrul Basyar, Camat Lubuk Begalung Ikrar Prakarsa, perwakilan Puskesmas Lubuk Begalung dan Puskesmas Pengambiran, serta masyarakat setempat.


Kegiatan ini tidak sekadar menghadirkan pemeriksaan kesehatan gratis. Skrining TBC menjadi bagian penting dalam strategi menemukan kasus secara lebih dini, terutama pada orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC maupun kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi.


Wamenkes: Jangan Hanya Obati yang Sakit, Kontak Serumah Harus Diperiksa


Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa pemberantasan TBC membutuhkan perubahan pendekatan. Selama ini perhatian kerap tertuju kepada pasien yang sudah terdiagnosis, sementara orang-orang yang berada di lingkungan terdekat pasien belum seluruhnya mendapatkan pemeriksaan secara optimal.


Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam memutus mata rantai penularan TBC.


“Negara kita Indonesia termasuk 20 besar ekonomi terbesar di dunia, tapi kasus TBC di Indonesia tinggi sekali. Presiden memanggil untuk menyusun pemberantasan Tuberkulosis di Indonesia,” ujar Benjamin.


Ia mengatakan, pemeriksaan tidak boleh berhenti pada orang yang telah dinyatakan sakit. Kontak erat, khususnya orang yang tinggal dalam satu rumah, juga perlu diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya penularan sejak dini.


“Selama ini kita sibuk dan fokus pada orang sakit, sementara kontak di rumah tidak diperiksa sehingga menjadi potensi peningkatan TBC,” katanya.


Karena itu, program CKG dan kegiatan skrining di tengah masyarakat dinilai menjadi salah satu sarana untuk memperluas deteksi dini.


“Kita mengumpulkan semua di sini agar bisa mencegah TBC melalui sosialisasi program dan CKG ini dari usulan Pak Prabowo, agar umur masyarakat Indonesia panjang dan sehat,” lanjutnya.


2.700 Kasus TBC Telah Ditemukan di Padang


Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Srikurnia Yati mengungkapkan, pemerintah kota bersama jajaran kesehatan terus memperkuat tracing dan penemuan kasus TBC di seluruh wilayah.


Saat ini, seluruh 11 kecamatan di Kota Padang telah berkomitmen melaksanakan tracing TBC. Bahkan, sebanyak 104 kelurahan siaga TBC telah dibentuk sebagai bagian dari penguatan upaya penanggulangan penyakit tersebut berbasis wilayah dan masyarakat.


Dari target penemuan 4.800 kasus TBC pada 2026 yang ditetapkan Kementerian Kesehatan, hingga saat ini Kota Padang telah menemukan sekitar 2.700 kasus.


“Untuk Kota Padang, 11 kecamatan sudah berkomitmen melakukan tracing TBC. Alhamdulillah 104 kelurahan siaga TBC sudah dibentuk. Dari target Kemenkes sebanyak 4.800 kasus di tahun 2026, sampai sekarang sudah ditemukan 2.700 kasus,” kata Srikurnia.


Menurutnya, semakin banyak kasus yang ditemukan melalui penelusuran aktif, semakin besar pula peluang pasien memperoleh pengobatan sedini mungkin.


“Kita mengejar kasus sebanyak-banyaknya agar bisa disembuhkan dan tidak ada penularan,” ujarnya.


Strategi tersebut menempatkan penemuan kasus sebagai pintu masuk untuk memutus rantai penularan. Pasien yang terdeteksi dapat segera mendapatkan pengobatan dan pemantauan sampai tuntas.


Tracing TBC Menyasar 242 Titik


Dinas Kesehatan Kota Padang juga telah menyusun agenda tracing secara lebih luas. Mulai pertengahan September hingga November 2026, tracing direncanakan berlangsung di 242 titik.


Dari jumlah tersebut, hingga saat ini kegiatan telah terlaksana di 105 titik.


Hasilnya, petugas menemukan 77 pasien positif TBC, baik dari kelompok kontak erat maupun masyarakat yang masuk kategori berisiko tinggi.


Kelompok berisiko yang menjadi perhatian antara lain penderita diabetes, perokok berat, lanjut usia, serta anak-anak.


“Dari pertengahan September sampai November kita merencanakan tracing di 242 titik dan sudah berjalan 105 titik. Ditemukan 77 pasien positif TBC dari kontak erat dan masyarakat berisiko, yang terus kita pantau sampai selesai masa pengobatan,” jelas Srikurnia.


Ia menegaskan, penemuan kasus tersebut tidak berhenti pada proses diagnosis. Pasien yang teridentifikasi akan dipantau selama menjalani pengobatan.


“Harapan kita, kasus yang ditemukan ini diobati hingga 100 persen sembuh, sehingga tahun depan tidak ada lagi penularan TBC di Kota Padang,” katanya.


Ronsen Portabel Percepat Deteksi di Lapangan


Untuk mendukung proses skrining, pemeriksaan di lokasi juga diperkuat dengan fasilitas rontgen portabel yang disediakan secara gratis melalui dukungan vendor dalam kegiatan kerja sama PDPI dan Dinas Kesehatan.


Kehadiran perangkat tersebut membuat pemeriksaan dapat dilakukan lebih dekat dengan masyarakat, sehingga warga tidak selalu harus mendatangi fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan penunjang.


Selain fasilitas rontgen portabel, Kota Padang juga memiliki tiga unit alat rontgen paru yang ditempatkan di rumah sakit, yakni dua unit di RSUD dan satu unit di RS Universitas Andalas. Pengoperasiannya didukung tenaga radiografer yang kompeten.


Fasilitas tersebut menjadi bagian dari penguatan jejaring pemeriksaan, khususnya dalam mendukung penemuan kasus TBC secara lebih cepat dan akurat.


PDPI Sumbar Targetkan Eliminasi TBC 2030


Ketua PDPI Cabang Sumatera Barat Masrul Basyar menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung kegiatan pengabdian masyarakat tersebut.


Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada panitia dan vendor yang telah menyediakan fasilitas rontgen portabel secara gratis sehingga kegiatan skrining dapat terlaksana.


Masrul menegaskan, PDPI Sumatera Barat berkomitmen memperkuat kolaborasi bersama Dinas Kesehatan dalam menekan penularan TBC.


“Mengucapkan terima kasih kepada panitia dan vendor atas tersedianya ronsen portabel gratis hingga terlaksananya acara ini. PDPI Sumbar berkomitmen bersama Dinas Kesehatan untuk bersama-sama menurunkan dan mencapai eliminasi TBC menjelang tahun 2030,” ujarnya.


Komitmen tersebut sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam memperkuat penanggulangan TBC dengan melibatkan berbagai unsur, termasuk jajaran kesehatan, pemerintah kecamatan dan kelurahan, kader, organisasi profesi serta masyarakat.


Kualitas Udara dan ISPA Jadi Perhatian


Selain TBC, kondisi kesehatan pernapasan masyarakat Kota Padang juga mendapat perhatian menyusul kondisi kualitas udara yang dinilai dapat mengganggu kesehatan.


Srikurnia menyebutkan, dari sekitar 2.400 kunjungan ke puskesmas, terdapat sekitar 1.300 kasus ISPA per hari. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah kota sehingga langkah pencegahan turut diperkuat.


Wali Kota Padang telah menerbitkan Surat Edaran terkait langkah pencegahan untuk melindungi masyarakat dari gangguan kesehatan akibat kondisi udara.


Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker ketika diperlukan, mengonsumsi makanan bergizi, mencukupi waktu istirahat, serta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala batuk atau keluhan pernapasan.


“Mengingat kondisi udara yang dapat mengganggu pernapasan, telah diterbitkan Surat Edaran Wali Kota Padang. Kami mengimbau warga mengurangi aktivitas luar gedung, memakai masker, makan makanan bergizi, istirahat cukup, dan segera ke pelayanan kesehatan terdekat jika mengalami gejala batuk,” kata Srikurnia.


CKG Padang Capai 40–45 Persen


Upaya pencegahan dan deteksi dini juga dilakukan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).


Di Kota Padang, cakupan CKG saat ini telah mencapai sekitar 40–45 persen, dari target 46 persen penduduk.


Pelaksanaan CKG dilakukan melalui berbagai kanal, mulai dari kunjungan masyarakat ke puskesmas, kegiatan di tingkat kecamatan, hingga kegiatan di kawasan Car Free Day (CFD). Data pemeriksaan tersebut kemudian diintegrasikan dengan aplikasi Satu Sehat.


Dengan pendekatan tersebut, layanan kesehatan tidak hanya menunggu masyarakat datang ketika sudah sakit, tetapi juga mendorong pemeriksaan kesehatan secara berkala sebagai bagian dari deteksi dini.


Lubuk Begalung Perkuat Pendekatan Langsung ke Warga


Camat Lubuk Begalung Ikrar Prakarsa memastikan pihak kecamatan memberikan dukungan terhadap kegiatan skrining TBC dan CKG.


Menurutnya, pendekatan langsung kepada masyarakat menjadi penting agar warga memahami manfaat pemeriksaan dan tidak ragu mengikuti skrining.


“Kecamatan Lubuk Begalung ikut serta mendukung kegiatan Pengabdian Dokter Paru Indonesia dan Skrining TB serta Cek Kesehatan Gratis ini. Proses ini berfokus pada masyarakat yang memiliki kontak erat dan gejala TBC, namun tetap terbuka untuk umum,” kata Ikrar.


Pihak kecamatan berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan, PDPI, Puskesmas Lubuk Begalung, Puskesmas Pengambiran, serta kader TBC dalam melakukan sosialisasi.


Pendekatan dilakukan secara langsung atau face to face, sehingga informasi mengenai TBC, gejala, risiko penularan, hingga pentingnya pemeriksaan dapat diterima masyarakat secara lebih mudah.


“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini, apalagi dihadiri langsung oleh Bapak Wamenkes. Harapannya kegiatan ini bisa berkelanjutan sehingga masyarakat di Lubuk Begalung tidak ada yang sakit lagi, terutama TBC,” ujarnya.


Dari Lubuk Begalung, Pesan Deteksi Dini Diperkuat


Kegiatan “Untuk Indonesia Sehat” di Lubuk Begalung memperlihatkan bahwa penanggulangan TBC membutuhkan kerja bersama dan tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan setelah seseorang dinyatakan positif.


Penemuan kasus secara aktif, pemeriksaan kontak erat, pemeriksaan kelompok berisiko, dukungan teknologi seperti rontgen portabel, serta edukasi kepada masyarakat menjadi rangkaian yang saling berkaitan.


Dengan target eliminasi TBC menjelang 2030, tantangan terbesar bukan hanya menemukan mereka yang sudah sakit, tetapi juga memastikan orang-orang yang berpotensi tertular dapat diperiksa sedini mungkin.


Dari aula Kantor Camat Lubuk Begalung, pesan yang mengemuka pun sederhana namun penting: semakin cepat TBC ditemukan, semakin cepat pengobatan dimulai, dan semakin besar peluang mata rantai penularan dapat diputus.


(Mond)



#Padang #Daerah

×
Berita Terbaru Update