Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Bukan Sekadar Seremonial, Ekspedisi Andalas 2026 Resmi Dilepas untuk Aksi Nyata di Daerah 3T

05 July 2026 | July 05, 2026 WIB Last Updated 2026-07-05T05:22:05Z

Bukan Sekadar Seremonial, Ekspedisi Andalas 2026 Resmi Dilepas untuk Aksi Nyata di Daerah 3T



D'On, PADANGTepuk tangan bergemuruh mengiringi pengibaran bendera Ekspedisi Andalas 2026 di Aula Masjid Raya Sumatera Barat, Sabtu (4/7/2026). Di balik wajah-wajah penuh semangat para mahasiswa yang berdiri mengenakan atribut ekspedisi, tersimpan sebuah tekad yang jauh lebih besar daripada sekadar menjalankan program kerja. Mereka bersiap meninggalkan kenyamanan kampus untuk hidup, belajar, dan mengabdi di salah satu wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) di Sumatera Barat.


Tujuan mereka adalah Nagari Muaro Sungai Lolo, Kecamatan Mapat Tunggul Selatan, Kabupaten Pasaman. Sebuah nagari yang dikenal memiliki potensi komoditas gambir, tetapi belum sepenuhnya menikmati nilai tambah dari hasil alam tersebut.


Ekspedisi Andalas bukanlah perjalanan wisata ataupun kegiatan seremonial tahunan. Program pengabdian masyarakat yang rutin diselenggarakan mahasiswa Universitas Andalas ini menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk menguji ilmu yang diperoleh di bangku kuliah sekaligus membangun solusi bersama masyarakat.


Tahun ini, para peserta membawa gagasan yang cukup menjanjikan, yakni mengolah daun gambir menjadi sabun bernilai ekonomis. Inovasi tersebut diharapkan mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat sehingga komoditas gambir tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi juga memiliki nilai jual yang lebih tinggi melalui produk olahan.


Pengabdian yang Mengajarkan Mahasiswa Menjadi Pembelajar


Ketua Pelaksana Ekspedisi Andalas dalam sambutannya menegaskan bahwa pengabdian bukanlah aktivitas satu arah, di mana mahasiswa datang untuk mengajarkan masyarakat. Sebaliknya, pengabdian merupakan proses saling belajar yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kearifan lokal.


Menurutnya, mahasiswa memang membawa bekal akademik dari berbagai disiplin ilmu. Namun, masyarakat juga memiliki pengalaman hidup, pengetahuan lokal, dan cara menyelesaikan persoalan yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas.


"Pengabdian adalah proses belajar dua arah. Kami datang bukan hanya untuk berbagi ilmu, tetapi juga belajar dari masyarakat. Melalui inovasi pengolahan gambir menjadi sabun, kami berharap dapat menghadirkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Nagari Muaro Sungai Lolo," ujarnya.


Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan paradigma pendidikan tinggi saat ini. Mahasiswa tidak lagi diposisikan hanya sebagai penerima ilmu, melainkan agen perubahan yang mampu berkolaborasi dengan masyarakat untuk menghadirkan solusi atas persoalan nyata.


Kampus Bukan Satu-satunya Ruang Belajar


Semangat serupa juga disampaikan Presiden Mahasiswa Universitas Andalas yang diwakili Menteri Kementerian Sosial Masyarakat (Kemensosmas).


Ia mengingatkan seluruh peserta agar menghilangkan rasa paling tahu ketika berada di tengah masyarakat. Baginya, keberhasilan sebuah pengabdian bukan diukur dari banyaknya materi yang disampaikan, tetapi dari kemampuan mahasiswa membangun hubungan yang setara dengan masyarakat.


Mahasiswa, katanya, harus mampu mendengarkan sebelum berbicara, memahami sebelum menawarkan solusi, dan menghargai budaya lokal sebelum melakukan perubahan.


Menurutnya, kehidupan masyarakat merupakan laboratorium terbesar yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh ruang kuliah. Di sanalah teori diuji, karakter ditempa, dan kepemimpinan dibangun melalui pengalaman langsung.


Pesan Rektorat: Semua Pergi, Semua Harus Pulang


Dukungan penuh juga datang dari pimpinan Universitas Andalas yang diwakili Kepala Bidang Humas.


Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah mempersiapkan ekspedisi selama berbulan-bulan. Baginya, keberangkatan ini merupakan wujud nyata komitmen mahasiswa Universitas Andalas dalam menjalankan salah satu pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat.


Di tengah antusiasme peserta, ia menitipkan pesan sederhana namun penuh makna.


"Jaga kesehatan. Sebanyak yang berangkat, sebanyak itu pula yang harus pulang."


Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa semangat mengabdi harus selalu diiringi dengan kesiapan fisik, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap keselamatan diri maupun rekan satu tim.


Kepolisian: Pengabdian Mahasiswa Perlu Dukungan Bersama


Ekspedisi Andalas juga mendapat perhatian dari Kepolisian Daerah Sumatera Barat.


Mewakili Kapolda Sumatera Barat, Kanit Binmas Fahnedi menyampaikan permohonan maaf karena Kapolda belum dapat hadir secara langsung. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kepolisian memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan pengabdian tersebut.


Menurutnya, kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat menjadi bagian penting dalam memperkuat pembangunan daerah, sehingga membutuhkan sinergi seluruh pihak.


Ia mengingatkan peserta untuk selalu menjaga keselamatan, mematuhi aturan di lokasi pengabdian, serta aktif berkoordinasi dengan aparat pemerintah maupun kepolisian apabila menghadapi kendala selama berada di lapangan.


"Dukungan ini merupakan bentuk kehadiran kami untuk masyarakat karena kepolisian adalah milik bersama. Jaga keselamatan dan selalu berkoordinasi dengan aparat setempat apabila menghadapi kendala," pesannya.


Pemerintah Provinsi: Jadikan Masyarakat Sebagai Guru Kehidupan


Puncak acara diisi dengan sambutan Gubernur Sumatera Barat yang diwakili Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), Widya.


Mengawali sambutannya, ia menyampaikan salam dan permohonan maaf dari Gubernur Sumatera Barat yang tidak dapat hadir secara langsung.


Widya mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menaruh harapan besar terhadap Ekspedisi Andalas. Program ini dinilai tidak hanya membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang tangguh, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.


Menurutnya, dipilihnya Aula Masjid Raya Sumatera Barat sebagai lokasi pelepasan bukanlah tanpa makna. Tempat tersebut menjadi simbol agar mahasiswa senantiasa menjadikan nilai agama dan budaya sebagai pedoman selama menjalankan pengabdian.


Ia mengingatkan peserta untuk selalu memegang teguh falsafah Minangkabau "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah", sebagai landasan dalam bersikap dan berinteraksi dengan masyarakat.


Dalam arahannya, Widya menyampaikan lima pesan penting kepada seluruh peserta.


Pertama, Ekspedisi Andalas harus menghasilkan dampak nyata yang dapat dirasakan masyarakat, bukan sekadar memenuhi agenda tahunan.


Kedua, lokasi pengabdian merupakan laboratorium kehidupan yang akan mengajarkan mahasiswa mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, serta membangun komunikasi dengan berbagai kalangan.


Ketiga, dunia kerja saat ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi, bekerja sama, dan rendah hati.


Keempat, mahasiswa harus menghormati adat istiadat dan budaya masyarakat di mana pun mereka berada karena keberhasilan pengabdian sangat bergantung pada kemampuan membangun kepercayaan masyarakat.


Kelima, integritas harus menjadi nilai utama yang dijaga setiap peserta. Mahasiswa membawa nama baik Universitas Andalas sehingga setiap tindakan akan mencerminkan marwah almamater.


Menembus Batas, Membawa Harapan


Prosesi pelepasan ditutup dengan pengibaran bendera Ekspedisi Andalas 2026 sebagai tanda dimulainya perjalanan panjang menuju Nagari Muaro Sungai Lolo.


Namun sesungguhnya, yang diberangkatkan hari itu bukan sekadar rombongan mahasiswa. Yang berangkat adalah semangat kolaborasi antara dunia pendidikan dan masyarakat, antara ilmu pengetahuan dan kearifan lokal, antara idealisme anak muda dan kebutuhan pembangunan daerah.


Di balik perjalanan menuju wilayah 3T, tersimpan harapan agar inovasi sederhana seperti pengolahan gambir menjadi sabun mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Lebih dari itu, para mahasiswa juga akan kembali ke kampus dengan bekal yang tidak bisa diperoleh dari buku atau ruang kuliah: pengalaman hidup, empati, kemampuan memimpin, serta pemahaman bahwa ilmu pengetahuan akan menemukan makna sejatinya ketika hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat.


Ekspedisi Andalas 2026 akhirnya menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi tidak berhenti pada gelar dan prestasi akademik. Pendidikan menemukan ruhnya ketika mahasiswa berani turun ke lapangan, mendengarkan masyarakat, dan menghadirkan perubahan, sekecil apa pun, yang mampu meninggalkan manfaat bagi sesama.


(*)


#UniversitasAndalas #Pendidikan #SumateraBarat

×
Berita Terbaru Update