Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Polemik LCC 4 Pilar Kalbar Memanas, SMAN 1 Pontianak Pilih Mundur dari Final Ulang

14 May 2026 | May 14, 2026 WIB Last Updated 2026-05-14T11:12:16Z

Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) pada Sabtu (9/5/26) (Tangkapan layar YouTube/MPRGOID)



D'On, Jakarta - Kontroversi pelaksanaan final Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat terus bergulir. Setelah muncul polemik penilaian juri yang dinilai tidak konsisten, pihak MPR RI memutuskan untuk menggelar final ulang. Namun keputusan tersebut justru mendapat respons tegas dari SMAN 1 Pontianak yang memilih menolak ikut serta dalam pelaksanaan ulang lomba.


Sikap itu diumumkan secara resmi melalui pernyataan tertulis yang diunggah akun Instagram sekolah @smasaptk.informasi pada Kamis (14/5/2026). Dalam surat yang ditandatangani Kepala Sekolah Indang Maryati tersebut, pihak sekolah menegaskan bahwa mereka tidak akan terlibat dalam final ulang sebagaimana diputuskan oleh MPR RI.


Keputusan tersebut menjadi sorotan publik karena muncul di tengah perdebatan mengenai objektivitas penilaian dalam ajang yang selama ini dianggap sebagai kompetisi prestisius untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada pelajar.


Polemik bermula saat berlangsungnya babak final LCC 4 Pilar tingkat Kalimantan Barat. Dalam pertandingan tersebut, muncul keberatan dari peserta terkait keputusan juri yang memberikan penilaian berbeda terhadap dua tim yang sama-sama memberikan jawaban keliru. Situasi itu memicu protes dan perdebatan, terutama di media sosial.


Banyak pihak menilai insiden tersebut mencederai prinsip keadilan dalam kompetisi akademik. Video dan potongan jalannya lomba pun ramai diperbincangkan warganet, memunculkan beragam opini tentang profesionalitas dewan juri dan mekanisme penilaian lomba.


Di tengah meningkatnya perhatian publik, Wakil Ketua MPR RI Ahmad Muzani akhirnya mengambil langkah dengan memutuskan agar babak final diulang.


“Kami memutuskan bahwa Lomba Cerdas Cermat tingkat Kalimantan Barat yang final akan dilakukan ulang pada waktu yang segera diputuskan secepatnya,” ujar Muzani di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (13/5/2026).


Muzani menegaskan, pelaksanaan ulang nantinya akan diawasi secara ketat dan melibatkan juri independen dari kalangan akademisi agar proses penilaian berlangsung lebih objektif dan transparan.


“Juri yang akan menjuri dalam lomba tersebut adalah juri independen,” katanya.


Tak hanya itu, pimpinan MPR juga disebut akan mengawasi langsung jalannya final ulang dari awal hingga akhir. Langkah ini diambil untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap pelaksanaan LCC 4 Pilar yang selama ini menjadi program pendidikan kebangsaan unggulan MPR RI.


Namun di saat MPR mencoba meredam polemik dengan mengulang pertandingan, SMAN 1 Pontianak justru memilih mengambil sikap berbeda.


Dalam pernyataan resminya, sekolah menegaskan bahwa langkah yang mereka lakukan sejak awal bukan untuk menjatuhkan pihak mana pun ataupun menganulir hasil lomba. Mereka menyebut protes yang disampaikan murni bertujuan memperoleh klarifikasi agar mekanisme lomba berjalan transparan, objektif, dan akuntabel.


“Sejak awal, SMAN 1 Pontianak tidak memiliki maksud untuk menganulir hasil lomba, melainkan semata-mata untuk memperoleh kejelasan melalui klarifikasi terhadap poin-poin yang dipersoalkan,” demikian bunyi pernyataan tersebut.


Sekolah juga menegaskan tetap menghormati hasil lomba yang telah ditetapkan dan menyampaikan dukungan penuh kepada SMAN 1 Sambas sebagai wakil Kalimantan Barat di tingkat nasional.


Sikap ini dinilai banyak pihak sebagai bentuk elegansi sekaligus penegasan prinsip. Alih-alih melanjutkan polemik, pihak sekolah memilih mengakhiri keterlibatan mereka dalam kompetisi ulang sambil tetap menjaga hubungan baik dengan peserta lain maupun penyelenggara.


Dalam delapan poin pernyataan sikap yang dirilis, pihak sekolah juga menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang terjadi. Mereka mengajak seluruh pihak menyelesaikan persoalan dengan semangat persatuan dan saling menghargai.


“SMAN 1 Pontianak memohon maaf atas kegaduhan yang terjadi, serta mengajak semua pihak untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan semangat kebersamaan, saling menghargai, dan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan,” tulis pihak sekolah.


Menariknya, di bagian akhir pernyataan tersebut, sekolah menutup dengan kalimat bernada optimistis: “Sampai Jumpa di LCC 4 Pilar 2027.”


Kalimat itu dianggap sebagai pesan bahwa meski memilih mundur dari final ulang tahun ini, mereka tetap berkomitmen mendukung kompetisi akademik dan pendidikan kebangsaan di masa mendatang.


Kasus ini kini menjadi perhatian luas, bukan hanya di Kalimantan Barat tetapi juga nasional. Banyak kalangan menilai polemik tersebut menjadi pelajaran penting mengenai pentingnya profesionalitas, transparansi, dan konsistensi penilaian dalam ajang kompetisi pelajar.


Di sisi lain, respons terbuka para peserta juga dipandang sebagai bentuk pendidikan demokrasi yang nyata. Bahkan, Ahmad Muzani secara khusus mengapresiasi keberanian peserta dalam menyampaikan keberatan secara terbuka.


“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada peserta lomba yang menggunakan haknya untuk menyampaikan pandangan, kebebasan berbicara, dan menyampaikan protes atas ketidakpuasannya,” ujar Muzani.


Polemik final LCC 4 Pilar Kalbar ini pun menjadi pengingat bahwa dalam dunia pendidikan, bukan hanya kemenangan yang penting, tetapi juga bagaimana nilai keadilan, integritas, dan sportivitas dijaga di setiap proses kompetisi.


(L6)


#Nasional #Kontroversi #CerdasCermat

×
Berita Terbaru Update