Dirgantaraonline - Hujan malam itu turun tanpa kompromi. Tahun 2004, langit Padang seperti runtuh, menumpahkan air tanpa jeda. Di kawasan Alai Timur menuju Ampang, genangan air perlahan berubah menjadi banjir yang melumpuhkan jalan. Lampu kendaraan memantul di permukaan air yang keruh, menciptakan suasana yang mencekam sekaligus sunyi.
Di tengah situasi itu, sebuah mobil Kijang pick up berwarna kusam terjebak. Mesin mendadak mati. Tak bisa dihidupkan lagi. Di dalamnya, seorang pria yang kini dikenal sebagai Mastilizal Aye hanya bisa menarik napas panjang.
Malam semakin larut. Jarum jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Hujan tak kunjung reda. Jalanan mulai macet karena kendaraan lain ikut terjebak.
Tanpa pilihan, ia turun dari mobil. Air dingin merendam kaki. Dengan tenaga seadanya, ia mendorong mobil ke pinggir jalan, berharap tak menambah kemacetan. Di balik tubuh yang basah kuyup, ada tanggung jawab lain yang jauh lebih besar seorang anak kecil berusia 3 tahun yang ikut bersamanya malam itu.
Anak itu digendong. Tubuh mungilnya dipeluk erat, berusaha dilindungi dari derasnya hujan dan dinginnya angin malam. Langkah demi langkah, ia berjalan mencari tempat berteduh. Dalam gelap, dalam cemas, dalam keadaan yang serba tak pasti.
Dan di saat itulah, sesuatu yang sederhana namun luar biasa terjadi.
Sebuah mobil Suzuki Carry berhenti.
Dari dalam, seorang pria membuka kaca dan bertanya singkat,
“Tujuan ke mana, Pak?”
“Lapai, Pak,” jawabnya lirih.
Tanpa banyak tanya, tanpa curiga, tanpa syarat
“Naiklah, biar saya antar.”
Kalimat itu sederhana. Tapi di tengah malam yang dingin, ia terasa seperti pelukan hangat dari langit.
Ia naik bersama anaknya. Basah, lelah, dan masih diliputi rasa tidak percaya bahwa di tengah situasi sesulit itu, ada tangan asing yang begitu tulus membantu.
Tak ada nama yang ditanyakan. Tak ada identitas yang dicatat. Perjalanan itu hanya diisi oleh keheningan yang penuh makna.
Namun bantuan itu sampai. Ia diantar hingga tujuan dengan selamat.
Dan setelah itu mereka berpisah.
Tanpa jejak.
Tanpa kabar.
Tanpa pernah tahu lagi siapa sosok baik itu.
Bertahun-tahun telah berlalu. Hidup terus berjalan. Kini, Mastilizal Aye berdiri sebagai salah satu pimpinan legislatif di Kota Padang. Banyak hal telah berubah dalam hidupnya. Namun satu hal tetap tinggal kenangan tentang seorang lelaki asing yang memilih berhenti di tengah hujan.
Bukan karena kewajiban.
Bukan karena dikenal.
Tapi karena kemanusiaan.
“Pertolongannya sangat berarti,” kenangnya. “Sampai hari ini saya tidak tahu di mana beliau berada.”
Dalam diam, doa tak pernah putus ia kirimkan.
Al-Fatihah untuk sosok itu.
Semoga hidupnya dilapangkan.
Semoga anak-anaknya tumbuh dalam kebahagiaan.
Semoga ia selalu dalam lindungan Allah SWT.
Aamiin.
Kisah ini sederhana. Tidak viral. Tidak terekam kamera. Tidak menjadi berita utama.
Namun justru di situlah letak kekuatannya.
Di negeri yang sering dipenuhi cerita tentang kejahatan dan keburukan, kisah-kisah seperti ini kerap tenggelam. Padahal, di sudut-sudut kehidupan, kebaikan masih hidup diam-diam, tanpa sorotan.
Malam itu, di tengah banjir dan gelapnya jalanan Padang, seorang manusia memilih untuk berhenti… dan menolong manusia lain.
Dan mungkin, tanpa ia sadari
kebaikannya telah hidup puluhan tahun dalam ingatan seseorang.
Pesan yang tersisa:
Masih banyak orang baik di negeri ini.
Hanya saja, mereka jarang bercerita.
Kini, mungkin giliran kita.
Untuk tidak hanya mengingat kebaikan tetapi juga melakukannya.
(***)
#KisahInspiratif
