Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Humanisme di Balik Seragam: Sentuhan Kepemimpinan Mohammad Reza Chairul Akbar Ubah Wajah Lalu Lintas Sumbar

30 April 2026 | April 30, 2026 WIB Last Updated 2026-04-30T07:28:47Z

Humanisme di Balik Seragam: Sentuhan Kepemimpinan Mohammad Reza Chairul Akbar Ubah Wajah Lalu Lintas Sumbar



Dirgantaraonline - Dalam riuh deru kendaraan yang tak pernah benar-benar tidur di Sumatera Barat, ada satu sosok yang perlahan mengubah cara masyarakat memandang polisi lalu lintas. Bukan lagi sekadar penegak aturan di persimpangan jalan, melainkan figur yang hadir dengan empati, teknologi, dan sentuhan kemanusiaan. Dialah Mohammad Reza Chairul Akbar.


Di Balik Peluit dan Seragam


Pagi di jalanan Padang sering dimulai dengan pemandangan yang tak biasa. Seorang polisi lalu lintas membungkuk membantu seorang lansia menyeberang. Di titik lain, petugas mendorong mobil mogok di tanjakan ekstrem Sitinjau Lauik. Tak ada nada keras, tak ada wajah tegang yang ada justru senyum dan sapaan hangat.


Itulah wajah baru Polantas di bawah kepemimpinan Reza Chairul.


“Polisi itu harus hadir sebagai penolong,” menjadi prinsip yang tak hanya diucapkan, tapi dijalankan. Dalam satu tahun kepemimpinannya, ia berhasil menggeser paradigma lama: dari aparat yang ditakuti menjadi sahabat di jalan raya.


Satu Tahun, Satu Perubahan Besar


Setahun mungkin terdengar singkat. Tapi bagi Reza, setiap hari adalah ruang untuk berbenah.


Ia tidak datang dengan gebrakan yang kaku. Sebaliknya, ia merangkai perubahan dengan pendekatan yang halus namun konsisten. Ketegasan tetap ada, tetapi dibalut dengan komunikasi yang menyentuh.


Program “Polantas Hadir” menjadi wajah nyata dari pendekatan ini. Masyarakat tak lagi asing melihat polisi turun langsung membantu, bahkan dalam hal-hal sederhana yang sebelumnya sering diabaikan.


Di situlah letak kekuatannya membangun kepercayaan dari tindakan kecil yang berdampak besar.


Teknologi yang Membawa Transparansi


Di era digital, Reza memahami bahwa kepercayaan publik juga dibangun dari sistem yang bersih dan transparan.


Implementasi Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE), baik statis maupun mobile, menjadi tonggak penting. Tilang elektronik mengurangi interaksi langsung yang rawan disalahartikan, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk patuh tanpa diawasi.


Tak berhenti di sana, layanan SIM dan Samsat juga berbenah. Proses yang dulunya identik dengan antrean panjang kini menjadi lebih cepat, jelas, dan akuntabel.


Ini bukan sekadar modernisasi ini adalah bentuk penghormatan terhadap waktu dan hak masyarakat.


Humanis Tapi Tetap Tegas


Pendekatan humanis bukan berarti lunak tanpa arah.


Penertiban knalpot brong, misalnya, tetap dilakukan dengan tegas. Namun pendekatannya berbeda lebih edukatif, lebih dialogis. Komunitas otomotif diajak bicara, bukan sekadar ditindak.


Dalam kampanye “Zero Accident”, data dan pemetaan titik rawan kecelakaan menjadi dasar kebijakan. Ini menunjukkan bahwa empati yang dibangun Reza bukan tanpa strategi justru berbasis analisis yang kuat.


Dan saat bencana datang, ia tak berdiri di belakang meja. Ia turun langsung ke lapangan, memimpin evakuasi, mengatur lalu lintas, memastikan bantuan sampai tepat waktu.


Merangkul Kearifan Lokal


Di tanah Minangkabau yang kental dengan nilai adat, Reza tidak berjalan sendiri.


Ia merangkul niniak mamak, tokoh masyarakat, hingga generasi muda. Setiap kebijakan yang lahir bukan sekadar instruksi, tapi hasil dialog.


Pendekatan ini membuat aturan tidak terasa dipaksakan, melainkan tumbuh sebagai bagian dari kesadaran bersama.


Karena baginya, ketertiban sejati tidak lahir dari rasa takut tetapi dari saling menghargai.


Jalan yang Lebih Manusiawi


Satu tahun kepemimpinan Mohammad Reza Chairul Akbar bukan hanya tentang angka penurunan pelanggaran atau kecelakaan.


Ini adalah cerita tentang perubahan cara pandang.


Tentang bagaimana seragam cokelat bisa terasa lebih dekat. Tentang bagaimana peluit di persimpangan tak lagi identik dengan ketegangan, tetapi dengan rasa aman.


Di tangan Reza, jalan raya di Sumatera Barat perlahan berubah bukan hanya menjadi lebih tertib, tetapi juga lebih manusiawi.


Dan mungkin, di situlah makna sebenarnya dari kehadiran polisi: bukan sekadar mengatur lalu lintas, tetapi menjaga kehidupan yang bergerak di atasnya.


(Mond)


#PoldaSumbar #DirlantasPoldaSumbar #SumateraBarat

×
Berita Terbaru Update