-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Netanyahu Target Utama Iran, Trump Disebut “Pion”, Teheran Klaim Pantau Setiap Gerak

04 March 2026 | March 04, 2026 WIB Last Updated 2026-03-04T10:11:53Z

Benjamin Netanyahu 



D'On, Iran - Ketegangan geopolitik kembali memanas. Mayor Jenderal Iran, Yahya Rahim Safavi, melontarkan pernyataan keras yang langsung mengguncang poros Washington–Tel Aviv. Ia menegaskan bahwa aparat intelijen Teheran tengah melakukan pengawasan ketat terhadap target Amerika Serikat dan Israel dan nama Benjamin Netanyahu disebut secara terbuka.


Dalam wawancara yang disiarkan televisi pemerintah Iran pada 3 Maret 2026, Safavi mengklaim pihaknya bahkan mengetahui lokasi pertemuan Netanyahu pada hari tersebut.

 

“Basis data intelijen kami lengkap. Kami mengetahui lokasi pertemuan Netanyahu,” tegasnya.


Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Safavi adalah mantan panglima tertinggi Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) periode 1997–2007, figur militer yang memiliki pengaruh strategis dalam kebijakan pertahanan Iran.


Trump Disebut “Pion”, AS Dituding Korbankan Kepentingan Sendiri


Tak berhenti di Netanyahu, Safavi juga menyeret nama mantan Presiden AS, Donald Trump. Ia menyebut Trump sebagai “pion di tangan Netanyahu” yang dinilai telah mengorbankan kepentingan nasional Amerika demi kepentingan Israel.


Safavi bahkan menyinggung keresahan internal di Amerika Serikat. Menurutnya, banyak politisi di Washington mempertanyakan mengapa uang pajak rakyat dan nyawa tentara AS harus dipertaruhkan demi agenda Israel.


Pernyataan ini berpotensi memperkeruh dinamika politik AS–Israel yang selama ini dikenal solid, terutama dalam isu keamanan Timur Tengah.


Iran Klaim Siap Tempur: Rudal dan Drone Naik 10 Kali Lipat


Safavi mengungkapkan bahwa Iran telah mengantisipasi potensi serangan lanjutan pasca “perang 12 hari” dengan Israel pada Juni 2025. Dalam periode itu, Teheran disebut meningkatkan kemampuan rudal dan drone ofensif hingga sepuluh kali lipat.


Langkah ini disebut sebagai respons atas apa yang mereka nilai sebagai “penilaian strategis keliru” dari operasi gabungan AS–Israel yang menganggap Iran melemah akibat konflik sebelumnya.

 

“Mereka hanya menghancurkan bangunan kosong tanpa pasukan, tanpa penjaga, tanpa anggota Basij di dalamnya,” klaim Safavi.


Iran menegaskan serangan tersebut tidak menyentuh kekuatan inti militernya.


Gagal Ganti Rezim?


Safavi juga menuding tujuan utama kampanye AS–Israel adalah perubahan rezim, pembubaran, hingga penaklukan Iran. Namun ia menegaskan misi itu tidak akan pernah tercapai.


Ia bahkan menyatakan keyakinannya bahwa Ali Khamenei akan segera memiliki penerus setelah Majelis Pakar membentuk Dewan Kepemimpinan sementara  sebuah sinyal bahwa Teheran telah menyiapkan skenario transisi kekuasaan di tengah tekanan eksternal.


Pernyataan keras Safavi menjadi alarm baru di kawasan yang sudah lama menjadi ladang rivalitas geopolitik. Dengan intelijen yang diklaim “mengetahui setiap pergerakan”, peningkatan kekuatan militer, serta retorika yang semakin terbuka menyerang Washington dan Tel Aviv, pertanyaan besar kini menggantung:


Apakah ini sekadar perang psikologis, atau babak baru konfrontasi terbuka sedang disiapkan?


(*)


#Internasional #Iran

×
Berita Terbaru Update