-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kabais TNI Yudi Abrimantyo Mundur Usai Kasus Teror Air Keras Aktivis Andrie Yunus

25 March 2026 | March 25, 2026 WIB Last Updated 2026-03-25T14:33:00Z

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen Aulia Dwi Nasrullah, saat menggelar konferensi pers di Markas Besar (Mabes) TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (25/3/2026). 



D'On, Jakarta - Langkah mundur Yudi Abrimantyo dari kursi Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI bukan sekadar pergantian jabatan. Ini adalah alarm keras: ada krisis serius di tubuh intelijen militer yang tak lagi bisa disembunyikan.


Pengunduran diri ini terjadi di tengah pusaran kasus teror penyiraman air keras terhadap aktivis HAM Andrie Yunus sebuah serangan yang oleh banyak pihak mulai dipandang bukan sebagai aksi kriminal biasa, melainkan dugaan operasi intimidasi terhadap suara kritis.


Empat prajurit TNI telah diamankan. Fakta yang tak bisa diabaikan: mereka berasal dari Detasemen Markas BAIS—lingkar dalam intelijen strategis. Ini bukan pinggiran. Ini inti.


Pertanyaannya kini jauh lebih tajam:
bagaimana mungkin personel dari pusat intelijen diduga terlibat dalam aksi teror terhadap warga sipil tanpa ada sistem yang gagal atau bahkan membiarkan?


Pernyataan resmi dari Aulia Dwi Nasrullah bahwa penyelidikan akan dilakukan “profesional dan transparan” belum mampu meredakan kecurigaan publik. Sebab pengalaman berulang menunjukkan kasus yang menyentuh institusi bersenjata kerap berhenti di pelaku lapangan.


Kini tekanan mengarah ke satu titik krusial:
rantai komando.


Organisasi sipil seperti KontraS secara terbuka menuntut agar penyelidikan menembus batas “oknum”. Siapa yang memberi perintah? Siapa yang mengetahui? Dan yang paling mengkhawatirkan apakah ini bagian dari pola yang lebih luas dalam membungkam kritik?


Pengunduran diri Yudi Abrimantyo pun memunculkan tafsir yang tak bisa dihindari:
apakah ini bentuk tanggung jawab sejati…
atau langkah cepat untuk memutus jalur pertanggungjawaban lebih tinggi?


Hingga kini, Mabes TNI belum memberikan kejelasan soal mekanisme mundurnya Kabais maupun siapa penggantinya. Kekosongan informasi ini justru mempertebal spekulasi bahwa ada sesuatu yang sedang dijaga tetap gelap.


Kasus ini telah melampaui peristiwa kekerasan. Ini adalah ujian terbuka bagi komitmen negara terhadap demokrasi dan perlindungan warga sipil.


Jika benar aparat negara bisa diarahkan untuk menyerang aktivis, maka yang terancam bukan hanya satu orang 
melainkan seluruh ruang kebebasan.

Dan publik kini tidak lagi hanya menuntut pelaku dihukum.
Mereka menuntut kebenaran dibuka hingga ke puncak.


(MD)


#TNI #Militer #KontraS #AndrieYunus #BAIS

×
Berita Terbaru Update