-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras, Dugaan Teror Terhadap Suara Kritis Menguat

14 March 2026 | March 14, 2026 WIB Last Updated 2026-03-13T22:52:02Z




D'On, JAKARTA — Serangan brutal terhadap aktivis hak asasi manusia kembali terjadi. Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras oleh orang tak dikenal pada Kamis (12/03) malam sekitar pukul 23.00 WIB.


Peristiwa itu terjadi tak lama setelah Andrie selesai melakukan perekaman siniar (podcast) di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta. Podcast tersebut mengangkat tema sensitif, yakni “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia.”


Serangan keji itu menyebabkan luka bakar serius pada tubuh Andrie. Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, menyatakan korban mengalami luka di berbagai bagian tubuh.


“Serangan penyiraman air keras ini mengakibatkan luka serius di sekujur tubuh, terutama pada tangan kanan dan kiri, wajah, dada, serta area mata,” ujar Dimas dalam pernyataan resminya.


Andrie kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk mendapatkan penanganan medis intensif. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, korban mengalami luka bakar sekitar 24 persen.


KontraS menilai peristiwa ini bukan sekadar tindak kriminal biasa. Serangan tersebut diduga kuat sebagai teror terhadap aktivis dan upaya membungkam suara kritis masyarakat, khususnya para pembela HAM yang selama ini vokal mengkritik kebijakan negara.


Kasus ini dinilai melanggar berbagai ketentuan perlindungan pembela HAM, termasuk yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia serta Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.


KontraS menegaskan bahwa aparat penegak hukum tidak boleh lamban atau setengah hati dalam menangani kasus ini.


“Peristiwa ini harus mendapat perhatian serius. Kepolisian harus segera mengusut tuntas siapa pelaku dan apa motif di balik serangan keji tersebut,” tegas Dimas.


Ia juga mengingatkan bahwa penyiraman air keras bukan hanya menyebabkan luka permanen, tetapi juga berpotensi merenggut nyawa korban.


Kasus ini menambah daftar panjang ancaman terhadap aktivis dan pembela HAM di Indonesia. Jika pelaku tidak segera diungkap, publik khawatir praktik teror terhadap suara kritis akan terus berulang tanpa konsekuensi hukum yang tegas.


(Mond)


#KontraS #Peristiwa

×
Berita Terbaru Update