Dirgantaraonline - Matahari condong ke barat, memantulkan cahaya jingga di atas pasir yang masih basah oleh darah dan debu peperangan. Suasana pasca-perang biasanya diisi dengan penghitungan rampasan dan pencarian korban. Namun hari itu, perhatian Rasulullah tertuju pada satu hal yang tak kasatmata: seorang manusia yang hilang, tapi luput dari hitungan sosial.
Dengan suara tenang namun mengandung kegelisahan, Nabi Muhammad bertanya kepada para sahabat,
“Apakah kalian kehilangan seseorang?”
Nama-nama yang disebut adalah mereka yang selama ini dianggap “penting”: tokoh kabilah, orang terpandang, pemilik harta, dan wajah yang dikenal. Pertanyaan itu diulang hingga tiga kali. Hingga akhirnya para sahabat menjawab,
“Tidak, kami tidak kehilangan siapa pun lagi.”
Namun Rasulullah justru berkata,
“Akan tetapi aku kehilangan Julaibib. Carilah dia di antara jenazah.”
Pencarian itu berakhir pada sebuah pemandangan yang menggetarkan hati: Julaibib terbaring syahid, dikelilingi tujuh jasad musuh yang berhasil ia tumbangkan sebelum gugur.
Kisah ini tercatat dalam Shahih Muslim nomor 2472, pada bab Min Fadha’il Julaibib. Namun, siapakah Julaibib sebenarnya hingga kehilangannya tak disadari, tetapi begitu diratapi langit?
Tanpa Nasab, Tanpa Perlindungan Sosial
Julaibib adalah potret paling jujur tentang manusia yang ditolak oleh standar dunia. Ia digambarkan memiliki tubuh pendek dan penampilan yang tidak menarik. Kitab Usd al-Ghabah fi Ma’rifat al-Sahabah karya Ibnu al-Atsir menyebutnya sebagai damīm.rupa yang membuat orang enggan menatap lama.
Lebih menyakitkan lagi, nasabnya tidak jelas. Dalam masyarakat Arab kala itu, ketiadaan kabilah berarti ketiadaan perlindungan. Ibnu Sa‘ad, sebagaimana dikutip Imam Ibnu al-Jauzi dalam Sifat al-Shafwah, hanya menyebut bahwa Julaibib memiliki keterkaitan jauh dengan Bani Tsa‘labah dari kaum Anshar.
Ia sering dihindari. Bahkan, sahabat Nabi sendiri, Abu Barzah Al-Aslami, diriwayatkan pernah melarang keluarganya mendekati Julaibib.
Ia dianggap gangguan padahal ia muslim, bersyahadat, salat, dan berpuasa bersama mereka.
Yang melihat kesepian itu bukan manusia, tetapi Nabi Muhammad.
Lamaran yang Meruntuhkan Kasta Sosial
Suatu hari, Rasulullah mendekati Julaibib dan menawarkan sesuatu yang nyaris mustahil baginya: pernikahan.
“Siapa yang mau menikahkan putrinya denganku, wahai Rasulullah?” tanya Julaibib lirih.
“Aku tidak punya harta, tidak punya kedudukan…”
Jawaban Rasulullah menghantam langsung jantung inferioritas itu:
“Namun di sisi Allah, engkau bukanlah orang yang hina.”
Rasulullah bahkan menjadi wali Julaibib, melamarkannya kepada seorang gadis Anshar dari keluarga terpandang, sebagaimana dicatat Imam Al-Baghawi dalam Syarh al-Sunnah.
Reaksi orang tua sang gadis mencerminkan realitas sosial saat itu: penolakan. Namun sang putri perempuan muda yang salehah dan berakal menjawab dengan keteguhan iman.
“Apakah kalian akan menolak perintah Rasulullah?
Serahkan urusanku kepadanya, karena ia tidak akan menyia-nyiakanku.”
Ia mengutip firman Allah dalam QS. Al-Ahzab ayat 36. Keimanannya meluluhkan orang tuanya. Pernikahan pun terjadi.
Rasulullah berdoa khusus untuknya, sebagaimana dicatat dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim karya Ibnu Katsir:
“Ya Allah, limpahkan kebaikan kepadanya dan jangan jadikan hidupnya sempit.”
Syahid dan Kemuliaan yang Tak Pernah Diberikan Dunia
Tak lama setelah menikah, seruan jihad kembali menggema. Julaibib berangkat tanpa ragu. Di medan perang, ia bertarung tanpa nama besar hanya iman.
Ia membunuh tujuh musuh sebelum akhirnya gugur.
Saat Rasulullah menemukan jasadnya, beliau berdiri lama, lalu bersabda dengan suara bergetar:
“Dia dariku, dan aku darinya.”
Ucapan itu diulang tiga kali.
Untuk Julaibib, Rasulullah melakukan sesuatu yang jarang: mengangkat jenazahnya dengan kedua lengan beliau sendiri, lalu memakamkannya tanpa dimandikan tanda syahid.
Dari Terasing Menjadi Kekasih Langit
Tsabit al-Bunani meriwayatkan, istri Julaibib kemudian menjadi wanita paling berkah di Madinah hidupnya lapang, hartanya melimpah, dan ia dikenal dermawan.
Julaibib yang dulu tak diperhitungkan manusia, justru menjadi kekasih langit.
Pelajaran Abadi
Kisah Julaibib adalah tamparan bagi dunia yang masih menilai manusia dari rupa, harta, dan status. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan sejati tidak lahir dari pengakuan sosial, tetapi dari keberterimaan di sisi Allah.
Dan pada hari itu, di medan perang yang sunyi, Nabi Muhammad memastikan:
tak ada satu pun manusia beriman yang layak dilupakan.
(*)
#SirahRasulullah #Islami #Religi
