D'On, Jakarta - Bencana banjir bandang yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatra meninggalkan duka mendalam. Hingga pertengahan Februari 2026, sebanyak 1.205 orang dilaporkan meninggal dunia dan 339 orang lainnya masih dinyatakan hilang akibat bencana yang menerjang Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
Data terbaru tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Sumatra, Tito Karnavian, dalam rapat kerja antara pemerintah dan DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (18/2).
Korban Jiwa Capai Ribuan, Aceh Paling Parah
Dalam paparannya, Tito mengungkapkan bahwa Aceh menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbanyak, yakni 562 orang, disusul Sumatera Utara 376 orang dan Sumatera Barat 267 orang.
Sementara itu, 339 warga masih belum ditemukan, dengan rincian:
- Sumatera Barat: 70 orang hilang
- Sumatera Utara: 40 orang hilang
- Aceh: 29 orang hilang
Tim SAR gabungan hingga kini masih melakukan pencarian di sejumlah titik yang sulit dijangkau, terutama di wilayah perbukitan dan daerah aliran sungai yang tertimbun material banjir.
Dampak Luas: 52 Kabupaten/Kota Terdampak
Banjir bandang tersebut tercatat melanda 52 kabupaten/kota, mencakup 491 kecamatan dan 4.511 desa. Skala kerusakan disebut sebagai salah satu yang terluas dalam satu dekade terakhir di Sumatra.
“Kerusakan rumah terjadi di hampir seluruh wilayah terdampak, baik kategori ringan, sedang, hingga rumah yang hanyut dan hilang,” ujar Tito dalam rapat.
Selain permukiman warga, fasilitas umum mengalami kerusakan serius, meliputi:
- Sekolah dan sarana pendidikan
- Fasilitas kesehatan
- Jalan dan jembatan penghubung antarwilayah
- Rumah ibadah, baik masjid maupun gereja
Sumatera Barat: Pengungsi Nihil, Pemulihan Berjalan
Di Sumatera Barat, sebanyak 16 dari 19 kabupaten/kota terdampak, dengan 125 kecamatan mengalami kerusakan. Meski mencatat korban jiwa dan kehilangan, Tito menyebut seluruh pengungsi di Sumbar kini sudah kembali ke rumah masing-masing.
“Berdasarkan catatan dan konfirmasi langsung dengan kepala daerah, saat ini tidak ada lagi warga Sumbar yang tinggal di tenda pengungsian,” ungkapnya.
Sumatera Utara: Ribuan Rumah Rusak, Pengungsi Tersisa di Tapteng
Di Sumatera Utara, banjir berdampak pada 18 dari 33 kabupaten/kota. Sekitar 30.000 rumah rusak, mencakup berbagai tingkat kerusakan.
Jumlah pengungsi yang semula mencapai 53.523 orang, kini berkurang drastis. Namun, sebanyak 850 warga masih bertahan di tenda pengungsian, terutama di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), akibat banjir susulan yang kembali terjadi beberapa waktu lalu.
Aceh: Kerusakan Terbesar, Ratusan Ribu Rumah Terdampak
Wilayah Aceh menjadi daerah dengan dampak paling kompleks. Banjir melanda 18 kabupaten/kota, 203 kecamatan, dan 3.046 desa.
Selain korban jiwa tertinggi, kerusakan rumah di Aceh mencapai 262.258 unit, yang diklasifikasikan dalam kategori ringan, sedang, hingga rusak berat.
Jumlah pengungsi di Aceh yang semula menembus 1,4 juta orang, kini menyusut menjadi 12.144 warga yang masih tinggal di tenda. Konsentrasi pengungsi terbesar berada di:
- Aceh Utara (5.197 orang)
- Aceh Tenggara
- Aceh Tamiang
- Aceh Timur
- Bener Meriah
- Bireuen
- Gayo Lues
- Lhokseumawe
- Nagan Raya
Pemerintah Fokus Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Pemerintah pusat menegaskan bahwa fase tanggap darurat kini mulai bergeser ke rehabilitasi dan rekonstruksi, dengan prioritas pada pemulihan rumah warga, infrastruktur vital, serta fasilitas pendidikan dan kesehatan.
“Yang terpenting saat ini adalah memastikan masyarakat bisa kembali hidup normal dengan aman dan bermartabat,” tutup Tito.
(L6)
#UpdateKorbanBanjirSumatera #Nasional
