-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dari Subuh Berjamaah, Harapan Itu Dimulai: Pesantren Ramadhan Al-Kafah Lahirkan Generasi Qurani

23 February 2026 | February 23, 2026 WIB Last Updated 2026-02-23T06:06:17Z





D'On, PADANG — Fajar baru saja merekah di langit timur Kota Padang, Senin (23/2/2026). Udara pagi masih menyisakan kesejukan ketika gema salam usai sholat Subuh berjamaah perlahan mereda di dalam Masjid Al-Kafah, Kampung Jua. Namun pagi itu, suasananya terasa berbeda.


Di saf-saf bagian tengah, puluhan anak berseragam sekolah duduk rapi. Ada yang mengenakan seragam putih-merah, sebagian lainnya putih-biru. Wajah-wajah polos itu memancarkan semangat yang sulit disembunyikan. Di antara mereka, para guru pendamping dan orang tua mengamati dengan mata berbinar seolah menyadari bahwa pagi itu bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan awal perjalanan penting bagi generasi muda.


Usai doa bersama, Pesantren Ramadhan tingkat SD dan SMP resmi dibuka. Kegiatan ini akan berlangsung hingga 15 Maret 2026, mengusung tema “Membentuk Generasi Qurani, Berakhlak Mulia, dan Cinta Masjid.”


Masjid Muda, Semangat yang Tumbuh


Masjid Al-Kafah memang masih tergolong baru berdiri. Namun pagi itu, ia menunjukkan denyut kehidupan yang nyata. Lantunan ayat suci yang menggema, langkah kecil anak-anak yang memenuhi ruang ibadah, serta keterlibatan aktif jamaah menjadi bukti bahwa masjid tidak hanya berdiri secara fisik, tetapi juga hidup secara ruhani.


Lurah Kampung Jua, Os Hendri, yang membuka secara resmi kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi mendalam. Menurutnya, tidak semua masjid baru mampu langsung menghadirkan kegiatan pembinaan berskala cukup besar yang menyentuh langsung karakter generasi muda.


“Ini bukan hanya pembukaan pesantren, tetapi tanda bahwa masjid ini sudah hidup—hidup dengan ilmu, kebersamaan, dan harapan,” ujarnya di hadapan jamaah.


Kalimat itu seakan menguatkan makna pagi tersebut: masjid bukan sekadar bangunan, tetapi pusat peradaban kecil yang mulai bertumbuh.


Simbol Awal Sebuah Perjalanan


Momen paling mengharukan terjadi saat pemasangan kokarde kepada perwakilan peserta. Satu per satu anak maju ke depan. Dengan wajah campuran antara bangga dan gugup, mereka menerima tanda peserta.


Tepuk tangan jamaah pecah memenuhi ruangan. Ada senyum haru di wajah orang tua. Di mata sebagian guru, tersimpan doa agar langkah kecil itu kelak menjadi pijakan besar dalam kehidupan mereka.


Kokarde itu mungkin hanya selembar tanda pengenal. Namun pagi itu, ia menjelma simbol dimulainya perjalanan sebagai generasi Qurani anak-anak yang bukan hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga menanamkannya dalam perilaku dan akhlak sehari-hari.


Bukan Sekadar Mengaji


Ketua panitia, Eni Dewita, menjelaskan bahwa sebanyak 40 siswa telah mendaftar dalam Pesantren Ramadhan tahun ini. Selama hampir tiga pekan, mereka tidak hanya akan belajar membaca dan memahami Al-Qur’an, tetapi juga memperdalam praktik ibadah, pembinaan akhlak, serta pembiasaan kedisiplinan.


“Anak-anak ini kita harapkan tidak hanya pandai mengaji, tetapi juga tumbuh dengan karakter yang baik dan kecintaan pada masjid,” ujarnya.


Sebagai bentuk perhatian dan penyemangat, panitia juga membagikan kopiah bagi peserta laki-laki dan jilbab bagi peserta perempuan. Pemberian sederhana itu menjadi simbol keseriusan pembinaan bahwa setiap detail kecil pun diperhatikan demi menumbuhkan rasa bangga menjadi bagian dari kegiatan keagamaan.


Haru Seorang Ketua Masjid


Suasana semakin menyentuh ketika Ketua Masjid, Aprizal Tamboresi, menyampaikan sambutannya. Dengan suara bergetar, ia mengungkapkan rasa syukur yang mendalam.


“Masjid ini masih muda, tetapi pagi ini kita melihat masa depannya,” katanya pelan.


Baginya, Pesantren Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah investasi iman. Sebuah upaya menanam benih yang mungkin tidak langsung terlihat hasilnya hari ini, tetapi akan tumbuh dan berbuah di masa mendatang.


Ia juga menyampaikan terima kasih kepada jamaah dan panitia yang bergotong royong menyukseskan kegiatan tersebut. Dari sumbangan tenaga, waktu, hingga materi, semua menjadi bukti bahwa kebersamaan masih menjadi kekuatan utama masyarakat.


Bagian dari Smart Surau


Dalam sambutan tertulis Wali Kota Padang, Fadly Amran, yang dibacakan pada pembukaan, ditegaskan bahwa Pesantren Ramadhan merupakan bagian dari penguatan program Smart Surau. Program ini bertujuan menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan karakter generasi muda agar tumbuh religius, disiplin, serta berakhlak mulia.


Smart Surau bukan sekadar jargon. Ia adalah upaya mengembalikan fungsi masjid sebagaimana dahulu: sebagai pusat pendidikan, pembinaan moral, dan penguatan nilai-nilai sosial di tengah masyarakat.


Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks arus digital yang tak terbendung, krisis keteladanan, hingga pergeseran nilai pesantren Ramadhan di masjid-masjid menjadi oase yang menyejukkan.


Harapan yang Dititipkan pada Fajar


Pagi itu, di Masjid Al-Kafah, yang dimulai bukan hanya rangkaian kegiatan. Sebuah harapan sedang ditanam. Harapan bahwa dari masjid yang masih muda, akan lahir generasi yang kelak menjadi cahaya bagi lingkungan sekitarnya.


Anak-anak itu mungkin belum sepenuhnya memahami makna besar dari langkah yang mereka ambil. Namun setiap Subuh yang mereka jalani, setiap ayat yang mereka baca, setiap nasihat yang mereka dengarkan, perlahan akan membentuk fondasi jiwa.


Dari Subuh berjamaah, harapan itu dimulai.


Dan dari saf-saf kecil di Masjid Al-Kafah, masa depan sedang disiapkan sunyi, tekun, tetapi penuh cahaya.


(Tambo)


#Padang #Daerah #Islami #Religi

×
Berita Terbaru Update