
6 Cara Dampingi Anak Jalani Puasa Pertama di Ramadhan. (Foto : Freepik)
Dirgantaraonline - Puasa pertama menjadi momen penting dalam perjalanan spiritual seorang anak. Bagi sebagian orang tua, ini adalah fase yang membanggakan. Namun di sisi lain, puasa juga bisa menjadi tantangan besar bagi anak yang belum terbiasa menahan lapar, haus, dan emosi.
Agar puasa pertama tidak menjadi pengalaman yang berat, orang tua perlu mendampingi dengan pendekatan yang tepat. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pemahaman, empati, dan keteladanan. Berikut enam cara efektif mendampingi anak menjalani puasa pertama di bulan Ramadhan.
1. Kenalkan Makna Puasa dengan Cara Sederhana
Anak tidak membutuhkan penjelasan puasa yang rumit. Yang mereka perlukan adalah pemahaman sederhana sesuai usia dan daya tangkapnya. Orang tua bisa menjelaskan puasa sebagai latihan sabar, belajar menahan diri, dan bentuk ketaatan kepada Allah.
Gunakan bahasa yang positif dan mudah dipahami. Dengan begitu, anak tidak menganggap puasa sebagai beban, melainkan pengalaman baru yang ingin ia coba dengan rasa bangga.
2. Jangan Paksa Puasa Seharian Penuh
Puasa pertama bukan soal kuat atau tidak kuat, tetapi soal proses belajar. Orang tua sebaiknya tidak memaksakan anak berpuasa penuh sejak hari pertama.
Puasa bisa dilakukan secara bertahap, misalnya hingga menjelang siang, setengah hari, atau disesuaikan dengan kondisi fisik anak. Pendekatan ini membuat anak merasa berhasil dan termotivasi untuk mencoba lagi keesokan harinya.
3. Perhatikan Menu Sahur dan Berbuka Anak
Asupan gizi menjadi faktor penting agar anak tetap bertenaga selama berpuasa. Pastikan menu sahur mengandung karbohidrat, protein, serat, serta cairan yang cukup.
Hindari makanan dan minuman yang terlalu manis atau berlemak berlebihan. Saat berbuka, ajarkan anak untuk makan secara perlahan dan tidak berlebihan agar tubuhnya dapat beradaptasi dengan baik.
4. Dampingi Emosi Anak Selama Berpuasa
Rasa lapar dan lelah dapat memengaruhi emosi anak. Anak bisa menjadi lebih sensitif, mudah mengeluh, atau rewel. Dalam kondisi ini, orang tua perlu bersikap sabar dan memahami perasaan anak.
Mendengarkan keluhan anak dan memberikan dukungan emosional jauh lebih efektif dibandingkan memarahi atau membandingkannya dengan anak lain. Anak yang merasa didukung akan lebih kuat menjalani proses puasanya.
5. Ajak Anak Melakukan Aktivitas Positif
Agar anak tidak terus fokus pada rasa lapar, orang tua dapat mengajak anak melakukan aktivitas ringan dan menyenangkan. Membaca buku, menggambar, membantu menyiapkan menu berbuka, atau menghafal doa pendek bisa menjadi pilihan.
Aktivitas positif membantu anak menjalani puasa dengan perasaan senang dan mengajarkan bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh kegiatan baik, bukan sekadar menunggu waktu berbuka.
6. Beri Apresiasi atas Usaha Anak
Setiap usaha anak dalam berpuasa patut diapresiasi, meskipun belum berhasil menjalani puasa penuh. Apresiasi tidak harus berupa hadiah mahal, tetapi bisa berupa pujian, pelukan, atau ucapan bangga dari orang tua.
Apresiasi akan menumbuhkan rasa percaya diri dan membuat anak merasa bahwa usahanya dihargai. Hal ini penting agar anak memiliki kesan positif terhadap ibadah puasa.
Puasa pertama adalah tentang membangun pengalaman, bukan menuntut kesempurnaan. Dengan pendampingan yang tepat, orang tua tidak hanya mengajarkan anak menahan lapar dan haus, tetapi juga menanamkan nilai kesabaran, keikhlasan, dan kedekatan spiritual.
Ketika puasa pertama dijalani dengan rasa aman dan menyenangkan, anak akan tumbuh dengan kenangan indah tentang Ramadhan kenangan yang kelak membentuk kecintaannya pada ibadah sepanjang hidup.
(*)
#Ramadan #Puasa #Parenting