Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sungai Mengering, Banjir Melanda: Lumpur Longsor Jadi Biang Kerok Bencana di Maninjau Agam

Warga melihat kondisi Sungai Muara Pisang di Nagari Maninjau, Kab Agam, Sumbar hang tersumbat material sehingga alirannya meluber ke jalanan menyebabkan banjir pada Kamis (1/1/2026).

D'On, Agam, Sumatera Barat
— Ironi alam terjadi di Nagari Maninjau, Kabupaten Agam. Sungai Muara Pisang yang selama ini dikenal sebagai salah satu alur pembuangan air menuju Danau Maninjau justru tampak kering dan terhenti alirannya. Namun di saat yang sama, banjir besar kembali melanda permukiman warga pada Rabu (31/12) hingga Kamis (1/1), membawa lumpur tebal yang menenggelamkan rumah dan meluber ke jalanan.

Pantauan langsung di lokasi menunjukkan Sungai Muara Pisang tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Alur sungai tertutup material longsor berupa lumpur bercampur bebatuan besar, membuat air yang seharusnya mengalir ke Danau Maninjau justru tertahan. Akibatnya, tekanan air meningkat dan mencari jalur baru—mengalir liar ke jalan raya dan kawasan permukiman warga yang berada di dataran lebih rendah.

Longsor di Kelok 8 Jadi Pemicu Utama

Kapolsek Tanjung Raya, AKP Muzakar, menjelaskan bahwa bencana ini berawal dari peristiwa longsor yang terjadi di kawasan Kelok 8, salah satu jalur rawan di sekitar Maninjau.

“Ada longsor di Kelok 8, kejadiannya sekitar pukul 16.00 WIB. Informasi sudah kami terima sejak sore,” ujar AKP Muzakar saat ditemui di lokasi banjir, Rabu (31/12) malam.

Material longsoran tersebut terbawa arus hujan deras dan mengendap di badan Sungai Muara Pisang. Endapan lumpur dan batu itu kemudian membentuk semacam bendungan alami yang menutup total jalur sungai.

Sungai Sedalam Dua Meter Kini Dipenuhi Batu

Ironisnya, saat air meluap ke permukiman, badan Sungai Muara Pisang sendiri tampak hampir kering. Dasar sungai terlihat jelas, dipenuhi bebatuan besar dan kecil. Kedalaman sungai diperkirakan mencapai sekitar dua meter, namun fungsinya lumpuh akibat sumbatan material longsor.

Kondisi ini memperlihatkan bagaimana perubahan alur air secara mendadak dapat memicu bencana yang lebih besar. Air yang tak lagi punya jalur alami akhirnya meluber ke mana-mana tanpa kendali.

Rumah Warga Tertimbun Lumpur Hingga Setengah Bangunan

Dampak banjir ini sangat dirasakan warga yang tinggal di sekitar sungai. Lumpur tebal berwarna cokelat pekat memenuhi halaman rumah, jalan kampung, hingga masuk ke dalam bangunan. Beberapa rumah bahkan tertimbun lumpur hingga setengah tinggi dinding, memaksa penghuninya mengungsi atau bertahan di lantai atas.

Perabotan rumah tangga, peralatan dapur, hingga barang berharga banyak yang rusak atau tertimbun. Jalan utama nagari pun sempat tidak bisa dilalui kendaraan karena tertutup lumpur licin.

Warga Bersiaga, Aparat Siaga Penuh

Hingga Kamis (1/1), suasana di sekitar Sungai Muara Pisang masih dipenuhi kewaspadaan. Warga tampak berjaga, khawatir jika hujan kembali turun dan menyebabkan air meluap lebih besar. Personel kepolisian bersama BPBD Kabupaten Agam juga terlihat bersiaga di lokasi, memantau kondisi sungai dan membantu warga terdampak.

Belum ada laporan korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, potensi banjir susulan masih mengintai selama material longsor belum dibersihkan dan alur sungai belum kembali normal.

Ancaman Berulang di Kawasan Rawan

Peristiwa ini kembali menegaskan kerentanan kawasan Maninjau terhadap bencana hidrometeorologi, terutama saat musim hujan. Longsor di daerah perbukitan, sedimentasi sungai, dan perubahan alur air menjadi kombinasi berbahaya yang dapat memicu banjir secara tiba-tiba.

Warga berharap adanya penanganan cepat dan menyeluruh, tidak hanya pembersihan lumpur, tetapi juga langkah pencegahan jangka panjang agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap tahun.

(Mond)

#Daerah #BanjirAgam #KabupatenAgam