
Momen ketika tersangka menembakkan senjata anti-tank ke kendaraan yang membawa Wali Kota Ampatuan pada 25 Januari 2026. (Facebook/SunStar Cebu)
D'On, Manila - Upaya pembunuhan brutal kembali menyasar Akmad Ampatuan, Wali Kota Shariff Aguak, Provinsi Maguindanao del Sur, Filipina Selatan. Dalam sebuah penyergapan yang direncanakan secara matang, kendaraan lapis baja yang ditumpanginya ditembak menggunakan senjata penghancur tank jenis RPG-2 (B-40) pada Minggu, 25 Januari 2026. Meski roket meledak tepat di bawah mobilnya, Ampatuan kembali lolos dari maut untuk keempat kalinya sejak 2010.
Insiden tersebut terjadi di sebuah ruas jalan yang relatif sepi. Rekaman video yang beredar memperlihatkan sekelompok pria bersenjata telah bersiaga di pinggir jalan, diduga menunggu momen yang tepat. Saat konvoi Wali Kota melambat untuk berbelok, salah seorang pelaku langsung melepaskan tembakan roket ke arah SUV lapis baja yang menjadi sasaran utama. Serangan itu disusul hujan peluru dari senapan otomatis yang diarahkan ke seluruh iring-iringan kendaraan.
Ledakan keras mengguncang lokasi. Hulu ledak RPG-2 dilaporkan meledak di bagian bawah kendaraan Ampatuan, menyebabkan kerusakan signifikan pada bodi SUV. Sebuah truk pikap pengawal yang berada di belakangnya turut terkena serpihan proyektil dan peluru. Meski demikian, lapisan baja kendaraan berhasil menyelamatkan nyawa sang Wali Kota.
“Wali Kota selamat dan tidak mengalami luka. Namun dua staf yang berada dalam konvoi mengalami luka-luka dan telah mendapatkan perawatan medis,” ujar Anwar Kuit Emblawa, asisten pribadi Wali Kota Ampatuan, kepada wartawan.
Tak lama setelah serangan, pasukan gabungan Kepolisian Nasional Filipina (PNP) dan militer langsung melancarkan pengejaran terhadap para pelaku. Kontak senjata tak terhindarkan. Dalam baku tembak tersebut, tiga tersangka dilaporkan tewas di lokasi kejadian. Aparat juga menyita sejumlah senjata berat, termasuk senapan otomatis, amunisi, dan kendaraan yang digunakan para penyerang.
Juru bicara PNP, Randulf Tuano, mengungkapkan bahwa dalang utama serangan ini adalah seorang buronan berbahaya yang dikenal dengan julukan “Raprap”. Ia diduga sebagai eksekutor yang menembakkan RPG-2 ke arah kendaraan Ampatuan. Raprap telah lama diburu aparat karena tercatat memiliki tiga surat perintah penangkapan dalam kasus pembunuhan dan perampokan terorganisir.
“Ini bukan aksi spontan. Serangan ini menunjukkan perencanaan matang dan keterlibatan pelaku berpengalaman,” tegas Tuano.
Dalam konferensi pers yang digelar Rabu (28/1/2026) pagi, Akmad Ampatuan mengaku terkejut sekaligus heran atas motif serangan tersebut. Ia menyebutkan bahwa sepanjang karier politiknya, ini merupakan upaya pembunuhan keempat yang dialaminya dalam kurun waktu lebih dari satu dekade.
Namun yang mengejutkan publik, Ampatuan justru menunjukkan sikap yang tidak lazim di tengah konflik berdarah. Ia menyatakan tidak menyimpan dendam terhadap para pelaku, bahkan menyampaikan kesediaannya membantu keluarga tersangka yang tewas dalam baku tembak.
“Jika orang tua mereka membutuhkan bantuan, saya bersedia membantu. Kita semua adalah manusia,” ujarnya, pernyataan yang langsung memicu reaksi beragam di masyarakat dan media Filipina.
Hingga kini, PNP masih mendalami kemungkinan keterlibatan pembunuh bayaran profesional serta jaringan kriminal bersenjata yang beroperasi di wilayah selatan Filipina. Aparat juga masih memburu satu tersangka lain yang berhasil melarikan diri saat pengejaran.
Serangan ini kembali menyoroti tingginya tingkat kekerasan politik dan keamanan di wilayah Maguindanao del Sur, sekaligus menegaskan bahwa meski telah berkali-kali lolos dari maut, bayang-bayang ancaman masih terus membuntuti Akmad Ampatuan.
(*)
#Internasional #Filipina #Peristiwa