-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Demonstrasi Berdarah Tewaskan 544 Orang, Iran Tetapkan Tiga Hari Berkabung dan Peringatkan AS

12 January 2026 | January 12, 2026 WIB Last Updated 2026-01-12T02:49:08Z

Cuplikan gambar dari video yang dirilis pada Jumat (9/1/2026) oleh televisi pemerintah Iran memperlihatkan seorang pria memegang sebuah perangkat untuk mendokumentasikan kendaraan yang terbakar selama aksi protes massal pada malam hari di Zanjan, Iran. (Dok. Televisi pemerintah Iran melalui AP)

D'On, Teheran
– Krisis politik dan sosial di Iran memasuki babak paling mencekam. Aksi demonstrasi yang pada awalnya dipicu oleh kejatuhan tajam nilai mata uang rial kini berubah menjadi gelombang protes nasional yang mengguncang fondasi kekuasaan. Laporan terbaru dari Human Rights Activists News Agency (HRANA) mengungkapkan angka mengejutkan: sedikitnya 544 orang tewas, sementara 579 kematian lainnya masih diverifikasi, yang berpotensi mendorong jumlah korban meninggal menembus lebih dari 1.100 jiwa.

Situasi di Iran hingga kini masih sulit dipantau. Pemadaman komunikasi di seluruh 31 provinsi membuat informasi publik tersumbat, sementara laporan lapangan hanya bisa diperoleh melalui jaringan independen dan tayangan resmi pemerintah.

Korban Bergelimpangan, Penjara Membludak

HRANA melaporkan lebih dari 10.681 orang ditangkap dan dipindahkan ke berbagai penjara. Mayoritas korban tewas, menurut lembaga tersebut, ditembak dengan peluru tajam maupun peluru karet dari jarak dekat — indikasi penggunaan kekuatan mematikan dalam penindasan massa.

Televisi pemerintah Iran menayangkan gambar puluhan kantong jenazah di kantor koroner Teheran. Narasi resmi menyebut mereka sebagai korban tindakan “teroris bersenjata”, sementara keluarga korban tampak memenuhi halaman Pusat Kedokteran Forensik Kahrizak, menanti dengan cemas proses identifikasi.

Di sisi lain, media semi-resmi melaporkan bahwa sedikitnya 111 anggota aparat keamanan juga tewas sejak aksi protes pecah, menunjukkan eskalasi bentrokan yang brutal di berbagai kota.

Aksi Protes Meluas, Rezim Hadapi Tantangan Terbesar

Protes yang dimulai akhir Desember akibat gejolak ekonomi kini memasuki pekan ketiga. Gelombang demonstrasi berubah menjadi tantangan politik terbesar bagi rezim Iran dalam beberapa tahun terakhir.

Jaksa agung Iran menyatakan para demonstran dapat diadili sebagai “musuh Tuhan”, dakwaan berat yang membuka peluang hukuman mati. Di saat bersamaan, Presiden AS Donald Trump menyebut negaranya “siap membantu” para pengunjuk rasa, memicu ketegangan diplomatik baru.

Pemerintah Tetapkan Masa Berkabung, Rakyat Diminta Menjauh dari “Perusuh”

Pemerintah Iran menetapkan tiga hari masa berkabung nasional bagi mereka yang disebut sebagai “martir protes”. Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dalam wawancara televisi, menyampaikan bahwa pemerintah siap mendengarkan keluhan rakyat terkait kesulitan ekonomi. Ia menjanjikan reformasi subsidi besar-besaran untuk menstabilkan pasar dan meningkatkan daya beli.

Namun, nada tegas tetap mengemuka. Pezeshkian mengingatkan bahwa “perusuh dan teroris” tidak akan ditoleransi, menuduh pihak asing berada di balik kekerasan dan sabotase fasilitas publik. “Musuh-musuh Iran berupaya menabur kekacauan,” ujarnya, sembari menyeru warga agar menjauh dari kelompok yang disebutnya merusak tatanan sosial.

Pemerintah juga menyerukan demonstrasi tandingan nasional untuk menunjukkan dukungan terhadap Republik Islam Iran.

Ancaman Balasan untuk Amerika Serikat

Ketegangan meningkat setelah Presiden Trump memperingatkan akan “menghantam Teheran dengan sangat keras” jika Iran membunuh rakyatnya. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, membalas keras. Ia menegaskan, jika AS menyerang, maka pangkalan militer AS dan Israel di kawasan akan menjadi “target sah”.

Di dalam gedung parlemen, para anggota dewan meneriakkan slogan “Matilah AS!”, menggambarkan eskalasi emosi politik di tingkat elit.

Media Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah berdiskusi dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengenai kemungkinan intervensi AS. Israel disebut berada dalam keadaan siaga tinggi, sementara Washington hanya mengonfirmasi bahwa pembicaraan telepon telah berlangsung tanpa merinci isi pembahasan.

Netanyahu memuji keberanian para demonstran Iran, menyebut dunia “mengagumi perjuangan mereka untuk kebebasan” dan berharap bangsa Persia segera bebas dari “belenggu tirani”.

(Reuters)

#Internasional #Iran #Peristiwa #Demonstrasi

×
Berita Terbaru Update