Breaking News

Longsor dan Banjir Terjang Sumut, 19 Tewas dan Ribuan Mengungsi: “Kami Masih Menemukan Korban”

Banjir dan longsor melanda Sumut, menewaskan 19 orang dan memaksa 7.254 KK mengungsi.

D'On, Sumatera Utara -
Sumatera Utara kembali diguncang rangkaian bencana hidrometeorologi sejak 24 hingga 26 November 2025. Hujan ekstrem yang turun tanpa jeda memicu banjir bandang, tanah longsor, dan gangguan cuaca yang meluas di delapan kabupaten/kota. Laporan terbaru dari Pusdalops BPBD Sumut menyebut 19 orang meninggal dunia, 6 hilang, dan lebih dari 7.254 Kepala Keluarga mengungsi dalam kondisi serba darurat.

Di ruang komando BPBD, layar monitor masih menyala penuh, memperlihatkan peta-peta merah yang menandai titik rawan. Suara-suara relawan bersahutan melalui radio komunikasi. Sri Wahyuni Pancasila Wati, Kabid Penanggulangan Bencana dan Logistik, menyebut situasi hingga Rabu (26/11) “masih jauh dari stabil”.

Tapanuli Tengah: Desa Terisolasi, Listrik Padam

Banjir bandang dan longsor menyapu wilayah ini pada Selasa sore. Empat warga ditemukan meninggal, sementara tim gabungan masih memeriksa kawasan yang tertutup endapan lumpur setebal paha orang dewasa.

Pendataan awal menunjukkan puluhan rumah rusak, sebagian terendam hingga atap. Jalur komunikasi terputus di beberapa desa akibat jaringan listrik tumbang. BPBD menyebut kebutuhan paling mendesak meliputi penambahan personel SAR, suplai BBM untuk genset, logistik makanan siap saji, serta radio komunikasi cadangan.

Kota Sibolga: Banjir Kedua dalam Sebulan, 5 Tewas dan 6 Hilang

Air bah kembali menerjang dengan kecepatan yang menurut warga “seperti dinding air” setelah sungai meluap tanpa peringatan. Lima korban jiwa telah ditemukan, sementara enam warga lainnya masih hilang tersapu arus.

Tim penyelamat bekerja hingga dini hari, menyusuri aliran sungai yang berubah menjadi kanal keruh. Evakuasi dilakukan sejak menit pertama kejadian, namun medan sempit dan arus kuat menyulitkan pergerakan.

Kabupaten Tapanuli Selatan: Episentrum Bencana, 13 Tewas

Inilah wilayah paling terpukul. Hujan ekstrem selama dua hari mengubah lereng-lereng menjadi saluran longsor yang mematikan. Sebanyak 13 warga meninggal dunia, 37 luka-luka, dan 3 hilang.

Lebih dari 3.000 KK mengungsi, memenuhi aula sekolah, masjid, dan tenda darurat yang dibangun tergesa-gesa.
Kerusakan mencakup:

  • 12 rumah rusak berat,
  • 6 rusak sedang,
  • 312 rusak ringan,
  • satu gedung sekolah terendam.

Suara helikopter BNPB terdengar sejak pagi, mengangkut bahan pangan dan perlengkapan medis ke wilayah terpencil.

Tapanuli Selatan (Kejadian Susulan): Infrastruktur Terganggu Berat

Sehari setelah bencana pertama, longsor susulan menghantam titik-titik baru. Tidak ada korban jiwa, namun 19 KK mengungsi demi keselamatan.

Lima rumah rusak berat dan 64 rusak ringan. Empat ruas jalan terputus, sementara satu jembatan ambruk setelah pondasinya terkikis air deras. Mobilisasi logistik menjadi tantangan utama.

Kota Padang Sidempuan: Arus Deras Menelan Satu Orang

Banjir bandang pada 25 November membuat 240 KK atau 870 jiwa mengungsi.

Satu warga dilaporkan hilang terseret arus. Sejumlah titik masih tertutup genangan yang menyulitkan tim untuk melakukan pendataan rumah dan fasilitas publik yang rusak.

Nias Selatan: Longsor Menutup Jalan, Warga Terisolasi

Hujan ekstrem memicu longsor di beberapa perbukitan.

Meski tidak ada korban jiwa, satu rumah mengalami kerusakan berat dan satu ruas jalan vital tertimbun material tanah. Warga di area terdampak harus menempuh jalur memutar sejauh belasan kilometer.

Pakpak Bharat: Satu Korban Meninggal, Dua Rumah Rata Tanah

Kabupaten kecil yang dikelilingi perbukitan ini juga terdampak pada 25 November. Satu orang meninggal, dua rumah rusak parah, dan akses jalan utama terganggu akibat material longsor yang terus bergerak tiap kali hujan turun.

Fokus Operasi: Mencari yang Hilang, Menyelamatkan yang Terjebak

BPBD Sumut memastikan koordinasi lintas kabupaten/kota telah diperkuat. Prioritas utama saat ini adalah:

  • pencarian enam korban hilang,
  • evakuasi warga di titik yang masih rawan,
  • pemulihan akses,
  • penyediaan listrik darurat untuk rumah sakit lapangan dan posko.

“Kami terus mengimbau warga untuk tetap waspada. Potensi hujan ekstrem masih tinggi dan tanah di banyak lokasi sudah jenuh air,” ujar Sri Wahyuni.

Di banyak tempat, relawan masih berjibaku. Senter-senter kecil menembus gelap malam. Di balik setiap tumpukan lumpur, selalu ada harapan menemukan korban atau menyelamatkan nyawa yang tersisa.

(B1)

#Hideometeorologi #CuacaEkstrim #Peristiwa #BencanaAlam