Breaking News

Perang Saudara di Tetangga RI Memanas: Pasukan Pemerintah Kian Terdesak

Foto: Reuters 

D'On, Myanmar,-
Konflik di Myanmar terus memanas seiring pasukan pemberontak berhasil merebut Myawaddy, pos perdagangan strategis antara Myanmar dan Thailand, dari junta militer. Dalam serangan yang cepat dan efektif, pemberontak berhasil merebut tiga pangkalan dan menguasai wilayah tersebut, menunjukkan demoralisasi dalam pasukan junta. Komandan pemberontak, Saw Kaw, menyampaikan bahwa militer melarikan diri, meninggalkan kota yang hancur dan penuh dengan bekas pertempuran.

"Kami berhasil merebut tiga pangkalan dan menguasai wilayah tersebut dalam waktu yang sangat singkat. Kemudian, mereka melarikan diri," ujar komandan unit pemberontak, Saw Kaw, dikutip dari Reuters, Sabtu (20/4/2024).

Pemberontak, dipimpin oleh milisi etnis Karen, KNU, berhasil mengepung dan menghancurkan kekuatan junta sebelum mengambil alih Myawaddy. Sekitar 200 tentara junta sekarang terjebak di dekat jembatan menuju Thailand, dihadapkan pada pilihan menyerah kepada Thailand atau KNU.

Dengan jatuhnya Myawaddy, kontrol atas dua penyeberangan perbatasan darat utama di Myanmar sekarang berada di tangan perlawanan, menyusul klaim pemberontak atas kendali Muse tahun lalu, dekat perbatasan China. Kemenangan pemberontak telah memotong sumber pendapatan junta sebesar 60% dari bea cukai berbasis darat, mengakibatkan tekanan ekonomi yang lebih besar pada rezim yang kekurangan uang.

Namun, analis keamanan memperingatkan bahwa junta mungkin akan berusaha merebut kembali Myawaddy untuk mengendalikan akses ke jalur perdagangan vital. Sekitar 14% dari total perdagangan Myanmar melalui perbatasan darat dilakukan melalui Myawaddy, dengan nilai mencapai US$ 1,15 miliar, membuatnya menjadi pusat perdagangan penting dan pintu gerbang ke Asia Tenggara.

Reaksi Thailand juga menarik perhatian, dengan pergeseran ke arah pembicaraan lebih lanjut dengan pemberontak. Wakil Menteri Luar Negeri Thailand menyatakan kesiapannya untuk dialog lebih lanjut, terutama dalam konteks kemanusiaan, menandakan perubahan dalam pendekatan mereka terhadap konflik Myanmar.

(*)

#Myanmar #Internasional #KonflikBersenjata