Stok Oksigen Habis Sabtu Dinihari, Begini Kondisi di Dalam KRI Nanggala-402 saat ini

D'On, Bali,- Pencarian terhadap kapal selam KRI Nanggala-402 terus dikebut. Usai mendapat bantuan dari Singapura dan Australia, TNI kini juga nampak mengerahkan banyak KRI-nya merapat ke perairan Bali untuk membantu pencarian KRI Nanggala, yang hingga kini kondisi-nya belum jelas.

Terbaru adalah KRI Rigel 933 yang saat ini sudah sampai di perairan Bali. Kapal Bantu Hidro-Oseanografi terbaru TNI Angkatan Laut Indonesia yang dibuat di Prancis itu akan melakukan riset bawah laut dengan kelengkapan perangkat yang memadai.

Menurut Pengamat Militer Khairul Fahmi, sejauh ini Indonesia memang sangat terbatas dalam hal kemampuan dan pengalaman penyelamatan kapal selam di bawah permukaan air. Sehingga tentunya kita cuma bisa berharap agar pencarian dan evakuasi korban KRI Nanggala segera cepat dilakukan.

Menurut Fahmi, terkait kondisi di dalam KRI Nanggala saat ini, stok cadangan oksigennya sudah makin terbatas. Diperkirakan stok oksigen di kapal besutan Jerman tahun 1979 itu akan habis pada Sabtu dini hari. Maka itu, dia berharap penuh agar sebelum Sabtu dinihari penyelamatan sudah bisa dilakukan.

“Kalau boleh jujur, saat ini kita belum memiliki kemampuan dasar untuk melakukan penyelamatan di bawah air. Maka itu kita kerjasama dengan beberapa negara lain,” katanya disitat live di Sapa Indonesia Malam, Jumat 23 April 2021.

Kondisi di dalam KRI Nanggala seperti apa?

Lebih jauh, Fahmi mengurai seperti apa kondisi KRI Nanggala saat ini. Menurutnya, para awak di dalam KRI Nanggala mungkin sudah melakukan berbagai upaya sebagai bentuk komunikasi seperti SOS dan sebagainya ke pihak yang berada di darat.

Namun sayangnya, kapal selam itu dikatakan Fahmi berada di kedalaman 700 meter di bawah laut, sehingga sinyal komunikasi dari bawah tak bisa muncul ke permukaan. Sementara kemampuan kapal selam KRI Nanggala, hanya ada di kedalaman 500 meter di bawah laut.

“Masalahnya awal hilangnya ini hilang kontak, menandakan ada gangguan komunikasi. Diduga karena masalah kelistrikan. Nah kegagalan komunikasi itu saya kira juga fatal. Diduga juga ada perangkat lain yang tidak berfungsi dengan semestinya.”

“Maka itu kapal ini kemudian sukar bergerak, dan meluncur turun di bawah kemampuannya menyelam. Mungkin black out, yang mengakibatkan mesin tidak bergerak, navigasi hilang, dan kapal tak bisa naik. Karena berada di tengah-tengah, dia lantas turun ke kedalaman 700 meter.”

Tadi malam, Fahmi mendapat informasi kalau terdeteksi sinyal lemah dari bawah laut di perairan Bali. Namun sinyal itu sangatlah lemah, sehingga proses lanjutan belum bisa dilakukan.

“Mungkin mereka mengirim sinyal terus, tetapi karena kedalaman di bawah kemampuan, maka komunikasi sinyal mereka tak mampu mencapai permukaan untuk ditangkap jelas,” katanya.

Dirancang 25 tahun dipakai 40 tahun

Pada kesempatan itu, Fahmi lantas bilang kalau KRI Nanggala memang merupakan kapal selam yang memiliki kondisi tua secara usia. Sebab ini merupakan kapal yang lahir pada 1979. Walau begitu, dia menampik soal layak atau tidak layak kapal selam tua untuk beroperasi.

Menurut dia, selama dirawat dan diawasi secara rutin tak masalah. “Nanggala memang usianya sudah cukup lanjut, lebih dari 40 tahun. Sudah tua lah,” katanya.

Umumnya, kata dia, alutsista ataupun kapal untuk kebutuhan militer dirancang untuk usia 25-30 tahun. Tetapi kapal ini bahkan lebih dari 40 tahun.

“Tetapi sebenarnya kapal ini sudah mendapatkan proses peremajaan sistem pada 2012, sudah dilengkapi dengan teknologi lebih baru, termasuk sistem navigasinya, komunikasi diperbaharui, dan hingga casingnya sebagian juga sudah pembaruan. Itu upaya yang dilakukan TNI AL untuk memperpanjang usia kapal ini,” katanya.


(hops)

Powered by Blogger.