Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dalam Empat Bulan, Lebih 100 Kebakaran Landa Padang, Korsleting Listrik Jadi Ancaman Utama

15 May 2026 | May 15, 2026 WIB Last Updated 2026-05-15T14:31:05Z

Dalam Empat Bulan, Lebih 100 Kebakaran Landa Padang, Korsleting Listrik Jadi Ancaman Utama



D'On, Padang - Di tengah hiruk-pikuk Kota Padang yang terus bergerak, ancaman kebakaran diam-diam masih menjadi momok yang menghantui warga. Api tidak hanya melalap bangunan, tetapi juga menghanguskan harapan, kenangan, hingga sumber penghidupan masyarakat. Dalam kurun waktu hanya empat bulan pertama tahun 2026, lebih dari 100 peristiwa kebakaran tercatat terjadi di berbagai sudut kota. Angka itu menjadi sinyal bahaya yang tak bisa lagi dianggap biasa.


Berdasarkan data dari Dinas Pemadam Kebakaran Kota Padang, sejak Januari hingga April 2026 terjadi sedikitnya 107 kasus kebakaran. Rinciannya, Januari mencatat 30 kejadian, Februari 23 kasus, Maret 26 kasus, dan April kembali meningkat menjadi 28 kasus.


Deretan angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap kejadian, ada keluarga yang kehilangan tempat tinggal, pedagang yang kehilangan usaha, hingga warga yang harus memulai hidup dari nol setelah api melahap seluruh harta benda mereka.


Kepala Bidang Operasional dan Sarana Prasarana Dinas Kebakaran Kota Padang, Rinaldi, menyebut tingginya angka kebakaran ini harus menjadi perhatian serius seluruh masyarakat.


“Jadi dari awal tahun hingga April, itu lebih kurang ada seratus lebih kejadian kebakaran,” ujarnya, Jumat (15/5/2026).


Kebakaran yang terjadi tidak hanya menimpa rumah warga. Api juga membakar ruko, gudang, kendaraan, lahan kosong, hingga instalasi kabel dan meteran listrik. Hampir setiap pekan, petugas Damkar harus berjibaku memadamkan kobaran api di lokasi berbeda dengan kondisi yang sering kali sulit diprediksi.


Namun dari seluruh penyebab yang tercatat, satu faktor muncul paling dominan: korsleting listrik.


Data Damkar menunjukkan, arus pendek listrik menjadi pemicu utama kebakaran selama empat bulan terakhir. Pada Januari tercatat 17 kasus akibat korsleting listrik. Angka itu kembali muncul pada Februari dengan jumlah serupa, lalu meningkat menjadi 19 kasus di Maret, dan kembali naik menjadi 20 kasus pada April.


Menurut Rinaldi, banyak warga masih mengabaikan keselamatan instalasi listrik di rumah mereka. Penggunaan colokan bertumpuk, kabel yang sudah usang, sambungan listrik sembarangan, hingga kebiasaan membiarkan alat elektronik tetap tersambung saat rumah kosong menjadi penyebab utama munculnya percikan api.


“Kalau melihat frekuensinya, sebagian besar kasus kebakaran dipicu oleh arus pendek listrik,” jelasnya.


Fenomena ini menjadi ironi di tengah meningkatnya penggunaan perangkat elektronik rumah tangga. Hampir setiap rumah kini dipenuhi alat elektronik yang menyedot daya besar, mulai dari pendingin ruangan, dispenser, kulkas, mesin cuci, hingga charger telepon genggam yang kerap dibiarkan menempel sepanjang hari.


Di sejumlah kasus, kebakaran bahkan terjadi saat pemilik rumah sedang tertidur lelap atau meninggalkan rumah untuk beberapa jam. Api muncul perlahan dari percikan kecil di kabel atau colokan yang panas, lalu membesar tanpa disadari hingga akhirnya menghanguskan bangunan.


Petugas Damkar menyebut, banyak kebakaran sebenarnya bisa dicegah bila masyarakat lebih disiplin dalam memeriksa instalasi listrik dan memastikan kondisi rumah aman sebelum bepergian.


Memasuki momentum libur panjang, kekhawatiran itu semakin meningkat. Rumah-rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya mudik atau berlibur berpotensi menjadi sasaran kebakaran apabila masih terdapat sambungan listrik aktif.


Karena itu, Damkar Kota Padang mengeluarkan imbauan khusus kepada masyarakat agar lebih waspada sebelum meninggalkan rumah.


“Kami dari Dinas Kebakaran mengimbau kepada seluruh masyarakat Kota Padang, sebelum meninggalkan rumah supaya melepas colokan listrik, AC, lampu, dan termasuk sambungan colokan,” imbau Rinaldi.


Imbauan tersebut terdengar sederhana, namun sering diabaikan. Padahal, menurut petugas, mencabut colokan listrik sebelum bepergian dapat secara signifikan mengurangi risiko terjadinya korsleting.


Selain listrik, kebakaran juga dipicu oleh kompor yang lupa dimatikan, pembakaran sampah dan lahan, serta kebocoran bahan bakar kendaraan. Dalam kondisi cuaca panas dan angin kencang, api kecil dapat dengan cepat membesar dan sulit dikendalikan.


Di balik setiap operasi pemadaman, para personel Damkar juga menghadapi tantangan berat. Mereka harus bergerak cepat menembus kemacetan kota, memasuki gang-gang sempit, hingga menghadapi keterbatasan sumber air di beberapa lokasi. Tidak jarang petugas mempertaruhkan keselamatan demi menyelamatkan warga dan mencegah api merambat ke bangunan lain.


Tingginya angka kebakaran di Kota Padang selama awal 2026 menjadi pengingat bahwa bahaya api bisa datang kapan saja, bahkan dari hal-hal kecil yang sering dianggap sepele. Satu colokan rusak, kabel terkelupas, atau kompor yang lupa dimatikan dapat berubah menjadi petaka besar dalam hitungan menit.


Kini, harapan terbesar berada pada meningkatnya kesadaran masyarakat. Sebab di tengah padatnya permukiman dan tingginya aktivitas warga kota, kewaspadaan menjadi benteng pertama untuk mencegah kobaran api kembali merenggut rumah, usaha, dan kehidupan warga Padang.


(Mond)


#Peristiwa #Padang #Kebakaran #Daerah

×
Berita Terbaru Update