-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Badan Geologi Tawarkan Dua Opsi Strategis Tangani Sinkhole Situjuah, Ini Risiko dan Langkah Teknisnya

08 February 2026 | February 08, 2026 WIB Last Updated 2026-02-08T11:32:06Z

Sinkhole Situjuah




D'On, Payakumbuh - Fenomena tanah ambles membentuk lubang besar atau sinkhole yang muncul di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, mendapat perhatian serius dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Melalui kajian cepat di lapangan, Badan Geologi memaparkan dua opsi utama penanganan yang harus dipertimbangkan secara matang oleh pemerintah daerah dan masyarakat setempat.


Ahli Geologi Teknik Badan Geologi Kementerian ESDM, Taufiq Wira Buana, menjelaskan bahwa kedua opsi tersebut memiliki konsekuensi teknis dan risiko masing-masing, sehingga keputusan penanganan tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa.

 

“Ada dua pilihan besar. Pertama, membiarkan sinkhole tetap terbuka dan berkembang secara alami dengan pengendalian risiko. Kedua, melakukan upaya pencegahan agar lubang tidak melebar melalui rekayasa teknis,” ujar Taufiq saat dihubungi dari Kota Padang, Minggu.


Opsi Pertama: Dibiarkan Terbuka dengan Pengendalian Ketat


Pada opsi pertama, Badan Geologi menekankan bahwa sinkhole tidak disarankan untuk ditutup tanpa kajian mendalam. Penutupan lubang secara sembarangan justru berpotensi memicu amblesan baru di lokasi lain.


Langkah paling krusial dalam opsi ini adalah melakukan analisis kestabilan dinding dan dasar sinkhole, sekaligus menentukan radius aman yang harus steril dari aktivitas manusia. Penetapan zona aman tersebut harus dilakukan secara terukur dan berbasis data geologi.


Selain itu, pengelolaan air menjadi faktor kunci. Air yang muncul dari sinkhole harus diarahkan keluar melalui saluran drainase yang terkontrol, bukan dibiarkan meresap kembali ke tanah di sekitarnya. Resapan berlebihan dapat mempercepat pelarutan batuan bawah tanah dan memperluas lubang.

 

“Air sebaiknya dialirkan ke zona yang lebih stabil, seperti sungai di bagian hilir. Bahkan, air tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber air baku warga, tentu setelah melalui kajian kelayakan,” jelas Taufiq.


Opsi Kedua: Pencegahan dengan Rekayasa Teknik


Opsi kedua menuntut intervensi teknis yang lebih kompleks. Untuk mencegah sinkhole agar tidak melebar, diperlukan keterlibatan ahli teknik sipil guna memperkuat tebing lubang melalui rekayasa struktur, seperti perkuatan lereng atau penahan tanah.


Namun, langkah ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Salah satu aspek penting yang harus diperhitungkan adalah aliran sungai bawah tanah yang menjadi penyebab utama terbentuknya sinkhole.

 

“Volume air yang melewati sungai bawah tanah harus direncanakan dengan cermat. Jika salah perhitungan, bisa mengganggu kestabilan tanah, baik di hulu maupun hilir sinkhole,” kata Taufiq.


Upaya Pengurangan Risiko bagi Masyarakat


Dalam laporan kajian cepatnya, Badan Geologi juga merumuskan sejumlah langkah mitigasi untuk menekan risiko bencana lanjutan. Masyarakat diminta mengenali tanda-tanda awal sinkhole, seperti retakan tanah, penurunan permukaan tanah, atau perubahan aliran air.


Pengurangan resapan air berlebihan menjadi perhatian utama, terutama di area yang diduga memiliki aliran sungai bawah tanah. Badan Geologi juga menyarankan pemilihan jenis tanaman yang tepat, yakni tanaman yang tidak membutuhkan banyak air, guna mengurangi infiltrasi ke dalam tanah.


Selain itu, saluran air rumah tangga harus diperhatikan agar air limbah tidak merembes ke tanah di zona rawan sinkhole.


Klarifikasi Isu Air Biru dan Mitos Khasiat


Di tengah perhatian publik, beredar isu bahwa air dari sinkhole memiliki khasiat tertentu. Taufiq menegaskan informasi tersebut tidak benar.

 

“Hasil uji laboratorium menunjukkan air tersebut sama seperti air pada umumnya. Tidak ada kandungan khusus yang bersifat mistis atau berkhasiat,” tegasnya.


Adapun fenomena air berwarna biru yang sempat menarik perhatian warga dijelaskan sebagai fenomena alam murni. Warna biru muncul akibat partikel halus atau zat terlarut di dalam air yang menghamburkan gelombang cahaya biru sehingga tertangkap oleh mata manusia.

 

“Ini bukan hal mistis, melainkan proses fisika alamiah,” tutup Taufiq.


Dengan kajian ilmiah dan langkah terukur, Badan Geologi berharap penanganan sinkhole Situjuah dapat dilakukan secara aman, berkelanjutan, serta meminimalkan risiko bagi masyarakat sekitar.


(Mond)


#Peristiwa #Daerah #Payakumbuh #Sinkhole
×
Berita Terbaru Update