5 Pemuda Mabuk Aniaya Dua Polisi Gara-Gara Ditegur Kendarai Motor Tanpa Lampu

Kabidhumas Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Candra. (istimewa)
D'On, Kupang - Suasana Minggu (23/1/2025) malam di Jalan Adisucipto, Penfui, Kota Kupang, berubah dari lalu lintas biasa menjadi panggung kekacauan. Lima pemuda, yang diduga melaju dalam kabut alkohol, mendadak menjelma menjadi gerombolan agresif setelah diteriaki karena berkendara tanpa lampu. Akibat ulah mereka, dua anggota polisi dari Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi korban pengeroyokan brutal.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 21.30 Wita, ketika Brigpol HL dan Bripda PA melintas menuju Polda NTT menggunakan kendaraan pribadi. Di kawasan Pasar Penfui, mereka berpapasan dengan sepeda motor tanpa lampu yang dikendarai tiga pemuda. Hampir terjadi tabrakan. Refleks, Brigpol HL berteriak memperingatkan sebuah seruan spontan yang semestinya menjadi alarm keselamatan, namun justru dibalas makian kasar.
Teriakan berbalas teriakan. Urat leher menegang. Emosi meletup seperti percikan bensin tersambar puntung rokok. Tiga pemuda itu, dipimpin OA, memutar balik kendaraan dan menghadang mobil dua anggota polisi tersebut. Di titik itu, konflik berubah wujud dari cekcok jalanan menjadi aksi kekerasan.
Dikeroyok, Dipukul, Dihantam Kayu Usuk
Kabidhumas Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Candra, menuturkan bahwa situasi kian memburuk saat beberapa pemuda lain muncul. Jumlah bertambah, nyali ikut membengkak.
“Brigpol HL dan Bripda PA langsung diserang. Mereka dipukul, ditendang, dan dianiaya menggunakan kayu usuk,” ujarnya.
Kayu-kayu itu menghantam tubuh aparat yang sedang tak bersenjata dan tak siap menghadapi pengeroyokan. Kondisi gelap dan sempitnya ruang membuat keduanya kesulitan menghindar. Warga sekitar yang mendengar keributan dan melihat eskalasi berbahaya bergegas datang, menjadi pagar manusia untuk menghentikan amukan yang mulai lepas kendali.
Berkat campur tangan warga, kedua anggota Polda NTT berhasil dievakuasi. Namun luka tetap tertinggal. Brigpol HL mengalami memar di kepala, bahu, dan kedua tangan. Bripda PA menderita memar besar di punggung. Bekas serangan terlihat jelas, seolah menjadi catatan keras tentang apa yang terjadi malam itu.
Lima Tersangka Ditahan Kurang dari 48 Jam
Respons Polda NTT tidak bertele-tele. Laporan polisi dibuat malam itu juga, dan gerak penyidik Ditreskrimum langsung mengencang.
“Lima tersangka resmi ditahan sejak 25 November 2025. Mereka adalah SS, OA, NRM, SPL, dan AM,” tegas Kombes Henry.
Dalam pemeriksaan, terungkap bahwa alkohol menjadi pemantik utama. Mabuk—yang sering dipandang sepele—berubah jadi pintu lebar bagi tindakan tidak terkendali.
“Para pelaku dalam keadaan mabuk dan tidak mampu mengontrol emosi, sehingga terjadi salah paham berujung pengeroyokan,” tambahnya.
Peringatan untuk Generasi Muda
Kombes Henry menutup keterangannya dengan imbauan keras namun jelas: minuman keras bukan sekadar hiburan jalanan, tetapi sering menjadi akar kekacauan.
“Kami berharap kejadian ini menjadi pelajaran. Miras bisa merusak diri sendiri dan orang lain. Hormati pengguna jalan, jaga etika, dan jangan mudah terpancing emosi.”
Sebuah pesan sederhana, tetapi lahir dari kejadian yang kompleks dan menyakitkan—yang mestinya menjadi cermin bagi banyak orang: bahwa kehilangan kendali hanya butuh satu botol dan satu detik kemarahan.
(L6)
#Penganiayaan #Kriminal