Pakistan Dilanda Amarah Atas Insiden Bocah Lima Tahun dan Ibu Tiga Anak Diperkosa

D'On, Pakistan,- Mayat bocah perempuan berusia lima tahun itu ditemukan dua hari kemudian. Sekujur tubuhnya hangus dibakar. Di tempat lain seorang perempuan malang diseret dari mobilnya dan diperkosa di depan anak-anaknya di sebuah jalan tol. Dua insiden ini mengguncang seantero negeri.

Pakistan dilanda kasus pemerkosaan dan pelecehan anak selama bertahun-tahun. Para korban pun sering diperlakukan sebagai penjahat dan disalahkan atas serangan tersebut. Kasus yang sama kini terjadi, membuat masyarakat geram hingga melakukan aksi protes.

Seperti dikutip dari laman The New York Times, Jumat (11/9), dua insiden ini memicu protes dan luapan amarah. Tagar yang menyerukan keadilan bagi para korban telah dibagikan secara luas di media sosial orang-orang biasa, politisi oposisi, dan atlet terkenal termasuk Shan Masood, anggota tim kriket nasional Pakistan.

“Kita tidak bisa kehilangan masa muda kita karena tindakan menjijikkan dan tidak manusiawi, berdiam diri berkontribusi pada masalah ini, kita harus melawan para pengecut ini dan mengambil tindakan,” tulis Masood pada akun Twitternya.

“Ada banyak ketidakpedulian terhadap kasus-kasus seperti itu dari pejabat Pakistan, tidak ada empati, hanya keheningan, itu berubah karena publik mendorong kembali,” ujar Mehnaz Akber Aziz, seorang anggota oposisi di Majelis Nasional Pakistan dan pembela hak-hak anak terkemuka.

Ibu Aziz mengatakan sebagian besar korban pemerkosaan dan pelecehan anak berasal dari kota kecil atau desa, kasus mereka biasanya tidak menyebar di media sosial. Para pejabat umumnya juga tidak mengunjungi mereka, dan pelaku seringkali dibebaskan secara diam-diam setelah kemarahan publik mereda.

“Anda memberi isyarat kepada orang-orang ini, para pemerkosa, bahwa tindakan mereka tidak masalah, Anda dapat terus melakukan apa yang Anda lakukan dan akan ada jalan keluar, bahkan jika Anda ditangkap,” jelasnya.

Bocah perempuan itu diculik Jumat lalu setelah pergi membeli kue di sebuah kota pelabuhan selatan Karachi, tubuhnya ditemukan dua hari kemudian dan otopsi menunjukkan dia telah diserang secara seksual.

Polisi telah menangkap lebih dari 20 tersangka dalam kasus tersebut, dan penyidik mengatakan pada hari Rabu bahwa satu orang telah mengakui penculikan dan pembunuhan.

Dalam kasus kedua, wanita tersebut sedang mengemudi pada Selasa malam bersama ketiga anaknya dari Lahore, ibu kota provinsi Punjab ke kota Gujranwala. Ketika mobilnya kehabisan bahan bakar, dia menelepon polisi dan pada saat sedang menunggu bantuan, dua pria yang diyakini berusia 30-an memecahkan jendela sisi pengemudi dengan tongkat dan batu lalu menyeretnya serta anaknya keluar dari jalan.

Dia diperkosa beberapa kali dan ATM, kartu, perhiasan, serta uang tunai dicuri, kata polisi. Kepala polisi Lahore, Muhammad Umar Sheikh mengatakan bahwa pencarian pelaku sedang berlangsung.

Namun kepala polisi menyalahkan wanita itu atas kejahatan tersebut, mempertanyakan mengapa dia bepergian larut malam tanpa pendamping pria dewasa, dan tidak memeriksa memastikan bahwa mobilnya memiliki cukup bahan bakar.

Pernyataan tersebut mendapat kecaman dari pengguna media sosial, beberapa politikus terkemuka, pembawa acara televisi, dan selebriti menyerukan agar dia dipecat.

“Jika seorang perwira polisi dapat secara terbuka terlibat dalam menyalahkan korban, bayangkan bagaimana polisi junior memperlakukan korban pemerkosaan, inilah mengapa wanita tidak melaporkan kejahatan seksual,” tulis Ailia Zehra, seorang jurnalis Pakistan di Twitter.

Pakistan berada di peringkat 147 dari 182 negara yang telah meratifikasi Konvensi PBB tentang Hak Anak, menurut indeks kesejahteraan anak yang diterbitkan oleh Kids Rights Foundation kelompok penelitian dan advokasi di Belanda.

(mdk/NYT)

No comments

Powered by Blogger.