Ingin Lawan China Terkait Perdagangan Global 8 Negara ini Buat Aliansi Lintas Parlemen

D'On, Beijing (China),- Perlakuan negara-negara dunia terhadap China berbeda-beda. Kalau kebijakan pemerintah Indonesia sangat erat dengan China, beda halnya dengan 8 negara ini yang malah mau keroyok negara yang dipimpin Xi Jinping itu.

Mereka membentuk aliansi lintas parlemen baru guna melawan pengaruh China terhadap perdagangan global, keamanan, dan hak asasi manusia. Aliansi Antar-Parlemen untuk China itu diinisiasi oleh Amerika Serikat yang ingin melawan kekuatan China.

Langkah itu diambil setelah China yang secara paksa memberlakukan undang-undang keamanan nasional di Hong Kong yang mengancam otonomi kota tersebut.

Aliansi ini juga bertujuan untuk membangun tanggapan yang tepat dan terkoordinasi, serta untuk membantu menyusun pendekatan proaktif dan strategis pada masalah yang berkaitan dengan China.

Ada pun yang menjadi ketuanya adalah Senator Partai Republik AS Marco Rubio dan Partai Demokrat Bob Menendez, mantan menteri pertahanan Jepang Gen Nakatani, anggota komite urusan luar negeri Parlemen Eropa Miriam Lexmann dan anggota parlemen terkemuka dari Inggris, Iain Duncan Smith.

Aliansi yang terdiri dari AS, Jerman, Inggris, Jepang, Australia, Kanada, Swedia, Norwegia, serta anggota parlemen Eropa ini mengatakan peningkatan ekonomi China membuat perekonomian dunia tertekan. Selama ini, mereka melawan China sendiri-sendiri tanpa adanya bantuan dari negara lain.

Seperti diketahui, langkah Trump untuk bersaing dengan China membuat hubungan kedua negara ini memanas dan tegang. Perang dagang pun berujung pada diusirnya jurnalis AS dari China.

Sementara Kanada ikut bergabung dalam aliansi karena ada dua warganya Michael Kovrig dan Michael Spavor ditahan tanpa diadili terlebih dahulu oleh China.

Sedangkan, Norwegia ikut serta karena hubungannya yang kurang harmonis dengan China selama beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, Australia ikut karena ingin meminta pertanggungjawaban China soal wabah covid-19 dan adanya larangan ekspor daging.

"China, di bawah kekuasaan Partai Komunis China, merupakan tantangan global," kata Rubio, yang kerap mengkritik Beijing dan pendukung undang-undang AS yang menargetkan China atas tindakannya di Hong Kong, dalam pesan video di Twitter seperti dikutip dari Bloomberg, Sabtu (6/6/2020).

"Waktunya telah tiba bagi negara-negara demokratis untuk bersatu dalam pertahanan bersama atas nilai-nilai kita bersama," kata Smith, anggota parlemen Inggris, di Twitter.

Sebenarnya, Beijing telah menegaskan soal situasi di Hongkong menjadi problem internal. Hal lain yang dibantah China soal ancaman ekonomi China bagi dunia yang kerap diklaim AS dan sekutunya.

"Kami mendesak sejumlah kecil politisi untuk menghormati fakta, menghormati aturan dasar hubungan internasional, meninggalkan mentalitas Perang Dingin, berhenti mencampuri urusan dalam negeri dan membuat langkah politik untuk kepentingan diri sendiri," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang dalam reguler briefing di Beijing.

Sumber: Bloomberg

No comments

Powered by Blogger.