Pentolan Aksi Protes Bolivia Tertahan dan Terancam di Bandara La Paz

D'On, La Paz (Bolivia),- Pemimpin aksi protes Bolivia, Luiz Fernando Camacho, terpaksa kembali ke daerah asalnya setelah sempat tertahan di bandara internasional La Paz. Camacho terpaksa kembali ke rumah karena adanya potensi ancaman dari para pendukung Presiden Evo Morales yang telah mengepung bandara.

Luiz Fernando Camacho terbang ke La Paz dari Santa Cruz dengan membawa surat pengunduran diri untuk diserahkan kepada Presiden Evo Morales dalam upaya meningkatkan tekanan kepada pemimpin Bolivia itu.

Namun Camacho mengatakan bahwa ia tidak bisa meninggalkan bandara El Alto karena potensi ancaman dari para pendukung Morales yang menunggu di luar bandara.

Beberapa demonstran pro-pemerintah membawa tongkat dan memasuki bandara. Tetapi polisi mengatakan kepada mereka Camacho, yang telah menjadi tokoh oposisi yang berpengaruh dalam lebih dari dua minggu aksi protes atas hasil pemilu yang disengketakan, terbang kembali ke Santa Cruz.

"Orang-orang ini akan tiba dalam beberapa menit berikutnya di kota Santa Cruz, dengan semua langkah keamanan," menteri pemerintah Carlos Romero mengatakan pada konferensi pers, menambahkan bahwa angkatan udara telah mengangkutnya dengan perlindungan polisi seperti dilansir dari Reuters, Rabu (6/11/2019).

Kemenangan Morales yang kontroversial dalam pemilu telah mendorong negara miskin di Amerika Selatan yang terkurung daratan itu ke dalam krisis demokrasi dengan meningkatnya tekanan baginya untuk mundur atau menggelar pemilu baru.

Luis Almagro, kepala Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) yang mengaudit pemilu pada 20 Oktober lalu, telah meminta otoritas Bolivia untuk memastikan kebebasan bergerak bagi Camacho.

Badan bandara yang dikelola pemerintah dan pemerintah mengatakan protokol keamanan telah diterapkan untuk menjamin keselamatan Camacho, termasuk menjaganya di daerah yang dilindungi.

Reuters tidak dapat segera menghubungi Camacho untuk memberikan komentar.

Morales memenangkan pemilu bulan lalu dengan keunggulan hanya lebih dari 10 poin, memberinya kemenangan langsung, tetapi kemenangan itu dirusak oleh penghentian penghitungan hampir 24 jam, yang ketika dilanjutkan, menunjukkan perubahan yang tajam dan tidak dapat dijelaskan.

OAS sebelumnya merekomendasikan pemungutan suara putaran kedua.

Pemimpin adat pertama Bolivia, yang berkuasa pada tahun 2006, telah membela kemenangannya dan mendukung audit OAS untuk menyelesaikan krisis yang diwarnai dengan blokade di kota-kota dan bentrokan jalanan yang telah menyebabkan beberapa kematian.

Source: Reuters

No comments

Powered by Blogger.