Alpujarras Sisa Kejayaan Benteng Terakhir Umat Muslim Spanyol

D'On Alpujarras (Spanyol),- Dulu kawasan Andalusia Spanyol memiliki populasi Muslim terbesar, namun karena konflik agama jumlah muslim disana menjadi minotitas. Saat ini ada kelompok mayoritas di Alpujarras. Kini, meski Alpujarras bukan lagi wilayah Muslim, melainkan umat Islam tetap ada di sana. Namun, memang jumlahnya tidak banyak alias minoritas.

"Kami berjumlah sekitar 20 keluarga, yang terdiri dari 100-an orang,'' kata Qasim Barrio Raposa, seorang warga Muslim di Alpujarras yang mengelola Kafe Baraka.

Dituturkannya, Ia dan warga Muslim lainnya telah tinggal di kawasan ini selama 25 tahun. ''Kami benar-benar telah terintegrasi dengan penduduk daerah ini. Mereka tahu bahwa Kafe Baraka adalah kafe Muslim.''

Sejatinya Qasim bukan Muslim kelahiran Alpujarras. Ia berasal dari Bilbao dan awalnya bukan seorang Muslim. Namun, suatu hari ia mendapatkan hidayah tatkala melihat kehidupan masyarakat Muslim yang harmonis di Alpujarras. Setahun kemudian, kakak laki-lakinya juga mengikuti jejaknya meninggalkan Bilbao menuju Alpujaras, lalu hidup sebagai Muslim.

"Saya sangat ingat, saat 12 tahun silam ketika saya terpanggil untuk menjadi Muslim,'' kata Qasim.

Memilih menjadi muslim, Qasim menetap disana dan mendirikan sebuah tempat makan halal, yakni Kafe Baraka, sebagai mata pencaharian.  Di kafenya yang menjadi tempat pertemuan populer di Alpujarras, Qasim menyajikan aneka makanan halal. Terletak di Orgiva, ibu kota Alpujarras, Kafe Baraka mengolah semua menu makanannya dengan bahan-bahan organik. Alhasil, tersajilah hidangan yang tak hanya halal, tapi juga sehat.

"Restoran Baraka adalah tempat berkumpul orang-orang Alpujarras yang suka makanan organik dan alami. Semua orang yang mengunjungi kafe kami menyukai suasana dan makanan kafe kami," tutur Qasim.

Selain kuliner Spanyol, Kafe Baraka juga menyajikan ragam makanan Timur Tengah. Ada shawarma, kebab, cous cous, tajin, hummus, omelet Spanyol, guacamole, gazpacho, dan jus alami. Tersedia pula aneka kue dan teh yang pemanisnya terbuat dari fruktosa atau madu asli Alpujarras.

Sebagai Muslim, Qasim ingin usahanya mencerminkan filsafat ajaran Islam. Karena itu, ia menerapkan beberapa aturan di kafenya, seperti larangan merokok dan tak menyediakan alkohol. ''Kami juga memiliki hewan peliharaan sendiri, seperti ayam atau domba dan kami menyembelihnya sesuai dengan standar halal," kata Qasim.

Selain mengedepankan prinsip halal dan organik, Kafe Baraka juga berusaha menggunakan sebanyak mungkin bahan-bahan lokal. Hal ini tentu menguntungkan bagi perekonomian masyarakat setempat.

Tak butuh waktu lama bagi kafe ini untuk merebut hati pelanggan. Sebentar saja, tempat makan ini dikenal masyarakat dan wisatawan. Tak sekadar sebagai tempat makan dan minum, kafe ini juga menjadi tempat berkumpul bagi warga setempat, khususnya warga Muslim.

Menurut Qasim, kaum Muslim di wilayah Alpujarras adalah gambaran sebuah komunitas yang harmonis yang telah berbaur selama bertahun-tahun. Saat ini, mereka bahkan memiliki permakaman khusus Muslim.

Tak jauh dari sekumpulan kafe dan plaza di Kota Granada, membentang lereng pegunungan yang tertutup salju. Di lereng itulah, terdapat desa-desa kecil yang dihuni sisa-sisa komunitas Muslim terakhir di Spanyol.

Bagi Spanyol saat ini, desa-desa kecil itu mungkin hanya memberikan peran yang tidak seberapa. Namun, pada masa lalu, mereka menorehkan pengaruh yang tidak kecil dalam sejarah besar Andalusia. Kawasan yang tenang dan elok inilah yang dinamakan Alpujarras.


Sejarah Singkat Al Pujarras

Pada sekitar abad ke-15, kawasan ini pernah bertengger di puncak kejayaan. Kala itu, Alpujarras merupakan pusat perkembangan industri sutra. Berpenduduk 150 ribu orang yang tersebar di 400 desa, Alpujarras dihuni oleh warga yang bermata pencaharian utama memproduksi sutra mentah. Sutra mentah ini kemudian dipasok untuk para perajin sutra di Granada dan Almeria.

Ketika emir terakhir Nasrid Granada, Boabdil, menyerah kepada raja Katolik pada 1492, ia menyingkir ke wilayah pegunungan Alpujarras. Setahun kemudian, masyarakat kawasan ini mulai mengalami penindasan dari raja Katolik tersebut.

Pada tahun 1500, kerusuhan tak terbendung dan terus berkobar selama beberapa dekade. Pada 1567, Raja Philip II melarang nama-nama Arab, pakaian, dan logat Arab. Hal ini memicu pemberontakan yang menimbulkan perang gerilya selama dua tahun di Alpujarras. Perang ini berakhir ketika pemimpin pemberontakan dibunuh oleh sepupunya yang merupakan komandan militer baru yang ditunjuk Spanyol. Setelah itu, hampir seluruh penduduk kawasan ini dipindahkan ke wilayah lain di negara itu.

Kemudian, dari sekitar 400 desa yang telah makmur di masa kejayaan Alpujarras, 270 di antaranya digunakan sebagai permukiman bagi penduduk dari Spanyol Utara, sementara sisanya dibiarkan begitu saja.

Penguasa baru dari Spanyol yang Katolik itu juga membunuh industri sutra hingga bangkrut. Hutan-hutan kayu yang menjadi suplai mulberry bagi ulat sutra pun ditebang habis lalu diubah menjadi lahan pertanian dan pertambangan.

Beberapa ahli sejarah juga mengatakan, penguasa Spanyol juga melakukan penindasan lain, yakni memaksa warga Muslim dan Yahudi untuk memelihara babi dan memakannya pada akhir tahun, tepatnya saat perayaan Natal. Dengan cara ini, penguasa Spanyol pada masa itu ingin memaksa warga Muslim dan Yahudi untuk menjadi Nasrani.

Pemaksaan untuk mengonsumsi babi itu membuat Alpujarras saat ini banyak memiliki tempat makan yang tidak halal bagi Muslim. Meski demikian, bukan berarti tak ada restoran halal. Sebagai kawasan yang pernah dihuni kaum Muslim, Alpujarras juga memiliki sejumlah tempat makan halal. Salah satu di antaranya adalah Teteria Baraka di Orgiva, pasar mingguan yang hanya buka pada hari Kamis.

Selain menjual makanan halal, tempat makan ini juga menyediakan bahan-bahan pangan impor, utamanya dari Maroko dan Lebanon, seperti tahini, halawat, rempah-rempah, kue Maroko, teh, kola Makkah, harissa, azahar, atau air mawar. (***)

No comments

Powered by Blogger.