Dirgantaraonline - Awal 1966, Jakarta bukan sekadar ibu kota ia adalah pusat kegelisahan nasional. Inflasi meroket hingga ratusan persen, harga kebutuhan pokok melambung, dan kepercayaan publik terhadap pemerintahan Soekarno mulai retak.
Pasca Gerakan 30 September 1965, situasi politik semakin tegang. Tuntutan untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia menggema di jalanan, namun Soekarno memilih sikap ambigu yang justru memperbesar kemarahan publik.
Di tengah kondisi itu, lahirlah gerakan mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia. Mereka membawa satu seruan yang kemudian dikenal sebagai Tritura:
- Bubarkan PKI
- Rombak kabinet
- Turunkan harga
24 Februari 1966: Demonstrasi yang Berubah Tragis
Hari itu, ribuan mahasiswa bergerak menuju Istana Merdeka. Mereka ingin menggagalkan pelantikan Kabinet Dwikora yang Disempurnakan kabinet yang dianggap terlalu besar dan sarat kepentingan politik.
Di antara massa, berdiri seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Arif Rahman Hakim.
Ia bukan pemimpin besar. Ia bukan tokoh politik. Tapi ia berada di garis depan.
Ketegangan meningkat ketika mahasiswa berhadapan langsung dengan pasukan pengawal presiden, Resimen Tjakrabirawa.
Awalnya hanya saling dorong. Lalu teriakan. Lalu kekacauan.
Dan kemudian tembakan.
Detik-Detik Tumbangnya Arif
Tembakan peringatan dilepaskan. Namun situasi sudah tak terkendali. Peluru berikutnya diarahkan ke massa.
Dalam kekacauan itu, Arif Rahman Hakim terkena tembakan.
Ia roboh di tengah kerumunan, dengan jaket kuning simbol mahasiswa yang kini berubah menjadi saksi bisu kekerasan negara terhadap rakyatnya sendiri.
Ia sempat dilarikan ke RSPAD, namun nyawanya tidak tertolong.
Hari itu, seorang mahasiswa gugur.
Namun esoknya, ia menjadi simbol.
Dari Kematian Menjadi Gelombang Perlawanan
Kematian Arif bukan sekadar tragedi—ia menjadi pemantik.
Pemakamannya berubah menjadi demonstrasi besar. Ribuan mahasiswa turun ke jalan. Jaket kuningnya diangkat tinggi sebagai lambang perlawanan.
Tekanan terhadap pemerintahan Soekarno semakin kuat. Demonstrasi meluas. Dukungan militer terhadap gerakan mahasiswa pun mulai terlihat—terutama dari pihak yang berada di bawah pengaruh Soeharto.
Menuju Supersemar: Awal Peralihan Kekuasaan
Kurang dari tiga minggu setelah peristiwa itu, lahirlah Surat Perintah Sebelas Maret.
Dokumen ini memberi kewenangan besar kepada Soeharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Dalam praktiknya, ini menjadi titik awal berakhirnya kekuasaan Soekarno dan lahirnya Orde Baru.
Namun penting dicatat:
Supersemar bukan hanya akibat satu kematian, melainkan hasil dari tekanan politik, krisis ekonomi, dan dinamika militer yang kompleks.
Arif Rahman Hakim: Simbol, Bukan Satu-Satunya Penyebab
Arif Rahman Hakim kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Ampera.
Ia menjadi wajah dari keberanian mahasiswa.
Ia menjadi simbol perlawanan generasi muda terhadap kekuasaan yang dianggap tidak lagi berpihak pada rakyat.
Namun sejarah yang jujur tidak menyederhanakan:
kejatuhan sebuah rezim tidak pernah disebabkan oleh satu peluru saja.
Ketika Sejarah Dibentuk oleh Banyak Tangan
Peristiwa 24 Februari 1966 adalah titik penting dalam sejarah Indonesia bukan karena ia menjatuhkan kekuasaan secara langsung, tetapi karena ia mempercepat gelombang perubahan yang sudah tak terbendung.
Dari jalanan Jakarta, dari suara mahasiswa, dari darah yang tumpah lahirlah babak baru dalam sejarah bangsa.
Dan di antara ribuan nama, satu nama tetap dikenang:
Arif Rahman Hakim.
(***)
#Tokoh #Sejarah #ArifRahmanHakim
