-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Iran Hantam Sistem Pertahanan AS Rp5 Triliun di Yordania, “Mata” Pertahanan Rudal Amerika di Timur Tengah Lumpuh

08 March 2026 | March 08, 2026 WIB Last Updated 2026-03-07T17:11:09Z

THAAD, pencegat rudal AS. Ralph Scott/Departemen Pertahanan AS



D'On, Yordania - IRAN dilaporkan berhasil menghancurkan radar AN/TPY-2 milik sistem pertahanan rudal THAAD Amerika Serikat di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania, dalam serangan pada awal perang. Nilai sistem tersebut diperkirakan mencapai US$300 juta atau sekitar Rp5 triliun.


Laporan yang dikutip Bloomberg menyebutkan, serangan ini menjadi salah satu pukulan paling serius terhadap infrastruktur pertahanan udara Amerika di kawasan Teluk.


Radar AN/TPY-2 merupakan komponen vital dari sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) yang berfungsi sebagai “mata” untuk mendeteksi dan mengarahkan pencegatan rudal balistik di ketinggian tinggi.


Seorang pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi kepada media bahwa radar tersebut memang mengalami kerusakan setelah serangan Iran, meski sebelumnya laporan awal menyebutkan serangan berhasil dicegat.


Analis militer dari Foundation for Defense of Democracies, Ryan Brobst, menyebut jika kehancuran radar tersebut benar-benar akibat serangan Iran, maka itu akan menjadi salah satu operasi militer Iran paling sukses dalam konflik ini.


“Jika serangan Iran terhadap radar THAAD ini berhasil, maka itu akan menjadi salah satu serangan paling berhasil yang pernah mereka lakukan terhadap sistem pertahanan AS,” ujarnya.


Celah Besar dalam Pertahanan Udara


Kerusakan radar AN/TPY-2 di Yordania menciptakan celah signifikan dalam jaringan pengawasan rudal Amerika di Timur Tengah. Tanpa radar tersebut, kemampuan sistem THAAD untuk melacak dan menghancurkan rudal balistik menjadi sangat terbatas.


Akibatnya, pertahanan udara kini lebih banyak bergantung pada sistem Patriot, khususnya rudal pencegat PAC-3 yang jumlahnya dilaporkan semakin menipis akibat intensitas konflik.


Situasi ini semakin rumit setelah sebelumnya radar peringatan dini AN/FPS-132 di Pangkalan Al Udeid, Qatar, juga mengalami kerusakan akibat serangan rudal Iran.


Serangkaian serangan tersebut dinilai sebagai strategi sistematis Iran untuk melumpuhkan jaringan sensor yang menjadi “mata dan telinga” sistem pertahanan rudal Amerika di kawasan Teluk.


Kerugian Militer AS Hampir Rp30 Triliun


Data yang dihimpun lembaga riset pertahanan menunjukkan bahwa kerugian militer Amerika Serikat sejak konflik meletus diperkirakan mendekati US$2 miliar atau sekitar Rp30 triliun.


Beberapa kerugian besar yang dilaporkan antara lain:

  • Radar peringatan dini AN/FPS-132 di Qatar senilai US$1,1 miliar rusak akibat serangan rudal Iran.
  • Tiga jet tempur F-15E Strike Eagle hancur dalam insiden tembakan salah sasaran pertahanan udara Kuwait, dengan nilai sekitar US$282 juta.
  • Terminal komunikasi satelit militer di Bahrain juga dihancurkan dalam serangan terhadap markas Armada Kelima AS.


Selain itu, Iran juga mengklaim telah merusak komponen radar THAAD lainnya di Uni Emirat Arab yang diperkirakan bernilai hingga US$500 juta.


Jika seluruh kerusakan tersebut digabungkan, aset militer Amerika yang rusak atau hancur di Timur Tengah mencapai sekitar US$1,9 miliar.


Ketegangan Memuncak


Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, Teheran membalas dengan menargetkan sedikitnya tujuh fasilitas militer Amerika di Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Kuwait, Irak, Qatar, dan Uni Emirat Arab.


Sementara itu, Washington kini mendorong industri pertahanan untuk mempercepat produksi senjata dan sistem pencegat, menyusul kekhawatiran bahwa persediaan rudal dan sistem pertahanan udara mulai menipis.


Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyatakan perusahaan pertahanan besar seperti Lockheed Martin dan RTX telah sepakat melipatgandakan produksi senjata kelas strategis guna memperkuat kesiapan militer AS.


Konflik yang terus memanas ini dikhawatirkan dapat memicu eskalasi besar di Timur Tengah, dengan risiko melibatkan lebih banyak negara dan memperluas medan perang di kawasan tersebut.


(T)


#Iran #Internasional 

×
Berita Terbaru Update