
Peta elongasi hilal BMKG (BMKG/BMKG)
D'On, Semarang — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi merilis prakiraan astronomi terkait penentuan awal bulan Syawal 1447 Hijriah. Data ini menjadi salah satu rujukan penting menjelang pelaksanaan rukyatul hilal untuk menentukan Hari Raya Idulfitri tahun ini.
Berdasarkan perhitungan BMKG, fase konjungsi atau ijtima yakni peristiwa ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada pada satu garis bujur ekliptika diprediksi terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23 WIB. Momen ini menandai berakhirnya bulan Ramadan secara astronomis dan menjadi titik awal perhitungan hilal.
Peluang Hilal Terbuka, Tapi Sangat Tipis
Karena waktu Matahari terbenam terjadi setelah konjungsi, maka secara teori peluang untuk mengamati hilal pada sore harinya terbuka. Namun, kondisi hilal diperkirakan masih sangat muda dan tipis, sehingga pengamatannya tidak mudah.
Di wilayah Semarang, Matahari diprediksi terbenam pada pukul 17.49 WIB, sementara Bulan menyusul terbenam sekitar 10 menit kemudian, yakni pukul 17.59 WIB. Rentang waktu yang singkat ini menjadi tantangan tersendiri bagi para perukyat.
Ketinggian hilal di Semarang tercatat sekitar 1 derajat 47,69 menit di atas ufuk dengan elongasi (jarak sudut antara Bulan dan Matahari) berkisar antara 5 derajat 34,83 menit hingga 5 derajat 34,91 menit. Angka ini menunjukkan bahwa posisi hilal masih sangat rendah dan dekat dengan cahaya Matahari.
Parameter Hilal di Jawa Tengah Relatif Seragam
BMKG juga mencatat bahwa parameter hilal di berbagai daerah di Jawa Tengah cenderung seragam.
- Di Wonogiri, tinggi hilal sekitar 1 derajat 43 menit
- Di Brebes mencapai sekitar 1 derajat 50 menit
Sementara untuk elongasi:
- Terendah di Blora sekitar 5 derajat 31 menit
- Tertinggi di Magelang sekitar 5 derajat 35 menit
Meski berada di atas ufuk, posisi hilal yang sangat rendah ini belum tentu memenuhi kriteria visibilitas yang umum digunakan, seperti kriteria MABIMS yang mensyaratkan tinggi minimal 3 derajat dan elongasi tertentu agar hilal bisa terlihat dengan lebih mudah.
Kecerlangan Sangat Rendah, Tantangan Utama Rukyat
Selain posisi yang rendah, faktor lain yang menjadi kendala adalah tingkat kecerlangan hilal. BMKG mencatat iluminasi Bulan hanya berkisar antara 0,19 hingga 0,20 persen. Angka ini tergolong sangat kecil, membuat hilal nyaris tak kasatmata tanpa bantuan alat optik canggih.
Kondisi ini berpotensi menyulitkan pengamatan visual, terutama jika cuaca kurang mendukung seperti adanya awan tipis atau kabut di horizon barat saat Matahari terbenam.
Rukyat Jadi Penentu Akhir
Untuk memastikan keberadaan hilal secara faktual, Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Kantor Wilayah di Jawa Tengah telah menyiapkan pelaksanaan rukyatul hilal di berbagai titik strategis.
Hasil rukyat ini nantinya akan dikombinasikan dengan data hisab (perhitungan astronomi) dalam sidang isbat yang digelar pemerintah. Keputusan resmi mengenai awal Syawal 1447 H akan ditentukan berdasarkan dua metode tersebut.
Penentuan Lebaran Menunggu Sidang Isbat
Dengan kondisi hilal yang masih sangat rendah dan redup, potensi perbedaan penetapan awal Syawal tetap terbuka, tergantung pada hasil rukyat di lapangan. Jika hilal tidak berhasil terlihat, maka besar kemungkinan bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari.
Masyarakat pun diimbau menunggu keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat yang akan diumumkan secara nasional sebagai penentu Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
Situasi ini kembali menegaskan bahwa penentuan awal bulan Hijriah bukan hanya soal perhitungan, tetapi juga observasi langsung yang dipengaruhi kondisi alam menjadikan momen menjelang Lebaran selalu dinanti dengan penuh dinamika dan harapan.
(B1)
#BMKG #HilalSyawal #Nasional