Diduga Dianiaya Senior, Pratu Farkhan Tewas di Papua, Keluarga Ungkap Kronologi, Laporkan ke Denpom, Minta Keadilan Ditegakkan

Keluarga Pratu Farkhan Sauqi Marpaung, anggota Pos Sanepa Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 133/JS di kediamannya, Desa Hessa Air Genting, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.
D'On, Papua - Duka mendalam menyelimuti keluarga Pratu Farkhan Sauqi Marpaung, prajurit TNI AD yang bertugas di wilayah rawan Papua. Anggota Pos Sanepa Satgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 133/JS itu diduga meninggal dunia akibat penganiayaan oleh seniornya sendiri, bukan karena sakit sebagaimana informasi awal yang diterima keluarga.
Peristiwa tragis tersebut diduga terjadi di Titik Kuat Sanepa, Pos Sanepa, Distrik Homeyo, Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah, wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi. Kabar kematian Pratu Farkhan pertama kali disampaikan pihak komandan satuan kepada keluarga dengan alasan meninggal karena sakit.
Namun, seiring berjalannya waktu, keluarga justru menerima informasi berbeda dari rekan-rekan korban di lokasi tugas. Informasi itulah yang kemudian memunculkan dugaan kuat bahwa Pratu Farkhan tewas setelah mengalami kekerasan fisik.
Kondisi Sakit, Diduga Tetap Dipaksa dan Dianiaya
Ayah korban, Jakaria Marpaung, mengungkapkan bahwa putranya saat itu sedang dalam kondisi sakit berat, mengalami meriang, menggigil, dan lemah. Bahkan, menurut keterangan yang diterima keluarga, Pratu Farkhan sempat disuruh beristirahat oleh Serda Muhammad Rizal karena kondisinya tidak memungkinkan untuk beraktivitas.
Namun situasi berubah drastis ketika seorang seniornya, Kopda Fitrah, diduga memanggil korban.
“Anak kami ini sedang sakit. Badannya menggigil dan meriang. Sudah disuruh istirahat. Tapi entah kenapa dipanggil oleh Kopda Fitrah. Di situlah terjadi pemukulan sampai anak kami pingsan dan kemudian dinyatakan meninggal dunia,” ungkap Jakaria dengan suara bergetar, Jumat (2/1/2026).
Keluarga mempertanyakan mengapa seorang prajurit yang sedang sakit tetap dipanggil dan diduga mengalami kekerasan, padahal kondisi fisiknya tidak memungkinkan.
Rencana Masa Depan yang Pupus
Kematian Pratu Farkhan meninggalkan luka yang semakin dalam karena korban diketahui memiliki rencana masa depan yang telah disusun matang. Dalam komunikasi terakhir dengan keluarga, ia menyampaikan niatnya untuk melamar kekasihnya di Kisaran, Sumatera Utara, setelah menyelesaikan tugas negara di Papua.
“Anak kami pernah menelepon. Katanya kalau sudah selesai tugas di Papua, dia mau melamar kekasihnya. Tapi rencana itu tinggal cerita,” ujar sang ayah dengan mata berkaca-kaca.
Hampir 5 Tahun Bertugas di Papua
Pratu Farkhan Sauqi Marpaung merupakan warga Desa Hessa Air Genting, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Ia telah menjalankan tugas di wilayah perbatasan Papua selama hampir lima tahun, mengabdikan diri di daerah dengan risiko tinggi.
Dalam satuan, ia menjabat sebagai tabak Pan 1 Pok Pan 2 Regu 3 Ton III Kipan B Yonif 133/JS. Keluarga menyebut almarhum dikenal sebagai sosok pendiam, patuh, dan jarang mengeluh selama menjalani penugasan.
Kecurigaan Menguat, Keluarga Lapor Denpom
Merasa ada kejanggalan serius, pihak keluarga akhirnya melaporkan dugaan penganiayaan tersebut ke Detasemen Polisi Militer (Denpom) Asahan. Mereka mendesak agar kasus ini diusut secara menyeluruh, transparan, dan tanpa ditutup-tutupi.
“Kami minta keadilan. Jangan ada yang ditutupi. Jika benar ada penganiayaan, pelaku harus dihukum seadil-adilnya sesuai hukum yang berlaku,” tegas Jakaria.
Keluarga juga menyinggung kasus serupa yang sebelumnya menimpa prajurit TNI lainnya, sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa kekerasan internal di lingkungan militer masih terus berulang.
“Belum kering tanah kuburan Prada Lucky, sekarang muncul lagi Pratu Farkhan. Ini jangan dianggap biasa,” ucap Jakaria dengan nada kecewa.
Jenazah Dipulangkan, Tangis Pecah di Kampung Halaman
Jenazah Pratu Farkhan Sauqi Marpaung telah diterbangkan dari Papua menuju Bandara Internasional Kualanamu, Medan, dan dijadwalkan tiba di rumah duka pada pukul 19.00 WIB. Suasana duka dipastikan menyelimuti keluarga dan warga di kampung halaman sebelum jenazah dimakamkan.
Kasus ini kini menjadi sorotan publik, khususnya terkait dugaan kekerasan oleh senior terhadap junior di tubuh institusi militer. Publik menanti langkah tegas aparat penegak hukum militer untuk mengungkap kebenaran dan menegakkan keadilan, demi menjaga marwah institusi dan menghormati nyawa prajurit yang gugur.
(B1)
#TNI #Militer #Penganiayaan