-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

China Eksekusi Mati 11 Anggota Klan Ming, Dalang Kekaisaran Penipuan Myanmar

29 January 2026 | January 29, 2026 WIB Last Updated 2026-01-29T10:08:55Z

Ilustrasi bendera Republik Rakyat China (AP/Mark Schiefelbein)



D'On, China - Pemerintah China mengeksekusi mati 11 anggota keluarga Ming, sebuah klan kriminal yang selama hampir satu dekade membangun kekaisaran penipuan dan perjudian lintas negara dari wilayah konflik di Myanmar utara. Eksekusi ini menjadi salah satu langkah hukum paling keras yang pernah diambil Beijing terhadap kejahatan terorganisasi lintas batas.


Vonis mati dijatuhkan oleh Pengadilan Rakyat di Provinsi Zhejiang setelah para terdakwa dinyatakan bersalah atas rangkaian kejahatan luar biasa: pembunuhan, penahanan ilegal, perdagangan manusia, penipuan daring skala besar, hingga pengoperasian kasino ilegal. Putusan tersebut dijatuhkan pada September tahun lalu dan berkekuatan hukum tetap setelah Mahkamah Agung Rakyat China menolak seluruh upaya banding pada November.


Media pemerintah China menegaskan, eksekusi ini merupakan bagian dari penegakan hukum tanpa kompromi terhadap sindikat kriminal yang merugikan negara, menghancurkan kehidupan warga, dan merusak stabilitas kawasan perbatasan.


Kekaisaran Kriminal di Tanah Tanpa Hukum


Selama bertahun-tahun, klan Ming dikenal sebagai penguasa bayangan Laukkaing, sebuah kota kecil di Myanmar utara yang berbatasan langsung dengan China. Di bawah kendali mereka, Laukkaing berubah dari daerah tertinggal menjadi pusat kasino, hiburan malam, dan kompleks penipuan daring berskala internasional.


Wilayah itu pada praktiknya beroperasi seperti negara dalam negara. Aparat lokal tak berdaya, hukum nyaris tak berlaku, dan kekuasaan dipegang oleh uang, senjata, serta jaringan kriminal lintas negara.


Pengadilan China mengungkap, jaringan yang dijalankan keluarga Ming menghasilkan lebih dari 10 miliar yuan sekitar 1,4 miliar dolar AS dalam periode 2015 hingga 2023. Uang itu mengalir dari perjudian ilegal dan penipuan daring yang menargetkan korban dari China, Asia Tenggara, hingga negara-negara Barat.


Korban Jiwa dan Perdagangan Manusia


Di balik angka fantastis itu, tersimpan tragedi kemanusiaan. Aktivitas kriminal klan Ming disebut menyebabkan 14 warga negara China tewas, serta melukai dan menghancurkan hidup banyak korban lainnya.


Ribuan warga China dilaporkan dijebak dengan tawaran pekerjaan bergaji tinggi, lalu diselundupkan ke Myanmar. Setibanya di sana, mereka diperdagangkan, disekap, disiksa, dan dipaksa menjalankan penipuan daring di bawah ancaman kekerasan. Siapa pun yang melawan atau gagal mencapai target kerap mengalami penyiksaan brutal.

Kasus-kasus ini memicu kemarahan besar di dalam negeri China, terutama di media sosial, dan menciptakan tekanan publik yang masif agar pemerintah bertindak lebih keras.


Kejatuhan Klan Ming


Kekuasaan keluarga Ming akhirnya runtuh pada 2023, bukan semata karena tekanan hukum, melainkan akibat pergeseran peta kekuatan dalam perang saudara Myanmar. Ketika konflik antara junta militer dan kelompok milisi etnis memuncak, Laukkaing jatuh ke tangan milisi.


Para anggota klan Ming ditangkap oleh kelompok bersenjata tersebut dan kemudian diserahkan kepada otoritas China, membuka jalan bagi proses hukum yang selama ini sulit dilakukan karena keterbatasan yurisdiksi.


Beijing sebelumnya berulang kali mendesak Myanmar untuk membersihkan wilayah perbatasan dari sindikat kriminal. Namun, baru setelah perubahan dinamika konflik, kekaisaran penipuan itu benar-benar tumbang.


Sinyal Keras dari Beijing


Eksekusi mati terhadap 11 anggota klan Ming menjadi pesan keras China kepada jaringan kriminal lintas negara: tidak ada tempat aman, bahkan di wilayah konflik sekalipun.


Langkah ini juga menandai fase baru dalam strategi Beijing tidak hanya menekan kejahatan di dalam negeri, tetapi juga mengejar aktor kriminal hingga ke luar batas teritorial melalui kerja sama politik, hukum, dan momentum geopolitik.


Bagi banyak keluarga korban, eksekusi ini mungkin tak sepenuhnya menghapus luka. Namun bagi China, ini adalah pernyataan tegas: era kekebalan bagi sindikat penipuan di perbatasan telah berakhir.


(BBC)


#Internasional #China

×
Berita Terbaru Update