Malam Mencekam di Indekos: Istri dan Anak Polisi Dibunuh Secara Sadis, Satu Korban Selamat dalam Kondisi Kritis

Kasus pembunuhan keluarga polisi di Nganjuk
D'On, Nganjuk - Suasana malam di sebuah gang kecil kawasan Jalan Monginsidi, Kelurahan Payaman, Nganjuk, Selasa (25/11) berubah menjadi panggung kepanikan. Sekitar pukul 00.30 WIB, teriakan dan suara gaduh menyusup di antara deretan bangunan indekos yang berdempetan. Warga berhamburan keluar, sebagian masih mengenakan pakaian tidur, mencari sumber kekacauan yang tiba-tiba menyayat ketenangan itu.
Di salah satu kamar indekos yang cat dindingnya mulai memudar, kepulan asap tipis mengambang di udara, disusul bau plastik terbakar yang menusuk. Ketika warga mencoba mendekat, mereka menemukan pemandangan yang membuat tubuh lunglai: tiga penghuni kamar itu tergeletak bersimbah luka. Dua di antaranya tak lagi bergerak.
“Setengah satu malam terdengar ramai-ramai… orang-orang lari ke sana-ke sini,” ujar Supinah, seorang warga, dengan suara yang masih bergetar ketika menceritakan ulang kejadian yang ia saksikan dari dekat.
Dari indentifikasi polisi, para korban adalah EN (41) dan dua anaknya, EJ (22) serta ED (18). Ketiganya merupakan warga Desa Muneng, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri. EN dikenal sebagai istri seorang anggota Polsek Kertosono, Aipda Iswandi.
Pisau Dapur, Luka Tusuk, dan Upaya Pembakaran
Hasil olah TKP menunjukkan bahwa pelaku masuk ke kamar indekos korban dan menyerang mereka menggunakan pisau dapur. Luka tusuk ditemukan di beberapa bagian tubuh EN dan EJ, cukup dalam hingga menyebabkan keduanya meninggal di tempat.
ED, anak kedua korban, ditemukan dalam kondisi kritis. Tubuhnya berlumur darah, tetapi masih memiliki denyut hidup yang tipis. Ia segera dievakuasi ke RS Bhayangkara Nganjuk dan kini menjalani perawatan intensif.
Tak berhenti di situ, pelaku juga diduga berusaha menghilangkan jejak dengan membakar ruangan indekos. Sejumlah barang tampak hangus sebagian, sementara dinding kamar dipenuhi jelaga hitam yang menjadi saksi bisu keganasan malam itu.
Pelaku Ditangkap di Rumahnya: Tanpa Perlawanan, Tanpa Penyangkalan
Identitas pelaku terungkap cepat. Ia adalah DS (30), warga Desa Jogomerto, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk. Setelah proses penyelidikan yang berlangsung padat dan cepat, polisi mengamankan DS di rumahnya sendiri, beberapa jam setelah kejadian.
“Begitu informasi kami terima, tim langsung bergerak melakukan penyelidikan. Alhamdulillah, dalam waktu singkat terduga pelaku berhasil diamankan,” terang Kapolres Nganjuk AKBP Henri Noveri Santoso.
Kasat Reskrim Polres Nganjuk AKP Sukaca menambahkan, DS ditangkap tanpa perlawanan berarti. Wajahnya datar ketika digelandang petugas, seakan kejadian berdarah yang mengguncang warga Payaman bukan bagian dari dirinya.
Motif Awal: Benang Sakit Hati yang Masih Kusut
Polisi masih menelusuri hubungan antara pelaku dan keluarga korban. Namun, dari keterangan awal, dugaan paling kuat mengarah pada motif sakit hati.
“Motif yang kami peroleh sementara mengarah pada rasa sakit hati. Tim masih mendalami hubungan keduanya, memeriksa saksi-saksi, dan mengumpulkan bukti tambahan,” jelas Sukaca.
Hingga kini, belum diungkapkan apakah konflik itu bersifat personal, ekonomi, atau berkaitan dengan hubungan tertentu yang lebih sensitif. Polisi masih menunggu kondisi ED membaik untuk memberikan keterangan.
TKP Dikunci, Warga Masih Trauma
Ruangan indekos kini tertutup garis polisi. Pintu kamar yang gosong separuh itu menjadi perhatian warga yang terus berdatangan, sebagian hanya berani melihat dari kejauhan. Bau asap masih menggantung tipis, seperti aroma sisa tragedi yang enggan pergi.
Di sudut gang, beberapa warga masih membicarakan peristiwa itu dengan suara pelan. Anak-anak dilarang mendekat, dan penghuni indekos lain memilih tidur di rumah kerabat untuk sementara.
Korban Selamat Masih Berjuang di RS
ED, satu-satunya korban yang selamat, masih menjalani penanganan intensif. Tim medis RS Bhayangkara Nganjuk terus memantau kondisinya.
“Korban selamat saat ini dalam penanganan intensif tenaga medis,” ujar Sukaca singkat.
Menurut pihak rumah sakit, luka yang dialami ED cukup serius, namun peluangnya untuk pulih tetap terbuka.
Kasus Menggema di Media Sosial
Tak butuh waktu lama, foto-foto lokasi kejadian dan potongan kronologi menyebar cepat di media sosial. Warga Nganjuk hingga Kediri memenuhi lini masa dengan ungkapan duka, kaget, dan amarah. Polisi mengimbau masyarakat tidak menyebarkan foto jenazah dan konten sensitif lainnya.
(L6)
#Pembunuhan #Kriminal