Breaking News

Banjir–Longsor Kepung Sumatera, Pemerintah Telusuri Jejak Kerusakan Lahan dan Hutan

Bencana alam yang terjadi di Sumatera Utara. Foto: ANTARA/HO-Pusdalops Sumut

D'On, Jakarta
- Serangkaian bencana hidrometeorologi kembali menguji ketahanan Sumatera. Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Aceh dilanda banjir dan longsor yang menghancurkan permukiman, memutus akses jalan, serta menelan korban jiwa. Dalam sejumlah video yang beredar, aliran air tampak membadai di antara rumah warga, menyeret potongan kayu besar bahkan kendaraan seakan memperlihatkan betapa rapuhnya bantaran dan tutupan lahan di wilayah itu.

BMKG menyebut Siklon Tropis Senyar sebagai pemicu utama cuaca ekstrem yang memecah langit Sumatera dalam dua hari terakhir. Namun, publik menilai ada persoalan yang lebih mendalam dari sekadar faktor atmosfer: kondisi hulu yang kian rentan akibat alih fungsi lahan dan degradasi hutan.

Fokus Awal: Selamatkan Warga, Atasi Dampak Darurat

Menteri Koordinator PMK Pratikno menegaskan bahwa pemerintah saat ini memusatkan tenaga untuk menyelamatkan warga terdampak serta memulihkan wilayah yang lumpuh. Status tanggap darurat telah ditetapkan, menjadi payung untuk percepatan operasi kemanusiaan.

“Kita fokus ke tanggap darurat. Setelah itu baru masuk ke tahap pemulihan. Seperti saat menangani banjir Jabodetabek, kita akan menyisir masalah sampai ke hulu,” jelas Pratikno usai rapat terbatas di kantor BNPB, Kamis (27/11).

Lahan dan Hutan Akan Diinvestigasi Menyeluruh

Pratikno menegaskan, setelah fase kritis berlalu, pemerintah akan melakukan penelusuran mendetail terkait penggunaan lahan, kondisi hutan, dan tata air hulu—faktor yang kerap menjadi akar persoalan banjir di berbagai daerah.

“Ketika banjir melanda Jabodetabek, kita menelusuri sampai ke hulu: penggunaan lahan, kondisi hutan, hingga normalisasi situ dan waduk. Hal yang sama akan dilakukan di Sumatera,” katanya.

Pemerintah, melalui Kementerian PUPR, juga akan mengkaji ulang kapasitas waduk retensi, situ, dan aliran sungai, memastikan apakah infrastruktur penahan banjir bekerja sebagaimana mestinya atau justru membutuhkan rekonstruksi besar-besaran.

Akses Terputus, Bantuan Udara Jadi Opsi Utama

Sejumlah wilayah di Sumut dan Sumbar kini terisolasi akibat jalan nasional yang terputus oleh longsor dan jembatan yang hanyut diterjang arus. Kondisi ini membuat pengiriman bantuan logistik melalui jalur darat nyaris mustahil.

“Mengingat banyaknya akses jalan yang terputus, kami bersama Kepala BNPB yang saat ini berada di Tarutung, menyiapkan opsi penyaluran bantuan lewat udara. Tidak mungkin kita menunggu perbaikan infrastruktur selesai sementara warga membutuhkan bantuan segera,” ujar Pratikno.

Helikopter BNPB serta armada udara TNI akan dikerahkan untuk menjangkau titik-titik terisolasi, memastikan kebutuhan mendesak dari pangan, selimut, hingga obat-obatan mendarat tepat di tangan warga yang membutuhkan.

Tantangan di Tengah Krisis Lingkungan

Bencana kali ini menjadi alarm keras bahwa perubahan iklim dan kerusakan alam bukan lagi isu teoritis. Ketika hujan ekstrem turun, tanah yang kehilangan daya serapnya berubah menjadi lorong-lorong air liar. Sungai dangkal tak mampu lagi menyalurkan debit besar, sementara hutan yang terkikis tak lagi menahan laju longsor.

Pemerintah menegaskan bahwa penanganan pascabencana tidak boleh berhenti pada rekonstruksi fisik, tetapi juga menyentuh perbaikan ekosistem hulu yang selama ini diabaikan.

(K)

#BencanaAlamPulauSumatera #Banjir #Longsor