Mengenal Iskandar Jamaludin yang Mengaku Raja Angling Dharma

D'On, Pandeglang (Banten),- Seorang pria bernama Iskandar Jamaludin Firdaus (70) asal Kampung Salangsari, Desa Pandat, Kecamatan Mandalawangi, Pandeglang, Banten, menarik perhatian publik.

Sebab pria paruh baya itu menasbihkan dirinya sebagai raja di kerajaan Angling Dharma. Para pengikutnya dan warga sekitar menyebut sang raja sebagai Baginda Sultan.


Hal itu karena Iskandar Jamaludin disebut-sebut memiliki ikatan keluarga dengan Kesultanan Banten.

Iskandar Jamaludin dikenal sebagai sosok yang dermawan kerap membantu anak yatim, janda dan warga miskin yang ada di sejumlah Kecamatan di Pandeglang. Bahkan, dia juga menginisiasi proyek bedah rumah.

"Pembangunan bedah rumah sudah sejak 2017 kurang lebih hampir 35 rumah yang sudah dibangun," kata Aki Jamil, pengikut Iskandar, saat dihubungi, Rabu (22/9)

Bukan saja pembangunan rumah yang ia lakukan, melainkan terdapat empat pesantren yang sudah didirikan. Salah satunya pondok pesantren Ar-Riyadoh.

"Baginda itu hanya memberikan fasilitas saja. Karena, nanti juga ada yang mengelolanya. Sudah ada empat pondok pesantren yang di bangun. Kalau pembangunan sudah dilakukan sejak tahun 1993," jelas Jamil.

Menurut Jamil, pembangunan rumah warga miskin bersumber dari dana pribadi dan sumbangan dari anak muridnya yang sudah lulus dari sejumlah pesantren miliknya itu. Sehingga saat Iskandar butuh dana untuk pembangunan rumah warga miskin pasti ada murid yang menyumbang.

Belum lama ini, Iskandar juga melakukan serah terima kunci rumah kepada warga di Desa Surakarta, Kecamatan Pagelaran, Pandeglang.

"Karena murid baginda banyak jadi terkoneksi. Ada harta dari muridnya, kalau baginda sudah butuh, itu (Dana) selalu ada," tutupnya.

Sementara Juru Bicara Iskandar, ustaz Ali menjelaskan, keseharian baginda seperti kiai . Tidak usaha, namun memiliki banyak murid. Sebab setiap minggu di tempat dia tinggal selalu menggelar zikiran.

Selain zikir baginda juga membina kesenian silat Cimande. Karena dulu, baginda merupakan seorang santri di Pandeglang.

"Keseharian mah begitu seperti kita, setiap Minggu zikir, terus suka latihan kesenian Cimande juga di sini," jelasnya.

Dia menyebut bahwa yang ramai diperbincangkan soal kerajaan multitafsir. Karena tempat tinggal Iskandar lebih seperti padepokan. Namun gaya berpakaian Iskandar dari dulu suka nyeleneh.

"Itu mah sebetulnya padepokan saja. Cuma memang gaya berpakaian baginda seperti itu (Nyeleneh) seperti Wan Sehan. Kadang suka berpakaian seperti Soekarno, kadang berpakaian kayak raja. Dari dulu memang berpakaiannya seperti itu sebagai ciri saja," tutupnya.


(kumparan)

Powered by Blogger.