Oknum Guru SMA Pimpin Preman Kampung Palak Pengguna Jalan dan Aniaya Seorang Kakek

D'On, Kefamenanu (NTT),- LB (26), seorang oknum guru yang mengajar di SMA Negeri 1 Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memimpin segerombolan preman kampung untuk memalak para pengguna jalan yang melewati ruas jalan desa di Desa Biloe, Kecamatan Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), 31 Desember 2020 lalu.

Warga yang menolak dipalak uang oleh gerombolan preman pimpinan oknum guru SMA, disuruh balik. Jika melawan dihajar oleh kelompok preman tersebut.


Mereka memalak dengan tarif bervariasi, mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 20.000 per kendaraan. Sepeda motor dikenakan tarif Rp5.000 dan mobil Rp20.000.

Uang hasil palak itu dipakai sebagai modal untuk membeli miras dalam pesta detik-detik menyambut
tahun baru 2021 di desa tersebut.

Kapolsek Lurasik Iptu Marchal Ribeiro, S.H, yang dikonfirmasi per telepon, Sabtu (02/01/2021) malam membenarkan adanya peristiwa tersebut. Namun ia menolak menjelaskan kronologi pengeroyokan tersebut.

“Cuma salah paham biasa. Jadi dari media tidak perlu telpon – telpon saya, jangan tambah – tambah bumbu, saya tidak suka. Silahkan tanya saja ke Kasatreskrim Polres TTU di Kefamenanu, karena tadi pak Kasat sudah menghubungi saya’ jawabnya dengan nada tidak bersahabat lalu mematikan telepon genggamnya. Ketika ditelepon ulang, ia tidak merespon.

Kasie Humas Polsek Lurasik, Bripka Yosua S. Atacay, yang dihubungi membenarkan adanya peristiwa itu. Namun menolak menjelaskan secara rinci. Ia meminta wartawan mengkonfirmasi langsung ke Kapolsek Lurasik. Ia beralasan tidak punya wewenang jika belum diizinkan Kapolsek.

“Iya benar. Bapak saya dikeroyok dan dihajar pakai batu dan kayu. Bapak sampai pingsan dan sempat dirawat di Puskesmas Lurasik. Kepalanya bocor dan mendapat belasan jahitan,” jelas Pace Amsikan, salah satu anak korban.

Hari Kamis 31 Desember 2020, sekitar pukul 15.00 Wita sore, Oskar dan Retno, dua orang pemuda asal Desa Taunbaen, Kecamatan Biboki Utara, berboncengan sepeda motor melewati ruas jalan desa di Desa Biloe.

Kedua pemuda ini dihadang dan diperintahkan membayar ‘retribusi akhir tahun’. Alasannya, untuk modal beli miras dalam pesta anak muda menutup tahun 2020 dan menyambut detik-detik tahun baru 2021. Karena menolak membayar, kedua pemuda ini dihajar. Lalu disuruh balik kembali.

Karena kesal, dua pemuda ini mengadu kepada keluarganya. Lalu bersama keluarganya menuju ke TKP untuk membicarakan secara baik-baik kesalahpahaman tersebut.

Dua pemuda itu balik ke TKP didampingi Kakek Lukas Man, Frans Amsikan, Mathias Bessie, Yosep Amleni dan Jerry Bessie serta Pace Amsikan.

Di TKP, terjadi perang mulut. Lalu oknum guru berinisial LB mencoba memukul Pace Amsikan. Namun dilerai oleh Kakek Lukas Man. Karena emosi, guru LB memukul kepala Kakek Lukas Man dengan batu dan kayu hingga jatuh pingsan. Kemudian guru LB melarikan diri. Kini guru LB masih buron dan dicari polisi untuk ditangkap dan diproses hukum.

Korban dibawa keluarganya ke Puskesmas Lurasik untuk mendapat perawatan medis dan membuatkan visumnya.

“Saya lalu ke Polsek Lurasik mengadukan kasus ini. Laporan saya diterima oleh Banit Reskrim Polsek Lurasik bernama Briptu Ova Baria. Pelaku kini sedang dikejar polisi karena melarikan diri,” pungkas Pace Amsikan.

(Rbt)

Powered by Blogger.